JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan sikap politiknya yang enggan terikat pada naskah pidato formal dalam berbagai agenda kenegaraan maupun politik. Dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026), Presiden secara terbuka mengakui bahwa keputusannya untuk tidak menggunakan teks kerap menuai kritik tajam dari para penasihat, pakar politik, hingga ahli komunikasi.
Prabowo mengungkapkan bahwa kalangan elite dan para pakar sering kali menuntutnya agar berpidato dengan cara yang lebih halus serta terstruktur melalui naskah yang telah disiapkan. Namun, ia memilih untuk tetap pada gayanya sendiri yang apa adanya. Menurutnya, pendekatan tersebut merupakan cerminan dari kedekatannya dengan masyarakat yang ia klaim lebih ia pahami dibandingkan orang lain, terutama karena latar belakangnya sebagai mantan pemimpin prajurit yang dekat dengan rakyat kecil.
Dalam orasinya, Presiden menolak anggapan bahwa seorang kepala negara harus selalu tampil dengan bahasa yang kaku atau formalistik. Ia meyakini bahwa audiens, khususnya pendukung di tingkat akar rumput, justru lebih merespons positif gaya bicaranya yang spontan dan otentik. Ia bahkan menyebut bahwa ketidaksukaan terhadap gaya pidatonya ini hanya muncul dari segelintir elite yang dianggapnya terlalu terobsesi dengan tata krama komunikasi politik konvensional.
Meski menyadari bahwa sikapnya tersebut berpotensi memicu kontroversi di kalangan pengamat dan media, Presiden bersikeras bahwa ia tidak akan mengubah prinsip komunikasinya. Ia mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa pidato tanpa teks adalah bentuk kedekatan emosional yang ia bangun untuk memastikan pesan-pesan perjuangan, termasuk nilai-nilai yang dibawa oleh partai politik pendukungnya, tersampaikan langsung ke hati rakyat tanpa filter birokrasi kata-kata. (*)








































