slot preparation.lsrs.lu

Hercules Rosario Marshall Terseret Kasus Suap HGB di Kementerian ATR/BPN, KPK Sita Rp 800 Juta

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:28 WIB

50154 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Babak baru pengusutan kasus suap pengurusan izin Hak Guna Bangunan di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional memasuki fase serius setelah Ketua Umum Grib Jaya, Hercules Rosario Marshall, ikut terseret dalam pusaran kasus tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Komisi Pemberantasan Korupsi menyita barang bukti uang tunai senilai Rp 800 juta dari Hercules. Penyitaan dilakukan setelah penyidik menerima penyerahan uang tersebut melalui kuasa hukum Hercules berinisial NMB di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi penyitaan tersebut. “Hari ini, Kamis, 15 Oktober, penyidik melakukan penyitaan barang bukti dalam bentuk uang tunai senilai Rp800 juta dari NMB selaku kuasa hukum dari HRM,” ujar Budi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus ini bermula dari praktik suap yang melibatkan pengembang properti PT Summarecon Agung Tbk. Penyidik menduga Hercules menerima aliran dana Rp 800 juta dari perusahaan tersebut terkait pengelolaan lahan di wilayah Kabupaten Bogor. Summarecon disebut meminta pembukaan blokir sekaligus pengurusan sertifikat HGB yang berujung pada praktik penyuapan kepada oknum di lingkungan Kementerian ATR/BPN.

Langkah penyitaan ini merupakan pengembangan dari operasi tangkap tangan KPK di wilayah Jabodetabek pada Senin, 14 September 2026 lalu. Dalam OTT tersebut, tim KPK mengamankan 19 orang dan menyita barang bukti uang tunai dari berbagai pecahan senilai total Rp 106,3 miliar, sebelum akhirnya menetapkan delapan orang sebagai tersangka.

Delapan tersangka tersebut antara lain Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN Lampri, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung, Direktur Utama Summarecon Adrianto Pitojo Adi, perantara swasta Rizal Pahlevi, serta empat pihak swasta yang disebut sebagai orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, yaitu Arif Sugiyanto, Fahd El Fouz alias Fahd Arafiq, Erwin, dan Muhammad Fakhry.

Konstruksi perkaranya bermula saat pihak Summarecon mengajukan perpanjangan atau pemecahan HGB menjadi Sertifikat Hak Milik atas lahan yang masih bersengketa dengan ahli waris di Kabupaten Bogor. Para ahli waris yang sempat menggugat sembilan SHGB perusahaan ke PTUN Bandung kemudian mencabut gugatan dan mengajukan pemblokiran sertifikat di Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor. Untuk membuka blokir itu, Sontang melalui Erwin meminta komisi Rp 2 miliar, yang kemudian disepakati Rp 1,5 miliar.

Setelah dana diserahkan pada 27 Agustus 2026, sebagian uang senilai Rp 200 juta diserahkan Erwin kepada Sontang di sebuah kafe kawasan Jakarta Selatan.

KPK menilai penyerahan uang oleh kuasa hukum Hercules sebagai bentuk kooperatif. Namun, di balik narasi itikad baik tersebut, publik justru melihat betapa dalamnya kebusukan mafia tanah yang melibatkan jejaring kekuasaan, pengusaha besar, hingga organisasi massa.

Jika seorang tokoh seperti Hercules yang memiliki pengaruh besar diduga menerima aliran dana dalam kasus mafia tanah ini, maka patut dipertanyakan sejauh mana praktik jual beli lahan dan perizinan di Kementerian ATR/BPN telah dikendalikan oleh jejaring di luar struktur resmi.

Kasus ini bukan sekadar soal Rp 800 juta, melainkan soal rusaknya keadilan agraria. Di saat rakyat kecil harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan kepastian sertifikat tanahnya, korporasi besar diduga bisa membuka blokir dan mengurus HGB dengan uang pelicin yang mengalir hingga ke pihak-pihak yang memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan. (*)

Berita Terkait

Lima Tersangka Korupsi Proyek Jalan Rp7,6 Miliar di Simeulue Diserahkan ke Kejaksaan, Kerugian Negara Rp851 Juta
Mantan Direktur Bumdesma Pintu Rime Gayo Divonis 5,5 Tahun, Dana Desa 23 Kampung Raib untuk Proyek SPBU
Adik Jenderal Bintang Tiga Tak Kebal Hukum: Mantan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Resmi Ditahan Kasus Pungli PBG dan TPPU
Jadi Tersangka Korupsi CSR BI Rp 28 Miliar Tak Ditahan, Dua Anggota DPR Malah Melenggang Lagi ke Senayan
Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana KONI dan Aset PON XXI Aceh Menguak Borok Tata Kelola Rp 165 Miliar
Lingkaran Setan Politik Berbiaya Tinggi: Saat Jabatan Publik Jadi Mesin Pelunasan Utang
Runtuhnya Integritas Kepala Daerah: Pemecatan Bupati Gowa dan Penangkapan Bupati Klaten oleh KPK
Hercules Akui Terima Rp800 Juta dari Pengacara Summarecon, Berdalih Hati Nurani Saat Serahkan ke KPK

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 13:04 WIB

DPC dan 10 PAC PPP Nagan Raya Nyatakan Sikap, Serukan Persatuan dan Kekompakan Kader

Kamis, 5 November 2026 - 17:31 WIB

Festival Santri Dayah MUQ Nagan Raya Jadi Ajang Unjuk Bakat, Siswa MIN 3 Raih Tiga Penghargaan

Kamis, 5 November 2026 - 11:29 WIB

Wagub Aceh Sampaikan Duka Mendalam atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Rabu, 4 November 2026 - 10:11 WIB

LSM ABA Dukung Kapolri Usut Tuntas Dugaan Penyadapan Presiden, Suryadi: Jangan Ada yang Kebal Hukum!

Rabu, 4 November 2026 - 10:00 WIB

Pererat Kemitraan dengan Forkopimda dan Lintas Sektor, PWI Nagan Raya Gelar Makan Siang Bersama

Senin, 2 November 2026 - 13:26 WIB

Kapolres Nagan Raya Berikan Penghargaan kepada 63 Personel Berprestasi, Apresiasi Dedikasi dan Kinerja dalam Pelaksanaan Tugas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 02:20 WIB

Jamaluddin Idham Raih Penghargaan JAB Award 2026 sebagai Wakil Rakyat Responsif dan Aspiratif

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:33 WIB

Dekat dengan Masyarakat, Brimob Kompi 2 Batalyon C Pelopor Tebar Kebaikan di Nagan Raya

Berita Terbaru