JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Indonesia sepanjang 2026 menjadi sorotan internasional. Luas lahan yang terbakar di Pulau Sumatera dan Kalimantan dilaporkan mencapai lebih dari empat kali luas wilayah Tokyo.
Berdasarkan laporan media Jepang pada Jumat, 16 Oktober 2026, sekitar 900.000 hektare lahan atau setara dengan 9.000 kilometer persegi hangus terbakar dalam periode Januari hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut digambarkan sebagai salah satu yang terburuk dalam satu dekade terakhir.
Kebakaran diduga dipicu oleh kombinasi praktik pembukaan lahan secara ilegal dan kondisi kekeringan yang berkepanjangan. Fenomena El Nino yang kuat disebut memperparah situasi karena menunda datangnya musim hujan, sehingga menyulitkan upaya pemadaman.
Dampak kebakaran tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga keberlangsungan satwa liar. Satwa endemik yang terancam punah, seperti orangutan di Kalimantan dan Sumatera, dilaporkan turut terdampak akibat kehilangan habitat.
Di sisi lain, dampak kesehatan akibat kabut asap semakin meluas. Kementerian Kesehatan mencatat, jumlah pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap telah melampaui 280.000 orang hingga pertengahan Oktober.
Kabut asap bahkan telah menyeberang batas negara. Singapura dan Malaysia dilaporkan mengalami penurunan kualitas udara selama beberapa hari, dengan langit tampak berkabut pekat akibat kiriman asap dari Indonesia.
Pemerintah Indonesia disebut telah mengerahkan sekitar 70.000 personel gabungan untuk menangani kebakaran di sejumlah titik. Namun, upaya pemadaman masih menghadapi tantangan berat di lapangan akibat cuaca kering dan luasnya area yang terbakar, sehingga kekhawatiran akan meluasnya kebakaran masih membayangi. (*)








































