HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

BBM Kurang Atau Banyak Kendaraan Baru Hingga Harus Membeli Pertalit Hitam

J.PORANG

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:42 WIB

50325 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARANEWSACEH. GAYO LUES – Matahari diduga bersekongkol dengan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Mobil -Mibil berderet silih bergantian, mesin-mesin yang panas, dan wajah-wajah yang lelah semuanya menyatu dalam sebuah ritual harian yang melukai martabat ekonomi masyarakat.

BBM dipasok, tangki-tangki SPBU terisi, namun nyatanya, energi itu seolah menguap sebelum sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan. Di tengah kelimpahan distribusi yang digadang-gadang pemerintah, masyarakat justru terjerembab ke dalam kelangkaan yang dibuat-buat, memaksa mereka membeli di pengecer gelap dengan harga yang melambung tak masuk akal, berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter. Sabtu. (18 Juli 2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan sekadar persoalan teknis distribusi, melainkan sebuah sandiwara birokrasi yang memuakkan. Di balik barisan kendaraan yang mengular, terselip modus operandi yang terorganisir dengan rapi.

Sistem “barcode” yang digadang-gadang sebagai perisai dari kebocoran, justru berubah menjadi sekadar kertas formalitas yang mudah dimanipulasi oleh tangan-tangan lincah. Ada indikasi kuat bahwa antrean ini dihuni oleh pemain lama dan “pemain dadakan” yang lahir dari celah peraturan pajak baru, yang dengan lihai menggunakan barcode berulang demi menimbun stok untuk dijual kembali dengan harga mencekik. Mereka memancing di air keruh, sementara aparat dan pengelola SPBU seolah memejamkan mata, membiarkan hukum rimba berlaku di tengah antrean yang tak kunjung usai.

Dipertanyakan seberapa jauh si perjalan kendaraan di kabupaten Gayo Lues sehingga pengatri seolah tidak berkeputusan bagai hanya 2 liter yang mereka dapatkan tiap mobilnya, maka harus berkali-kali antrian panjang menguras tenaganya.

Dalam jurnalisme yang beretika, kita diajarkan untuk berdiri di atas kepentingan publik. Namun, melihat apa yang terjadi di Gayo Lues, pertanyaannya bukan lagi tentang ketersediaan stok, melainkan tentang keberpihakan. Ketika seorang ibu rumah tangga harus memilih antara memutar tuas gas untuk menanak nasi atau mengisi tangki motornya agar anak-anaknya bisa sekolah, di situlah letak kegagalan negara yang paling telanjang. Ibu itu, yang rela mengantre hingga malam hanya untuk empat liter Pertalite, adalah potret dari “penderitaan diam” yang dipaksakan. Saat ia berkata bahwa harga bensin eceran setara dengan lauk pauk makan malam keluarganya, itu adalah tamparan keras bagi mereka yang duduk di kursi empuk pengambil kebijakan.

Kondisi ini adalah cerminan dari tata kelola yang rapuh. Alibi tentang “peraturan pajak baru” hanyalah tameng untuk menutupi ketidakmampuan pengawasan di lapangan.

Mengapa pengecer gelap bisa menjamur sementara warga kesulitan mendapatkan akses legal? Mengapa pengawasan terhadap penggunaan barcode yang disinyalir ganda masih sangat lemah? Jika ini dibiarkan, Gayo Lues sedang menuju krisis kepercayaan yang lebih dalam.

Jurnalisme tidak bisa hanya mencatat angka penjualan atau jumlah pasokan yang masuk; ia harus mampu membongkar relasi kuasa yang membuat minyak subsidi menjadi komoditas “emas” di tangan oknum, sementara rakyat dipaksa mengais remah-remah kebijakan. Sudah saatnya aparat penegak hukum dan pemerintah daerah tidak lagi berpura-pura tidak tahu, karena di setiap liter bensin yang dijual mahal oleh pengecer gelap, ada hak-hak masyarakat yang sedang dirampas secara sistematis. (*)

Berita Terkait

Polda Kalteng Usut 12 Perusahaan Terkait Karhutla, Satu Korporasi Jadi Tersangka
Mobil Minibus Hangus Terbakar di Gayo Lues, Petugas Damkar Berjibaku Padamkan Api dan Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat
Pembangunan 5 unit RTLH Program TMMD ke-130 Berlanjut
LPG 3 Kg Sulit Didapat Saat Hujan, Warga Gayo Lues Minta Bupati Turun Tangan
Bupati Gayo Lues Kunjungi Desa Ume Lah Blang Pegayon, Dialog Penuh Keakraban Bahas Masa Depan Kopi Gayo Lues
Ketua BPD Sungai Jering Diduga Pemilik Tambang Ilegal Bukit Keramat yang Tewaskan Operator Asal Medan
Panitia Mulai Merampungkan Persiapan Musda VI DPD ll Partai Golkar Kabupaten Gayo Lues
Program TMMD, Jalan Menuju Perkebunan Masyarakat Kampung Pepelah Dibuka

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:38 WIB

Keluarga Temukan Bekas Luka Tembak, Kematian Bharada Valdo di Markas Polairud Memicu Tuntutan Investigasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Darah di Markas Polairud: Tragedi Kematian Bharada Valdo yang Menyisakan Tanda Tanya Besar

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:32 WIB

57.000 Orang Utan Kehilangan Habitat Akibat Karhutla, Kematian Massal Tak Tercatat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Karhutla Indonesia Seluas 900.000 Hektare Disorot Media Asing, Setara Empat Kali Luas Tokyo

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:49 WIB

Bayang-Bayang Kabut Asap, Singapura Kembali Bidik Tujuh Perusahaan di Balik Karhutla Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Aturan Pidana Baru, Sinergi Aparat Penegak Hukum di Tengah Tantangan Implementasi KUHP dan KUHAP Nasional

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Polri Perang Terbuka Lawan Kampung Narkoba, Rekam Jejak Internal Bakal Dievaluasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolri Instruksikan Bareskrim Usut Tuntas Dugaan Tindak Pidana di Sektor Pasar Modal

Berita Terbaru

KABAR DUKA

Irjen Polisi Purnawirawan Napoleon Bonaparte Tutup Usia

Minggu, 18 Okt 2026 - 22:13 WIB