Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Pemuda Aceh (SMPA) menyoroti kondisi vakumnya Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Darussalam (IPMD) yang telah berlangsung sejak tahun 2023 hingga saat ini. Kevakuman ini menjadi perhatian serius, mengingat IPMD memiliki sejarah dan peran strategis sebagai wadah konsolidasi pelajar dan mahasiswa Darussalam dalam membangun intelektualitas, solidaritas, serta kontribusi sosial di tengah masyarakat.
Sejak berdirinya, IPMD dikenal sebagai organisasi yang aktif dalam pengembangan sumber daya manusia, penguatan nilai keislaman, keacehan, serta advokasi kepemudaan. Namun, absennya aktivitas organisasi selama dua tahun terakhir menimbulkan kekosongan ruang kaderisasi dan melemahnya peran kolektif pemuda-pelajar Darussalam.
Ketua Umum SMPA menilai bahwa kevakuman IPMD tidak bisa dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai persoalan struktural dan kolektif. Lemahnya regenerasi kepemimpinan, minimnya konsolidasi internal, serta kurangnya komunikasi lintas alumni dan pengurus menjadi faktor yang patut dievaluasi secara terbuka dan objektif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“IPMD adalah rumah besar Pemuda,Pelajar dan mahasiswa Darussalam. Ketika rumah ini kosong dan tidak terurus, maka yang dirugikan bukan hanya organisasi, tetapi juga generasi muda yang seharusnya mendapatkan ruang belajar, berproses, dan berkontribusi,” tegas Ketua Umum SMPA.
SMPA mendorong seluruh elemen yang memiliki keterkaitan dengan IPMD baik pengurus lama, alumni, tokoh pemuda, maupun pelajar dan mahasiswa aktif untuk duduk bersama, membuka ruang dialog, serta merumuskan langkah strategis guna menghidupkan kembali roda organisasi. Revitalisasi IPMD harus dilakukan secara inklusif, demokratis, dan berorientasi pada kebutuhan zaman.
“IPMD masih memiliki potensi besar untuk bangkit. Yang dibutuhkan hari ini adalah kemauan bersama, kejujuran dalam evaluasi, dan keberanian untuk memulai kembali,” tutup Ketua Umum SMPA.






































