Opoini : Petani Galus
BLANGKEJEREN – Kesuburan ladang di Gayo Lues pada 2025 silam masih menjadi cerita yang mengundang kekaguman. Hamparan kopi Arabika yang menghijau dan tanaman cabai yang tumbuh subur kala itu seolah menjadi penanda keberhasilan sektor pertanian yang berjalan dalam irama yang selaras.
Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pertanian pada tahun itu telah menyiapkan berbagai program pengadaan sarana produksi. Tercatat, pengadaan Pupuk Organik Cair (POC) dialokasikan sebesar Rp467 juta, Pupuk Pelengkap Cair (PPC) senilai Rp147 juta, serta paket sarana produksi (saprodi) yang mencapai Rp1,2 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rangkaian anggaran tersebut menjadi fondasi kebijakan yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung produktivitas petani. Di atas kertas, dukungan itu tersusun rapi, menghadirkan optimisme bahwa sektor pertanian akan terus bertumbuh dan memberikan hasil terbaik.
Di lapangan, para petani tetap menjalankan peran utamanya dengan penuh ketekunan. Mereka merawat tanaman dari hari ke hari, memastikan setiap batang tumbuh dengan baik, sembari menyesuaikan kebutuhan produksi yang terus berjalan.
Salah seorang petani bahkan mengungkapkan kekagumannya dengan nada yang penuh makna. “Wah mantap, pantas subur. Bagus sekali pupuk yang diadakan dibeli pemerintah, tidak kalah bagusnya dengan pupuk yang kami tabur dengan tangan kami sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Pernyataan tersebut seolah merangkum sebuah harmoni yang khas. Program pemerintah hadir sebagai penopang yang terstruktur, sementara kerja keras petani menjadi kekuatan utama yang menjaga kehidupan ladang tetap berjalan.
Kini, ketika keberhasilan 2025 itu dikenang kembali, kesuburan Gayo Lues tidak hanya menjadi cerita tentang hasil panen, tetapi juga tentang bagaimana perencanaan dan realitas di lapangan berjalan berdampingan, saling melengkapi dalam cara yang unik.







































