GAYO LUES – Jembatan Aih Bobo di Bukit Rigeb, Gayo Lues, putus di bagian ujung setelah diterjang banjir besar dan hingga kini belum diperbaiki, memutus akses kendaraan roda empat dan melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Warga hanya bisa melintas melalui jembatan kayu darurat yang sempit dan berbahaya, sementara hasil pertanian tidak bisa diangkut keluar.
Video yang merekam kondisi di lapangan memperlihatkan seorang pria paruh baya berpeci hitam dan berbaju batik duduk di atas sepeda motor Honda menyampaikan keluhan langsung kepada pemerintah. Ia menyebut sepuluh hari setelah banjir besar, ujung jembatan telah hanyut terbawa arus dan tidak bisa lagi dilalui mobil. Di atas video tertulis seruan yang menggambarkan keputusasaan, kembalikan jalan kami, harapan yang menggantung bagi jutaan orang. Rekaman kemudian memperlihatkan sungai lebar yang keruh, tebing yang tergerus, puing-puing sisa banjir, dan warga yang berjalan kaki serta pengendara motor yang nekat melintas di atas papan kayu seadanya.
Apa yang terjadi di Aih Bobo bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan potret nyata terputusnya urat nadi ekonomi rakyat. Jembatan itu menjadi satu-satunya akses bagi petani untuk membawa hasil kebun, bagi anak sekolah, dan bagi warga untuk berobat. Ketika jembatan putus dan hanya dibiarkan dengan jembatan kayu darurat, yang dipertaruhkan adalah keselamatan dan kelangsungan hidup warga Bukit Rigeb.
Pertanyaan keras harus diarahkan kepada pemerintah. Mengapa sepuluh hari setelah banjir tidak ada satu pun tanda penanganan permanen? Di mana dinas terkait yang seharusnya tanggap darurat terhadap infrastruktur vital yang putus? Mengapa perbaikan jembatan yang menjadi harapan hidup jutaan orang justru dibiarkan menggantung tanpa kepastian?
Komentar warga dalam unggahan itu pun senada, berharap ada solusi permanen, bukan sekadar janji. Namun hingga kini, tidak ada alat berat, tidak ada material, dan tidak ada petugas teknis yang terlihat di lokasi. Warga dibiarkan mengandalkan swadaya untuk membuat jembatan kayu yang sewaktu-waktu bisa ambruk jika debit air kembali naik.
Kondisi yang terekam pada 23 September 2026 ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Jembatan Aih Bobo bukan proyek mercusuar, ia adalah jalan hidup warga. Jika akses sepenting ini saja dibiarkan putus berhari-hari tanpa penanganan, maka klaim pembangunan yang merata dan berpihak kepada rakyat hanyalah retorika kosong. Warga Bukit Rigeb tidak butuh belas kasihan, mereka butuh jembatan yang kembali berdiri kokoh agar roda ekonomi dan kehidupan mereka bisa kembali berjalan. (*)









































