Jakarta – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyampaikan apresiasi tinggi terhadap jajaran TNI Angkatan Laut, khususnya Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Lanal Dumai, atas keberhasilan menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 48,5 kilogram dari Malaysia ke Indonesia. Aksi tersebut terjadi di wilayah perairan Kuala Parit Paman, Dumai Timur, Provinsi Riau, pada Kamis (5/6).
Keberhasilan ini dinilai sebagai salah satu bentuk nyata komitmen TNI dalam memberantas kejahatan lintas negara, khususnya peredaran narkoba yang semakin masif menyusup lewat jalur laut.
“Panglima TNI memberikan apresiasi atas keberhasilan Tim F1QR Lanal Dumai dalam menggagalkan penyelundupan sabu jaringan internasional ini,” ujar Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kristomei menyebut keberhasilan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor keamanan, tetapi juga berdampak luas bagi generasi bangsa. Barang bukti sabu yang berhasil diamankan memiliki nilai ekonomi mencapai Rp72,81 miliar dan diperkirakan dapat menyelamatkan lebih dari 240 ribu jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkoba.
“Kami tegaskan komitmen TNI untuk terus bersinergi dengan seluruh instansi guna menciptakan zero tolerance terhadap kejahatan narkotika di seluruh wilayah Indonesia,” tegasnya.
Komandan Lanal Dumai, Kolonel Laut (P) Abdul Haris, dalam keterangan resminya mengungkap bahwa pengungkapan jaringan narkotika ini bermula dari informasi intelijen yang menyebut akan ada pengiriman sabu dari Malaysia ke wilayah Dumai.
Menerima laporan tersebut, Abdul Haris langsung memerintahkan pengawasan ketat di sejumlah titik rawan baik di jalur laut maupun darat. Kesiapsiagaan Tim F1QR pun membuahkan hasil.
Pada malam hari, petugas laut mendeteksi pergerakan mencurigakan berupa siluet speed boat melaju lambat di sekitar Kuala Parit Paman. Tim F1QR yang siaga di area tersebut segera melakukan pengejaran dengan kapal cepat bertenaga 200 PK.
“Kapal yang dikejar sempat melakukan manuver zig-zag dan bahkan menabrak salah satu kapal patroli kami,” jelas Abdul Haris.
Di tengah pengejaran dramatis tersebut, salah satu pelaku di dalam kapal melempar dua tas ransel hitam ke laut. Setelah berhasil diamankan, kedua tas tersebut diketahui berisi masing-masing 22 bungkus kemasan sabu, total 44 bungkus, dengan berat keseluruhan 48,54 kilogram.
Usai kejadian, personel TNI AL juga menemukan satu unit speed boat kosong yang ditinggalkan pelaku di tepi perairan Dumai. Para pelaku diduga melarikan diri ke arah daratan dan kini masuk dalam daftar pencarian oleh tim gabungan.
Pihak TNI AL telah menyerahkan barang bukti dan kronologi kejadian kepada instansi penegak hukum yang berwenang untuk penyelidikan dan pengembangan kasus lebih lanjut.
“Kami percaya sinergi antar lembaga adalah kunci untuk memberantas sindikat narkoba lintas negara yang mencoba merusak generasi bangsa ini,” tambah Abdul Haris.
Penggagalan kasus ini menegaskan pentingnya peran TNI AL sebagai garda terdepan dalam pengawasan perbatasan maritim Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan kilometer garis pantai, laut menjadi jalur favorit sindikat narkoba untuk menyelundupkan barang haram dari luar negeri.
Panglima TNI menegaskan bahwa operasi pemberantasan narkoba akan terus digalakkan, tidak hanya oleh TNI AL, tetapi juga bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepolisian, dan instansi lainnya. (*)































































