JAKARTA | Kabupaten Aceh Tenggara menegaskan komitmen kuat terhadap pembangunan Sekolah Rakyat, program strategis nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Singkat namun penuh arti, Bupati Aceh Tenggara, HM Salim Fakhry, berangkat ke Jakarta bertemu langsung dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico, pada momentum audiensi penting yang sarat harapan bagi masa depan Aceh Tenggara.
Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis kemarin, Bupati tidak sekadar membawa ucapan dukungan. Ia menyerahkan dokumen kesiapan lahan yang menjadi salah satu syarat utama realisasi pembangunan sekolah. Bupati Salim Fakhry menegaskan, pemerintah daerah telah menyiapkan seluruh prasyarat lahan demi kelancaran proses berikutnya. Kegiatan ini turut didampingi Kepala Dinas Sosial Bahagia Wati dan dua anggota DPRK, menandai komitmen kolektif pemerintah daerah dalam mendukung penuh program prioritas nasional tersebut.
“Alhamdulillah, audiensi berjalan lancar dan kami mendapat dukungan penuh dari Sekjen Kemensos. Pertemuan ini merupakan langkah konkret daerah dalam menjemput program prioritas pusat,” ujar Bupati Salim Fakhry. Baginya, Sekolah Rakyat adalah jawaban atas kebutuhan mendasar masyarakat di wilayah berbasis agraris tersebut. Konsep sekolah berasrama dengan pendidikan gratis, khusus bagi anak-anak yang berada di garis kemiskinan ekstrem, dipandang sebagai langkah cerdas untuk menggulirkan transformasi sosial di Aceh Tenggara, yang selama ini masih bertarung dengan disparitas akses pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekolah Rakyat diinisiasi sebagai sekolah berstandar unggulan, menerapkan sistem pendidikan berasrama secara penuh tanpa pungutan biaya apapun bagi keluarga peserta didik. Seluruh kebutuhan pendidikan, mulai dari kegiatan belajar-mengajar, akomodasi asrama, hingga fasilitas penunjang kehidupan sekolah disiapkan pemerintah pusat dengan pengawalan langsung oleh daerah. Di balik konsep ini adalah harapan besar: agar anak-anak dari keluarga prasejahtera memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, menempuh pendidikan berkualitas, dan pada akhirnya mampu memutus rantai kemiskinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kabupaten Aceh Tenggara sendiri selama ini dikenal sebagai Tanah Alas, kawasan yang masih berjuang mengimbangi laju pembangunan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, menurut data yang dihimpun oleh berbagai lembaga pemerintah, wilayah ini menghadapi tekanan ekonomi dan tantangan sumber daya manusia akibat minimnya akses pendidikan unggul. Tidak mengherankan apabila pemerintah Aceh Tenggara langsung menyambut program Sekolah Rakyat sebagai solusi riil, harapan baru, dan peluang emas untuk menyelamatkan masa depan anak-anak yang selama ini nyaris kehilangan harapan meraih bangku sekolah yang layak.
Pertemuan itu sendiri menuai respons positif dari Kementerian Sosial. Sekjen Kemensos RI, Robben Rico, menandaskan bahwa kolaborasi nyata antara pemerintah pusat dan daerah merupakan instrumen utama agar pembangunan tidak tersendat di tengah jalan. Dukungan logistik, kesediaan lahan, hingga kesiapan teknis operasional menjadi aspek yang akan segera didalami bersama pada tahapan selanjutnya. Pemerintah pusat berharap Aceh Tenggara bisa menjadi contoh keberhasilan implementasi Sekolah Rakyat, terutama bagi wilayah-wilayah lain yang juga menghadapi persoalan kemiskinan ekstrem.
Hasil audiensi antara Pemkab Agara dan Kemensos RI menghasilkan titik temu serta kesepakatan untuk segera menindaklanjuti proses pembangunan ke jenjang teknis, mulai dari perencanaan desain sekolah, perekrutan tenaga pendidik profesional, hingga mekanisme seleksi peserta didik yang benar-benar berasal dari keluarga sasaran. Seluruh rangkaian ini akan dikawal ketat agar kualitas sekolah sesuai standar nasional dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat lapisan bawah.
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi ikon perubahan sosial. Pemerintah daerah melihat sekolah ini sebagai jembatan penghubung menuju generasi muda Aceh Tenggara yang lebih cerdas, mandiri, dan memiliki daya saing. Pemerintah daerah meyakini, program ini akan memperkuat pondasi pembangunan manusia di Tanah Alas dan mempercepat langkah membawa Aceh Tenggara sejajar dengan kabupaten-kabupaten maju lainnya di tanah air.
Dengan niat baik dan sinergi lintas lembaga, pelaksanaan Sekolah Rakyat di Kutacane bukan hanya sekadar janji pembangunan, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada masyarakat marjinal. Ketika sekolah itu nanti berdiri dan derai suara anak-anak menggema di halaman, harapan akan perubahan yang lebih baik di Aceh Tenggara niscaya mulai terwujud dari dunia pendidikan yang inklusif dan bermartabat.
Edi Sahputra










































