JAKARTA | Aksi demonstrasi ribuan mahasiswa yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (12/6/2026), menjadi sorotan sejumlah media internasional yang berbasis di Eropa hingga Australia. Protes yang menuntut perubahan kebijakan ekonomi pemerintah ini dipantau dengan saksama oleh sejumlah kantor berita seperti AFP, Reuters, hingga [ABC] dari Australia, menggarisbawahi kegelisahan generasi muda Indonesia terhadap situasi ekonomi nasional yang dinilai kian tertekan.
Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Jabodetabek turun ke jalan dengan mengenakan jas almamater, mengibarkan spanduk, serta melantangkan orasi di tengah kawalan ketat aparat keamanan. Aksi yang berlangsung damai sejak siang, berubah menjadi ricuh setelah mahasiswa mencoba mendekati area pengamanan di sekitar Istana Kepresidenan. Aparat mencegah mahasiswa mendekat, menghadirkan ketegangan di titik utama protes. Penutupan jalan menuju istana dilakukan, sementara lebih dari 6.000 personel polisi dan militer dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi.
Media asal Prancis, AFP, dalam laporannya berjudul “Indonesian Students Protest Economic Strain”, menyoroti sekitar 2.000 mahasiswa yang terlihat memenuhi pusat kota Jakarta untuk mendesak perubahan arah kebijakan pemerintah. Salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah penghentian program makan gratis atau MBG yang dinilai menghabiskan anggaran negara dengan manfaat yang tak maksimal bagi kelompok sasaran. Selain itu, para mahasiswa juga mengkritisi kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak non subsidi yang dinilai memperburuk beban ekonomi masyarakat luas. AFP turut menyoroti kurs rupiah yang terus melemah, bahkan sempat menembus level di bawah Rp18.100 terhadap dolar Amerika Serikat, sebagai penanda tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Reuters, salah satu kantor berita ternama dari Inggris, menurunkan laporan mendalam berjudul “Students in Anti-Prabowo Protest Say Indonesia Heading for Bankruptcy.” Media ini mewawancarai sejumlah pemimpin aksi mahasiswa, termasuk dari Universitas Indonesia, yang menyampaikan sedikitnya lima tuntutan utama kepada pemerintah. Di antara tuntutan tersebut adalah permintaan penghentian program MBG dan koperasi desa, desakan penurunan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok, serta penghentian belanja pemerintah yang dinilai tidak efisien. Reuters mencatat bahwa mahasiswa menilai arah kebijakan ekonomi nasional saat ini cenderung membebani fiskal negara, berpotensi memperbesar risiko terhadap stabilitas keuangan.
Tidak hanya media Eropa, Australian Broadcasting Corporation (ABC) juga melaporkan secara khusus dinamika demonstrasi mahasiswa Indonesia kali ini. Dalam artikelnya yang berjudul “Indonesian Student Protest Government Policies as Economic Pressure Grow”, ABC menyoroti hal ini sebagai salah satu gerakan mobilisasi mahasiswa terbesar sejak gelombang protes pada Agustus tahun sebelumnya. ABC mencatat, jumlah demonstran yang mencapai ribuan orang menjadi gambaran keresahan generasi muda yang merasakan langsung beban kenaikan harga kebutuhan pokok serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Secara khusus, liputan ABC menyoroti bagaimana protes mahasiswa diwarnai kepadatan serta pengamanan ketat aparat yang membuat jalanan utama menuju Istana Presiden tertutup dan arus lalu lintas ibu kota sempat terganggu pada jam-jam sibuk.
Aksi demonstrasi ini dilatarbelakangi sejumlah faktor yang saling terkait. Kebijakan pemerintah terkait pengendalian harga BBM non subsidi menjadi sorotan utama di mana mahasiswa menilai, keputusan itu justru memperparah tekanan ekonomi rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Selain itu, implementasi program makan bergizi gratis yang menyedot belanja negara secara besar-besaran dianggap tidak tepat sasaran dan kurang membawa manfaat nyata bagi golongan masyarakat paling rentan. Keresahan akan arah kebijakan fiskal pemerintah menjadi stimulan utama unjuk rasa, terutama di tengah risiko defisit anggaran dan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Sejumlah pemimpin mahasiswa menyatakan protes bukan semata-mata penolakan terhadap kebijakan saat ini, melainkan dorongan agar pemerintah lebih peka terhadap keharusan efisiensi anggaran dan perlindungan daya beli rakyat. Seruan perubahan sempat diwarnai aksi duduk, mimbar bebas, dan pembacaan tuntutan terbuka di bawah pengawasan aparat. Koordinator aksi menyebut, protes yang dilakukan merupakan upaya menjaga ruang aspirasi dan kontrol publik atas jalannya pemerintahan.
Reaksi internasional terhadap aksi mahasiswa Indonesia kali ini menunjukkan tingginya atensi dunia terhadap kebijakan ekonomi nasional di tengah situasi global yang masih penuh tekanan. Laporan media asing menjadi cerminan tanggung jawab mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil yang kritis, sekaligus menegaskan posisi Indonesia di mata dunia dalam mengelola disiplin fiskal, stabilitas politik, dan masa depan generasi mudanya.
Hingga aksi berakhir, sebagian besar peserta meninggalkan lokasi secara tertib dengan pengawalan ketat. Aparat tetap bersiaga untuk memastikan tidak ada eskalasi lanjutan. Pemerintah sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait respons atas tuntutan mahasiswa, sementara publik menantikan langkah konkret dari pemegang kebijakan. Demonstrasi ini diperkirakan masih akan berlanjut jika aspirasi mahasiswa tidak segera diakomodasi. Keresahan yang berhulu pada naiknya harga kebutuhan pokok juga semakin menuntut kebijakan ekonomi yang relevan, adil, dan berpihak pada seluruh lapisan masyarakat. (*)






























































