Jakarta, 5 Januari 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca signifikan yang diprakirakan masih akan berlangsung hingga pekan kedua Januari 2026. Sejumlah indikator atmosfer menunjukkan bahwa kondisi intensitas hujan masih tinggi, dan sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang.
Dalam sepekan terakhir, beberapa wilayah telah mencatat hujan dalam kategori ekstrem, seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan intensitas mencapai 165 milimeter per hari dan Sumatera Barat dengan 159,2 milimeter per hari. Hujan sangat lebat juga tercatat di Kalimantan Barat (108,6 mm/hari) dan Maluku (103,3 mm/hari), menunjukkan adanya peningkatan aktivitas cuaca basah secara luas di berbagai wilayah.
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan tersebut merupakan dampak dari perpaduan dinamika atmosfer berskala global hingga lokal. Salah satu faktor utamanya adalah kondisi La Niña lemah yang mendukung suplai uap air dari wilayah Pasifik barat ke Indonesia. Di saat yang bersamaan, angin Monsun Asia terpantau lebih kuat dari biasanya, didorong oleh indeks seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia. Keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S yang kini berkembang menjadi Siklon Tropis Jenna turut memberi kontribusi tidak langsung terhadap pembentukan awan konvektif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial di sebagian besar wilayah Indonesia meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan. Perambatan gelombang ekuator seperti Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby juga turut memperkuat pertumbuhan awan di beberapa daerah, terutama di bagian barat dan tengah Indonesia.
Dalam enam hari ke depan, BMKG memprakirakan kondisi cuaca akan tetap dinamis. Fenomena Siklon Tropis Jenna yang kini berada di barat daya perairan Lampung diperkirakan akan meningkat intensitasnya menjadi siklon tropis kategori dua dengan kecepatan angin hingga 63 knot. Meskipun secara posisi menjauh dari wilayah daratan Indonesia, sistem ini menyebabkan peningkatan angin kencang, hujan lebat, serta gelombang tinggi, terutama di wilayah selatan Sumatera dan pantai barat Pulau Jawa.
Dari tinjauan sistem atmosfer lainnya, dua pusat sirkulasi siklonik terpantau pada awal Januari 2026, yakni di Samudra Hindia barat Aceh dan di Laut Cina Selatan, utara Kalimantan. Keduanya memunculkan daerah perlambatan dan pertemuan angin (konvergensi) yang turut mendukung pembentukan awan hujan.
BMKG memetakan prospek cuaca dalam dua periode, yakni 6–8 Januari dan 9–12 Januari 2026. Pada periode pertama, cuaca hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprediksi terjadi hampir di seluruh wilayah, dari Sumatera hingga Papua. Tingkat kewaspadaan ditingkatkan untuk wilayah Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, serta Papua Pegunungan, yang berstatus siaga terhadap hujan lebat hingga sangat lebat. Angin kencang berpotensi terjadi di Lampung, Bengkulu, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Papua Selatan.
Pada periode 9–12 Januari, distribusi hujan masih merata di hampir seluruh Indonesia. Intensitas hujan tinggi diprakirakan masih bertahan di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Status siaga untuk hujan sangat lebat berlaku bagi Sumatera Barat, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan. Angin kencang diprediksi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat Daya.
Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Perjalanan darat, laut, dan udara perlu direncanakan lebih cermat, mengingat adanya potensi gangguan sebagai dampak dari cuaca ekstrem. Kegiatan luar ruang seperti wisata, aktivitas perayaan, maupun ibadah di ruang terbuka perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca terkini di tiap wilayah.
BMKG mengajak seluruh masyarakat untuk aktif memantau informasi resmi melalui kanal resmi seperti situs www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta akun media sosial @infoBMKG. Untuk kebutuhan perjalanan, layanan Digital Weather for Traffic (DWT) juga tersedia melalui aplikasi maupun laman signature.bmkg.go.id/dwt, yang memberikan informasi prakiraan cuaca secara real-time di sepanjang jalur perjalanan.
Cuaca selama periode puncak musim hujan diprakirakan sangat fluktuatif, sehingga pembaruan informasi secara berkala menjadi kunci dalam menjaga keselamatan dan kelancaran aktivitas sehari-hari masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan koordinasi tanggap darurat serta memperkuat komunikasi risiko cuaca ekstrem kepada masyarakat dalam radius dampak. (*)







































