slot preparation.lsrs.lu

MK Tolak Gugatan Ambang Batas Pencalonan Kepala Daerah Jalur Parpol

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 14 November 2025 - 02:55 WIB

50494 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Mahkamah Konstitusi menolak seluruh permohonan uji materi terhadap Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Putusan ini dibacakan dalam sidang pleno terbuka Mahkamah Konstitusi yang digelar di Jakarta pada Kamis (13/11/2025). Permohonan yang teregistrasi dengan Nomor 90/PUU-XXIII/2025 tersebut diajukan oleh delapan orang warga negara yang menggugat ambang batas pencalonan kepala daerah melalui jalur partai politik atau gabungan partai politik.

Para pemohon berpendapat bahwa ketentuan mengenai ambang batas sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (1) UU Pilkada telah membatasi hak konstitusional warga negara untuk mengajukan pasangan calon kepala daerah, khususnya melalui mekanisme partai politik. Mereka juga menilai, aturan tersebut bertentangan dengan prinsip kedaulatan rakyat serta menghambat partisipasi politik yang seharusnya dijamin secara adil dan setara dalam sistem demokrasi.

Menanggapi permohonan tersebut, Mahkamah dalam pertimbangannya menegaskan bahwa ketentuan a quo tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Wakil Ketua MK Saldi Isra yang membacakan pertimbangan hukum menyatakan bahwa norma Pasal 40 ayat (1) justru merupakan bentuk pengaturan yang sah dalam rangka menjamin kualitas dan keseriusan partai politik dalam mengusulkan pasangan calon kepala daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mahkamah memandang bahwa sejauh ini pencalonan kepala daerah yang melalui jalur partai politik telah mendapat penguatan dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 60/PUU-XXII/2024, yang mengatur penurunan ambang batas persentase dukungan dalam pencalonan. Dengan adanya putusan tersebut, maka ruang kompetisi politik menjadi lebih terbuka dan akomodatif, baik bagi partai politik maupun masyarakat secara umum.

Dalam pandangannya, Mahkamah juga menegaskan bahwa sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia tidak semata disandarkan pada asas keterbukaan, tetapi juga harus menjaga prinsip-proporsionalitas dan kredibilitas dalam proses pengajuan calon. Oleh karena itu, Mahkamah menilai bahwa keberadaan ambang batas pencalonan tetap diperlukan untuk memastikan bahwa pasangan calon yang diusung melalui jalur partai politik telah melewati proses seleksi politik yang representatif dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Mahkamah menekankan pentingnya menciptakan keseimbangan antara calon dari jalur perseorangan dan jalur partai politik. Dalam putusan sebelumnya yakni Nomor 5/PUU-V/2007, Mahkamah juga menegaskan bahwa calon perseorangan wajib memenuhi dukungan minimal dari masyarakat agar dapat melaju dalam kontestasi pilkada. Syarat dukungan atas calon perseorangan pun dimaknai sebagai bentuk komitmen dalam menjaga keselarasan antara kebebasan mencalonkan diri dengan tanggung jawab sosial dan politik di dalam pemilihan umum.

Mahkamah berpandangan bahwa persyaratan minimal baik bagi calon perseorangan maupun yang diusulkan oleh partai politik adalah bagian dari prosedur demokrasi yang adil. Oleh sebab itu, Mahkamah menilai dalil para pemohon yang menyebut ketentuan Pasal 40 ayat (1) membatasi hak warga negara adalah tidak beralasan menurut hukum. Mahkamah juga menegaskan bahwa tudingan mengenai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan rakyat, hak atas keadilan, maupun kesetaraan dalam pemerintahan, tidak terbukti dalam permohonan ini.

Terhadap kemungkinan perubahan pada ambang batas di masa mendatang, Mahkamah menyerahkan sepenuhnya kepada pembentuk undang-undang. Mahkamah menyatakan bahwa DPR dan Pemerintah dapat melakukan penyesuaian terkait kebutuhan memperbaiki keterwakilan politik, asalkan tetap dalam kerangka prinsip proporsionalitas dan tidak bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 60/PUU-XXII/2024.

Dalam amar putusannya, Ketua Mahkamah Konstitusi Suhartoyo secara tegas menyatakan bahwa permohonan para pemohon tidak memiliki alasan hukum yang cukup untuk dikabulkan. Permohonan atas penghapusan ambang batas pencalonan kepala daerah dinyatakan tidak beralasan menurut hukum, dan norma Pasal 40 ayat (1) UU Pilkada sebagaimana berlaku tetap sah dan konstitusional.

“Mengadili, menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya,” kata Suhartoyo saat membacakan amar putusan.

Dengan demikian, ambang batas pengajuan pasangan calon oleh partai politik atau gabungan partai politik sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 2016 tetap berlaku dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat dalam setiap tahapan pemilihan kepala daerah di Indonesia. (*)

Berita Terkait

Rekaman CCTV Kekerasan Ibu Terhadap Anak Empat Tahun di Ketapang Viral, Polisi Buru Pelaku
Bareskrim Usut Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Wapres Gibran, Putusan MK Jadi Rujukan Penyidik
Jokowi Hormati Proses Hukum Terkait Wacana Pemakzulan Wapres Gibran
Mabes Polri Dalami Dugaan Keterlibatan Ketum Parpol dan Aliran Dana Judi Online di Kasus Penyadapan Presiden
Dasco Minta Komisi III Pantau Berkala Kasus Penyadapan Presiden yang Seret Eks Kapolri
Irjen Ahrie Sonta Bersikap Kooperatif dan Siap Buka Tabir Kasus Dugaan Penyadapan Presiden
Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Dubes Asing di Istana Hari Ini
ICW dan Trend Asia Ungkap Belanja Teknologi Pengawasan Polri Capai Rp35,9 Triliun

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 20:33 WIB

Pererat Sinergi dan Kedekatan dengan Masyarakat, Kapolres Aceh Tenggara Bersama Bupati dan Forkopimda Melaksanakan Jumat Keliling

Jumat, 6 November 2026 - 16:59 WIB

Kawal Pilkades Serentak 2026, Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Apel Gelar Pasukan dan Lepas Personel Pengamanan ke TPS

Jumat, 6 November 2026 - 16:30 WIB

Kemendagri Apresiasi Kinerja Pemkab Aceh Tenggara, Serapan Anggaran Pemulihan Pascabencana Melonjak hingga 41 Persen

Jumat, 6 November 2026 - 14:23 WIB

BPJS Kesehatan Lakukan Kunjungan Kredensial ke UPTD Puskesmas Lawe Dua, Pastikan Mutu Pelayanan Kesehatan

Kamis, 5 November 2026 - 23:01 WIB

Abi Hasan Ajak Seluruh Anggota DPRK Aceh Tenggara Bersatu Perjuangkan Nasib Petani Leuser dan Keadilan Fiskal Daerah

Kamis, 5 November 2026 - 20:23 WIB

DPRK Agara Sahkan Rp1,145 Triliun, Qanun Perubahan APBK ,Tenjun Bebas Sekitar Rp 85,82 Milyar.

Kamis, 5 November 2026 - 12:08 WIB

Matangkan Pengamanan Pilkades Serentak 2026, Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Anev Bersama Jajaran

Kamis, 5 November 2026 - 11:30 WIB

Cegah Curas, Curat dan Curanmor, Sat Samapta Polres Aceh Tenggara Gencarkan Patroli 3C

Berita Terbaru