Bener Meriah – Hujan turun tanpa jeda di dataran tinggi Gayo, Rabu pagi, 26 November 2025. Langit kelabu seakan menutup harapan tujuh tenaga kesehatan Puskesmas Ketapang yang ingin segera pulang ke Takengon. Dengan jas hujan melekat di tubuh dan sepeda motor menembus dingin, mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB, memilih jalur nasional Simpang Simpil menuju Bintang.

Keinginan bertemu keluarga anak-anak dan orang-orang tercinta mengalahkan rasa lelah. Namun alam berkata lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di kawasan Uyem Mude, jalan yang mereka lintasi tiba-tiba amblas. Tanpa banyak pilihan, sepeda motor diangkat bersama-sama. Perjalanan dilanjutkan dengan sisa keyakinan bahwa hujan akan segera reda. Nyatanya, di Simpang 27 Serule, longsor kembali menghadang. Tanah runtuh menimbun badan jalan, memutus satu-satunya jalur yang bisa dilewati.
Hari kian senja. Hujan semakin deras. Perut kosong, tubuh menggigil. Mi instan dari sebuah warung pinggir jalan menjadi penahan lapar. Di saat yang sama, banjir bandang mulai datang—air bercampur lumpur, batu, dan batang kayu, mengalir tanpa ampun. Listrik padam. Sinyal hilang. Dunia terasa mengecil, menyisakan ketakutan dan doa-doa yang lirih.

Di tengah kecamuk itu, tangis tak lagi bisa dibendung. Terbayang wajah anak, suami, dan keluarga di rumah. Pertanyaan yang sama berulang di benak: apakah aku masih bisa pulang?
Malam itu, takdir mempertemukan mereka dengan rombongan Didong Linge Meriah dari Kabupaten Bener Meriah yang juga terjebak bencana. Seorang warga bernama Rasidan membuka pintu rumahnya. Tanpa banyak kata, rumah sederhana itu menjadi tempat berlindung bagi nakes, seniman didong, dan penumpang travel yang terputus perjalanan.
Malam-malam berikutnya dilalui dengan suara gemuruh air dan longsor yang seolah tak pernah jauh. Hujan belum reda. Sungai Temali yang biasanya jinak berubah menjadi monster, siap menerjang apa saja. Tidur hanya sekadar memejamkan mata, menunggu fajar dengan harap-harap cemas.
Di malam kedua, datang rombongan pengungsi dari Kampung Atu Payung. Mereka berjalan kaki menembus hutan, membawa orang tua, perempuan, dan seorang bayi yang tubuhnya menggigil, basah, dan mulai membiru. Di sanalah peran kemanusiaan diuji. Para nakes bergerak sigap—tanpa alat lengkap, tanpa ruang periksa—hanya dengan ilmu dan nurani. Bayi itu dipeluk, dihangatkan, diselamatkan.
Jumat pagi, 28 November 2025, hujan mulai reda. Secercah harapan muncul bersama cahaya matahari. Hamdani, ketua rombongan, mengajak semua bersiap. Jalan satu-satunya adalah berjalan kaki menembus hutan dan sungai.
Langkah demi langkah ditempuh. Meniti bebatuan longsor, menyeberangi arus deras, berpegangan tangan agar tak hanyut. Lumpur menelan kaki, batu licin menggores telapak. Rasa lapar hanya ditemani mi instan dan air sungai. Namun tak ada yang tertinggal. Tak ada yang dibiarkan sendiri.
Sekitar 27 kilometer mereka berjalan. Dalam diam, dalam doa, dalam kebersamaan.
Menjelang sore, rombongan tiba di Kampung Dedamar, Kecamatan Bintang. Warga menyambut para musafir bencana dengan senyum dan pelukan. Malam itu, untuk pertama kalinya, rasa aman kembali hadir.
Evakuasi dilanjutkan melalui Danau Laut Tawar menggunakan perahu motor. Tiga jam perjalanan ditempuh di antara bongkahan kayu yang mengapung, dengan kehati-hatian penuh. Hingga akhirnya, Sabtu malam, rombongan tiba di Dermaga Takengon.
Tangis pecah. Pelukan menghangatkan luka batin yang tersisa.
Perjalanan ini bukan sekadar kisah selamat dari bencana. Ia adalah pelajaran tentang kerendahan hati, tentang alam yang tak bisa ditantang, dan tentang manusia yang hanya bisa bertahan ketika saling menggenggam. Di tanah Gayo, mereka belajar bahwa hidup adalah titipan—dan keselamatan adalah anugerah. (Dani)






































