BENER MERIAH | Malam itu, Bener Meriah benar-benar kehilangan suara.Gelap gulita menyelimuti Kota Simpang Tiga Redelong. Listrik padam. Jaringan seluler mati total. Jalan-jalan utama dari Bireuen dan Aceh Utara terputus oleh longsor. Banjir bandang merangsek masuk ke rumah-rumah warga, merobohkan jembatan, dan memutus harapan banyak orang yang terjebak di tengah kepanikan.
Rabu, 26 November 2025, menjadi malam panjang yang akan selalu diingat warga Bener Meriah.
Di tengah sunyi yang mencekam itu, ketika telepon pintar tak lagi berguna dan internet hanya tinggal kenangan, sebuah suara lirih terdengar dari perangkat sederhana: radio komunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Radio Antar Penduduk Indonesia RAPI kembali menjalankan perannya.

Tanpa gemerlap, tanpa sorotan kamera.
Repeater yang biasa menjadi tulang punggung komunikasi ikut terdiam, kehabisan daya. Tidak ada listrik, tidak ada cadangan. Yang tersisa hanyalah HT kecil dengan antena pendek, digenggam erat oleh para relawan RAPI di sudut-sudut gelap desa dan kecamatan.
Mereka berkumpul di satu frekuensi yang sama: 143.800 MHz. Base kolongan sederhana, namun malam itu menjadi nadi kehidupan Bener Meriah.
Dari radio-radio itulah laporan pertama mengalir tentang longsor yang menutup jalan, rumah yang hanyut, warga yang terisolasi, dan tangisan yang terperangkap di balik gelap.
Tak lama berselang, instruksi tegas datang dari Sekretaris Daerah Kabupaten Bener Meriah, Riswan Dika Putra, S.STP, M.AP. Seluruh anggota RAPI diminta bergerak. Bukan membawa alat berat, bukan membawa logistik, tetapi membawa informasi sesuatu yang paling berharga di tengah bencana.
Malam itu, RAPI resmi menjadi satu-satunya Bantuan Komunikasi (Bankom) pemerintah daerah.
Para anggota menyebar sesuai wilayah masing-masing. Dari kecamatan ke kecamatan, dari desa ke desa, mereka menyusuri titik-titik terdampak, mencatat, mengamati, lalu melaporkan—meski jangkauan radio terbatas, meski harus mengulang pesan berkali-kali agar terdengar jelas.
Mereka tahu, setiap laporan bisa berarti satu keputusan penting.
Setiap koordinat bisa menyelamatkan nyawa.
Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Ketika repeater di Bukit Menjangan tak bisa berfungsi karena listrik mati, solusi pun dicari. Panel surya dipasang. Baterai dikumpulkan. Sedikit demi sedikit, suara radio kembali menjangkau wilayah yang lebih luas.
Di ruang offroom Bupati Bener Meriah, sebuah posko sederhana berubah menjadi pusat harapan. Atas arahan Sekda, Ketua RAPI Bener Meriah Yuhda Asri (JZ 01 JZN) bersama Sekretaris Yusra Al Fatah (JZ 01 AVR) memindahkan seluruh perangkat ke sana. Dari ruangan itulah, peta bencana mulai tergambar jelas. Data korban. Akses jalan. Lokasi pengungsian. Semua mengalir melalui gelombang radio.
Hari berganti. Hingga Jumat, 18 Desember 2025, siang dan malam, suara radio itu masih hidup. Anggota RAPI tetap siaga di posko utama, mendengarkan laporan, menjawab panggilan, dan memastikan tidak ada suara dari lapangan yang terabaikan.
Mereka tidak menuntut pujian.
Tidak pula menunggu penghargaan.
Mereka hanya menjalankan peran seperti yang selalu dilakukan RAPI di setiap bencana: hadir ketika informasi hilang, bekerja ketika keadaan serba terbatas.
Di sela kelelahan, Yuhda Asri kembali mengingatkan satu hal penting: bahwa komunikasi adalah ruh penanganan bencana. Tanpa informasi yang akurat, bantuan bisa salah arah. Tanpa laporan lapangan, keputusan bisa terlambat.
Ia juga mengajak semua pihak untuk kembali menyadari pentingnya radio komunikasi di setiap desa dan instansi. “Ketika listrik hilang,” ujarnya, “perangkat komunikasi paling canggih sekalipun tak lebih berarti dari sebuah radio tua.”
Dan malam itu, di tengah sunyi Bener Meriah, radio-radio tua itulah yang menjaga denyut kehidupan tetap berdetak. Jumat 18 Desember 2025. (Dani)






































