Bener Meriah Baranewsaceh.co | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang ramai diberitakan belakangan ini turut memantik kekhawatiran di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Arus informasi yang begitu cepat membuat peristiwa ribuan kilometer jauhnya terasa seolah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tokoh muda Bener Meriah, Haris (32) Sekjen Asosiasi Pemuda Desa Bener Meriah, dalam siaran pers yang diterima media ini. Rabu (4/3/2026) mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan, khususnya dengan melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan.
“Kita tidak perlu panik. Tidak setiap konflik di Timur Tengah otomatis menjadi badai bagi negeri ini. Dunia memiliki mekanisme diplomasi, dan negara kita memiliki sistem cadangan serta pengawasan distribusi energi,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Haris, yang lebih penting dari sekadar respons emosional adalah menjaga ketenangan dan rasionalitas. Ia menilai kepanikan justru berpotensi menciptakan persoalan baru di daerah sendiri.
Fenomena antrean panjang di sejumlah SPBU di Bener Meriah, dengan warga membawa jeriken atau galon dalam jumlah besar, dinilai bukan solusi atas situasi global. Jika pembelian dilakukan secara berlebihan karena rasa takut, kelangkaan justru bisa terjadi bukan akibat krisis nyata, melainkan akibat kepanikan kolektif.
“Ketika sebagian orang membeli melebihi kebutuhan, yang lain bisa tidak kebagian. Harga bisa terdorong naik bukan oleh kondisi dunia, melainkan oleh gelombang cemas yang kita ciptakan sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Menurutnya, hoaks kerap menyebar lebih cepat dibandingkan fakta dan dapat memperkeruh suasana.
Haris mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mempercayai mekanisme distribusi resmi dan pengawasan pemerintah. Ia juga mengajak warga memperkuat solidaritas sosial dan memperbanyak doa.
“Kita hidup di tanah yang mengajarkan kesabaran. Seperti petani menunggu panen, tidak setiap awan gelap berarti badai. Kadang ia hanya lewat sebelum matahari kembali bersinar,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketahanan sebuah daerah tidak semata ditentukan oleh situasi global, melainkan oleh ketenangan dan persatuan warganya. Bener Meriah, kata dia, telah berkali-kali melewati ujian alam dan sosial, dan selalu mampu bangkit.
“Isu global hari ini tidak boleh membuat kita goyah oleh spekulasi. Tetap tenang, jangan panik, dan jangan menciptakan krisis dari rasa takut,” tutupnya.






































