MEUREUBO, ACEH BARAT – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Teuku Umar (UTU) melakukan penguatan ketahanan pangan terpadu di Gampong Pasi Pinang, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Mahasiswa Berdampak – Aksara Peduli.
Program bertajuk “Optimalisasi Kelompok Wanita Tani dan Kader Posyandu melalui Vertiminaponik dan Manajemen Gizi Terintegrasi” ini membawa inovasi lintas disiplin. Tujuannya menjawab tantangan bencana yang berulang dan kerentanan gizi masyarakat.
Menjawab Kerentanan Wilayah
Gampong Pasi Pinang berada di sekitar daerah aliran sungai dan kerap mengalami kerugian hasil pertanian akibat banjir.
Dampaknya langsung terasa pada pasokan pangan keluarga dan status gizi balita. Tim akademisi UTU menggabungkan kepakaran Kesehatan Masyarakat, Pertanian (Agroteknologi), dan Perikanan (Sumber Daya Akuatik) untuk membangun sistem pemberdayaan yang presisi dan berkelanjutan.
Program ini menyasar dua kelompok mitra:
• Kelompok Wanita Tani (KWT) Gampong Pasi Pinang (20 anggota), yang dikembangkan sebagai mitra produktif ekonomi lewat pemanfaatan lahan pekarangan adaptif banjir.
• Kader Posyandu Campaka (20 anggota), yang ditingkatkan kapabilitasnya dalam edukasi dan pemantauan gizi terintegrasi.
Dua Inovasi Tepat Guna
Agar dampaknya terukur, tim mendiseminasikan dua teknologi. Pertama, sistem vertiminaponik, yaitu budidaya terpadu yang memadukan kolam ikan dan tanaman sayuran secara vertikal. Sistem ini memakai sirkulasi air tertutup yang hemat lahan, tahan terhadap gangguan banjir, dan mampu menyediakan pakan protein serta sayur secara mandiri bagi rumah tangga.
Kedua, aplikasi digital POSYNUTRIVA, aplikasi mobile berbasis Android yang mengubah pencatatan manual Posyandu menjadi digital. Aplikasi ini memantau tumbuh kembang anak, memetakan status gizi, dan membantu menyusun menu balita berbasis pangan lokal.
Ketua tim, Fitriani, SKM., M.Kes., dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UTU, menyebut program ini lahir dari kebutuhan nyata warga.
“Banjir bukan hanya merusak lahan, tetapi juga mengancam gizi keluarga, terutama balita. Karena itu kami memadukan ketahanan pangan dan layanan kesehatan dalam satu program, agar masyarakat mandiri dan tidak bergantung pada bantuan semata,” ujar Fitriani.
Ia didampingi Nabil Zurba, S.Pi., M.Si. dari Fakultas Perikanan sebagai anggota 1, dan Nana Ariska, S.P., M.Si. dari Fakultas Pertanian sebagai anggota 2. Program ini juga melibatkan 25 mahasiswa.
Tiga Fase Pelaksanaan
1. Alih Teknologi. Pelatihan teknis instalasi demplot vertiminaponik, simulasi penginputan data pada POSYNUTRIVA, dan lokakarya resep gizi seimbang balita berbasis bahan lokal.
2. Pendampingan dan Manajerial. Pendampingan pembukuan usaha dan pemasaran digital bagi KWT, monitoring kualitas air serta pertumbuhan tanaman dan ikan, dan pengawalan uji coba POSYNUTRIVA pada hari buka Posyandu.
3. Evaluasi dan Serah Terima. Pengukuran tingkat keberdayaan mitra, penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) keberlanjutan, dan serah terima unit percontohan serta aset teknologi secara resmi kepada Pemerintah Gampong Pasi Pinang.
Disambut Positif Warga
Keuchik Gampong Pasi Pinang, Abdul Salam D, menyambut baik program ini dan menilainya sejalan dengan visi serta misi gampong.
“Visi Gampong Pasi Pinang adalah terwujudnya masyarakat yang maju, sehat, cerdas, dan sejahtera dengan berlandaskan syariat Islam. Dua program dari UTU ini sejalan dengan visi tersebut. Vertiminaponik membantu ibu-ibu KWT menambah pendapatan keluarga di tengah kerentanan banjir, sementara aplikasi POSYNUTRIVA mendukung peningkatan layanan kesehatan dan pemantauan gizi balita di Posyandu. Kami berterima kasih kepada UTU dan berharap program ini terus kami jaga dan kembangkan,” tutur Abdul Salam D.
Dari sisi mitra, Ketua KWT Gampong Pasi Pinang, Hidayati, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini.
“Kami senang sekali bisa ikut program ini. Vertiminaponik ini menarik, ikan dan sayur bisa tumbuh bersama di lahan yang sempit, dan lebih aman kalau banjir datang. Mudah-mudahan nanti hasilnya bisa membantu dapur dan menambah penghasilan keluarga,” kata Hidayati.
Ketua Kader Posyandu Campaka, Desi Fitriani, optimistis aplikasi POSYNUTRIVA akan membantu kerja kader ke depan.
“Dengan adanya aplikasi POSYNUTRIVA ini, kami yakin nantinya akan sangat membantu kami di Posyandu. Kami bisa lebih mudah memantau pertumbuhan dan status gizi balita, serta menyusun menu dari bahan pangan lokal untuk disampaikan ke ibu-ibu. Semoga aplikasi ini bisa kami manfaatkan dengan baik,” ungkap Desi Fitriani.
Salah satu mahasiswa pelaksana di lapangan, Mutiara Hasnah, mengatakan program ini memberi pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat.
“Kami tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari warga. Harapan kami, apa yang kami dampingi bisa dilanjutkan dan memberi manfaat jangka panjang,” ujar Mutiara Hasnah.
Melalui sinergi riset perguruan tinggi dan kebutuhan riil masyarakat, UTU menegaskan komitmennya mendorong peran nyata mahasiswa dalam mewujudkan ketahanan pangan desa yang tangguh dan berkelanjutan.








































