HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Nestapa Pining di Balik Puing Bencana, Menanti Kepastian di Jalur Terputus

J.PORANG

- Redaksi

Kamis, 23 April 2026 - 23:49 WIB

50374 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES – Di balik perbukitan hijau Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kehidupan warga Kecamatan Pining masih bergulat dengan dampak bencana yang belum sepenuhnya tertangani. Memasuki akhir April 2026, kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir 2025 belum juga pulih, meninggalkan kesulitan berkepanjangan bagi masyarakat setempat.

Jalan penghubung Pining menuju ibu kota kabupaten, Blangkejeren, kini berubah menjadi jalur ekstrem yang sulit dilalui. Material longsor berupa batu besar dan lumpur menutup badan jalan, menciptakan medan berbahaya yang memaksa warga mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas.

Salah satu gambaran paling nyata terlihat saat sebuah ambulans berusaha menembus jalur yang tertutup longsor. Kendaraan itu harus melaju di atas tanah berlumpur yang licin dan miring, berada di sisi tebing curam dengan aliran sungai deras di bawahnya. Dalam kondisi seperti itu, tenaga medis dan sopir ambulans tetap berupaya menjangkau pasien gawat darurat di wilayah Pepelah, meski kendaraan lain tidak lagi berani melintas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketiadaan akses jembatan yang layak juga memaksa warga mencari alternatif berisiko. Sejumlah kendaraan seperti jeep dan mobil bak terbuka harus menyeberangi sungai secara langsung. Air yang keruh dan arus yang deras kerap mencapai setengah badan mobil. Sementara itu, pengguna sepeda motor sering terjebak situasi yang tidak menentu. Pada pagi hari sungai masih dapat dilintasi, namun ketika debit air meningkat pada sore hari, jalur tersebut berubah berbahaya dan memutus akses warga.

Di tengah keterbatasan tersebut, proses evakuasi pasien menjadi potret paling memilukan. Warga harus bergotong-royong menggotong orang sakit menggunakan tandu darurat, berjalan kaki melewati jembatan sempit dari papan kayu yang disusun di atas rangka rapuh. Di bawahnya, arus sungai mengalir deras, membuat setiap langkah harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi.

Kondisi jalan darat pun tidak lebih baik. Truk pengangkut logistik kerap terjebak dalam lumpur yang dalam hingga ban kendaraan tenggelam dan kendaraan nyaris terbalik. Di beberapa titik, batu-batu besar sisa longsoran masih berserakan, memaksa kendaraan bergerak perlahan di jalur sempit yang tidak stabil.

Upaya perbaikan sejauh ini masih bersifat sementara. Jembatan gantung darurat yang telah dibangun hanya dapat dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. Akibatnya, akses bagi ambulans maupun distribusi barang kebutuhan pokok belum sepenuhnya pulih, sehingga aktivitas ekonomi warga tetap terhambat.

Tekanan ekonomi pun semakin terasa. Hasil pertanian seperti kemiri, kakao, pinang, dan kopi tidak dapat dipasarkan secara optimal akibat terputusnya jalur distribusi. Kondisi ini memperpanjang beban warga yang sejak awal telah terdampak bencana.

Kekhawatiran meningkat setiap kali hujan turun. Trauma banjir bandang masih membekas, sementara ancaman banjir susulan terus menghantui. Perubahan tinggi muka air sungai yang cepat membuat warga harus selalu siaga, bahkan pada malam hari.

Melalui berbagai unggahan di media sosial, warga menggambarkan situasi yang tidak kunjung membaik. Mereka tidak hanya berjuang menghadapi kondisi alam, tetapi juga menanggung kelelahan akibat hidup dalam keadaan darurat yang berkepanjangan tanpa kepastian.

Warga Pining kini menanti langkah nyata dari pemerintah untuk memastikan pemulihan infrastruktur secara menyeluruh. Mereka berharap akses jalan dan jembatan segera diperbaiki agar kehidupan dapat kembali berjalan normal, serta memastikan layanan kesehatan dan ekonomi tidak lagi terhambat oleh kondisi yang berisiko.

Berita Terkait

Jalan Nasional di Gayo Lues Kembali Diterjang Banjir, BPJN Dinilai Tutup Mata
Mobil Minibus Hangus Terbakar di Gayo Lues, Petugas Damkar Berjibaku Padamkan Api dan Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat
Pembangunan 5 unit RTLH Program TMMD ke-130 Berlanjut
LPG 3 Kg Sulit Didapat Saat Hujan, Warga Gayo Lues Minta Bupati Turun Tangan
Bupati Gayo Lues Kunjungi Desa Ume Lah Blang Pegayon, Dialog Penuh Keakraban Bahas Masa Depan Kopi Gayo Lues
Ketua BPD Sungai Jering Diduga Pemilik Tambang Ilegal Bukit Keramat yang Tewaskan Operator Asal Medan
Panitia Mulai Merampungkan Persiapan Musda VI DPD ll Partai Golkar Kabupaten Gayo Lues
Program TMMD, Jalan Menuju Perkebunan Masyarakat Kampung Pepelah Dibuka

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 00:27 WIB

Ketua Fast Respon Counter Polri DPW Aceh : Mari Kawal Program Kapolri Baru, Komitmen Pengawasan Dan Sinergi Tak Boleh Kendur

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Kabut Asap Tebal Selimuti Aceh, Warga Diminta Waspada dan Jaga Kesehatan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Asap Karhutla Selimuti 13 Kabupaten Kota di Aceh, Jarak Pandang 2 Kilometer dan Negara Gagal Cegah Bencana Rutin

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Gubernur Aceh Lantik Taufik sebagai Penjabat Sekda, Dorong Perkuatan Koordinasi Pemerintahan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Ketua Umum HMI Komisariat se-Kawasan Cabang Banda Aceh: Mendesak MPK PB HMI Menguji Keabsahan Penetapan Pj Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh dan Mengusut Dugaan Politisasi Organisasi Menjelang Kongres

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Eks GAM Denmark, Eropa Soroti Lambannya Penyerapan TKD, Minta Pengawasan Diperketat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 00:14 WIB

DTPHP Nagan Raya Raih Penghargaan Peringkat I pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan Tahun 2027 Se Provinsi Aceh

Senin, 12 Oktober 2026 - 23:57 WIB

DTPHP Nagan Raya Terima Piagam Penghargaan pada Workshop Sasaran Indikatif Tanaman Pangan 2027

Berita Terbaru