Bener Meriah Baranewsaceh.co – Perjalanan hidup Mulyadi adalah kisah tentang ketekunan, kehilangan, dan pengabdian. Lahir di Sigli pada 1 September 1977, ia merupakan putra pasangan almarhum Bantacut dan almarhumah Siti Zulaicha. Saat itu, sang ibu tengah bertugas sebagai guru di kawasan Kembang Tanjung, Meunasah Krueng, Kota Sigli.
Meski lahir di pesisir Aceh, darah dan jiwanya tumbuh di dataran tinggi Gayo. Keluarga kemudian kembali ke kampung halaman dan menetap di Kampung Reronga, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah.
Namun, masa kecil Mulyadi tidak sepenuhnya berjalan mudah. Ayahanda tercinta wafat pada 1988, ketika ia masih duduk di bangku kelas II SD Negeri 3 Reronga. Duka kembali menyelimuti keluarga saat sang ibunda meninggal dunia beberapa tahun kemudian, meninggalkan Mulyadi bersama tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Bahkan, satu saudara perempuannya telah lebih dahulu berpulang setahun sebelum ibunda wafat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai anak dari seorang pendidik, nilai-nilai kedisiplinan dan kecintaan pada ilmu telah tertanam kuat sejak dini. Mulyadi menempuh pendidikan di SD Negeri 3 Reronga, SMP Negeri 1 Reronga, hingga SMA Negeri 1 Timang Gajah.
Semangat belajarnya membuahkan hasil. Sejak kelas I semester II SMA, ia telah menerima beasiswa prestasi. Baginya, capaian tersebut bukan semata hasil kerja keras pribadi, melainkan doa dan didikan orang tua yang terus menyertainya.
Usai menamatkan SMA, Mulyadi sempat bercita-cita menjadi prajurit TNI. Namun, restu sang ibu tidak mengiringi langkah tersebut. Ia pun memilih jalan lain. Selama dua tahun, ia belum memiliki pekerjaan tetap. Waktu itu diisinya dengan kegiatan positif—aktif dalam olahraga voli, mengikuti kursus bahasa, serta belajar komputer di masa ketika teknologi informasi masih tergolong mahal dan langka.
Kerja kerasnya di bidang olahraga membuahkan prestasi. Sekitar tahun 2002, ia berhasil menorehkan capaian sebagai atlet voli tingkat PORDA, setahun sebelum Kabupaten Bener Meriah resmi di mekarkan.
Mulyadi akrab disapa Mul, memulai pengabdian sebagai tenaga honorer di SMP Negeri 1 Timang Gajah. Sambil mengajar, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Serambi Mekkah dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).
Tahun 2005 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia mengikuti seleksi CPNS dan dinyatakan lulus. Terhitung mulai 1 April 2006, Mulyadi resmi menjadi CPNS dan ditempatkan sebagai guru di SMP Negeri 6 Timang Gajah.
Dedikasi dan konsistensinya dalam dunia pendidikan membuatnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah selama lima tahun. Di tengah kesibukan memimpin sekolah, ia tetap melanjutkan pendidikan dan berhasil meraih gelar Magister Akuntansi di Universitas Syiah Kuala.
Dalam dinamika birokrasi, ia juga pernah merasakan pahitnya pergantian jabatan yang kental dengan nuansa politik. Namun bagi Mulyadi, setiap fase adalah pembelajaran.
Sejak 2018, Mulyadi beralih dari jabatan fungsional ke struktural. Ia memulai sebagai staf promosi, kemudian dipercaya menjadi Kepala Seksi Promosi selama dua tahun. Kariernya terus menanjak hingga menjabat Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata (PSDP) pada Dinas Pariwisata Kabupaten Bener Meriah.
Pengalaman lintas bidang pendidikan dan pariwisata membentuk perspektif kepemimpinan yang adaptif. Hingga akhirnya, ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Camat Pintu Rime Gayo.
Pada Jumat, 18 Februari 2026, Mulyadi resmi ditetapkan sebagai Camat definitif Kecamatan Pintu Rime Gayo, sebuah amanah yang diembannya dengan penuh tanggung jawab.
Bagi Mulyadi, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan ruang pengabdian. Ia meyakini setiap proses baik suka maupun duka adalah bagian dari pembentukan karakter seorang pemimpin.
“Semoga kepercayaan yang diberikan pimpinan daerah dapat kami jalankan sebaik-baiknya demi kemaslahatan masyarakat Kabupaten Bener Meriah, khususnya Kecamatan Pintu Rime Gayo,” ujarnya.
Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada pimpinan daerah, rekan-rekan kerja di Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan, Dinas Dayah, sahabat, serta keluarga besar yang selama ini menjadi sumber dukungan dan kekuatan.
Perjalanan panjang Mulyadi menjadi cermin bahwa keteguhan, kesabaran, dan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan orang tua mampu mengantarkan seseorang menapaki tangga pengabdian hingga dipercaya menjadi sorang pemimpin. (Dani).






































