GAYO LUES — Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menetapkan sejumlah program prioritas untuk mendorong kemajuan daerah. Sekretaris Daerah Gayo Lues, H. Jata, SE., MM, memaparkan rencana pembangunan itu di hadapan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan jajaran pemerintah kabupaten saat pertemuan di Aula Setdakab, Selasa (5/8/2025).
Jata menegaskan, pembangunan konektivitas wilayah menjadi agenda utama. Jalan Lesten–Pulo Tiga disebut bukan sekadar jalur transportasi warga, tetapi poros utama pengangkutan hasil pertanian dan barang dari luar daerah. “Dengan dibangunnya jalan ini, beban biaya angkut masyarakat akan berkurang,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya membangun jalan penghubung Perlak, Kecamatan Tripe Jaya, menuju Aceh Tengah sepanjang sekitar 28 kilometer. Infrastruktur ini diyakini akan memperlancar distribusi hasil bumi dan memperluas akses pasar bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejalan dengan semangat Presiden Prabowo Subianto dalam pengembangan energi baru terbarukan, Jata mengungkap potensi besar Gayo Lues dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Menurutnya, bendungan PLTA tidak hanya memenuhi kebutuhan listrik lokal, tetapi juga berpeluang memasok listrik ke Aceh dan Sumatera Utara untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. “Kalau dibangun dengan APBD, jelas tidak mampu. Kita butuh dukungan pemerintah pusat,” kata Jata.
Di sektor pertanian, ia menilai modernisasi alat menjadi kebutuhan mendesak. Kontur wilayah yang berbukit membuat penggunaan traktor besar tidak efektif. Oleh karena itu, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) skala kecil dinilai lebih sesuai. “Kita juga butuh irigasi dan mesin pengolah seperti minyak nilam atau serai wangi agar sebagian hasil bisa diolah di sini,” ujarnya.
Jata turut menyinggung keresahan warga Kecamatan Putri Betung yang menetap di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pemasangan plang kawasan dinilai menimbulkan kekhawatiran, mengingat masyarakat telah tinggal di lokasi itu secara turun-temurun bahkan sebelum kemerdekaan.
Ia juga mengusulkan perpanjangan landasan bandara atau penambahan jadwal penerbangan. Menurutnya, jarak Gayo Lues ke ibu kota provinsi sangat jauh, sehingga akses udara menjadi krusial. “Mudah-mudahan ini bisa diakomodasi melalui APBN, mengingat kemampuan keuangan daerah sangat terbatas,” tuturnya. (Abdiansyah)








































