Praktik Akuakultur Berkelanjutan: Peran Sistem Ketertelusuran, Remote Sensing, dan Kode QR Dalam Meningkatkan Transparansi

Zulkifli,S.Kom

- Redaksi

Rabu, 28 Agustus 2024 - 19:31 WIB

50209 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Praktik Akuakultur Berkelanjutan, KOLTIVA (Sumber: VRITIMES.com)

Ilustrasi Praktik Akuakultur Berkelanjutan, KOLTIVA (Sumber: VRITIMES.com)

Jakarta, 23 Agustus 2024 — Seiring meningkatnya permintaan global terhadap makanan laut, akuakultur kini menjadi alternatif penting bagi perikanan tradisional dan sumber mata pencaharian bagi jutaan orang di seluruh dunia. Namun, praktik akuakultur yang tidak berkelanjutan dan eksploitasi berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang serius, mengancam sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Tantangan ini, meskipun sering diabaikan, berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan ekonomi.

Serupa dengan eksploitasi berlebihan dalam praktik perikanan tradisional, penggunaan sumber daya terbarukan—seperti tumbuhan, hewan, hutan, ikan, dan invertebrata laut—dapat melebihi kapasitas alam untuk pulih. Ancaman ini sebanding dengan polusi, spesies invasif, dan kerusakan habitat, serta berdampak pada ekonomi komunitas lokal (Britannica: N.D). Dampak ini tidak hanya memengaruhi populasi ikan tetapi juga sumber daya laut lainnya seperti rumput laut, garam laut, udang, dan kepiting, menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem dan kerugian ekonomi. Oleh karena itu, fokus pada budidaya rumput laut, udang, dan kepiting secara berkelanjutan sangat penting untuk melindungi sumber daya ini untuk generasi mendatang.

Sarah HardingHead of Sector Aquatic Resources KOLTIVA, menjelaskan bahwa eksploitasi berlebihan dalam akuakultur dapat merusak keberlanjutan ekosistem laut. Beberapa dampak yang dapat terjadi meliputi:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1.     Panen Berlebih: Penebaran ikan dalam jumlah berlebihan dalam kolam atau tangki dapat menyebabkan penurunan populasi dengan cepat dan merusak kesehatan spesies yang dibudidayakan. Pemanenan yang terlalu sering tanpa memberikan waktu yang cukup untuk pertumbuhan dan reproduksi dapat mengurangi populasi dan menurunkan keragaman genetik.

2.     Stres Lingkungan: Budidaya yang intensif dapat memberikan tekanan besar pada lingkungan, seperti polusi air dan perusakan habitat. Masalah ini berdampak pada kesehatan dan produktivitas spesies yang dibudidayakan.

3.     Penyakit dan Kematian: Kepadatan penebaran yang tinggi serta stres akibat pemanenan berlebihan dapat meningkatkan kerentanan hewan terhadap penyakit, yang akhirnya dapat menambah tingkat kematian dan menurunkan produktivitas.

4.     Pengurasan Sumber Daya: Permintaan tinggi terhadap spesies tertentu sering kali mendorong praktik yang tidak berkelanjutan. Fokus sering kali bergeser ke hasil jangka pendek daripada mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang.

Optimalisasi Akuakultur dengan Teknologi Ketertelusuran Modern

KOLTIVA berkomitmen untuk mentransformasi industri akuakultur dengan solusi teknologi yang meningkatkan transparansi, keberlanjutan, dan produktivitas. Dengan penerapan sistem ketertelusuran seperti KoltiTrace MIS, perusahaan dapat mengadopsi praktik berkelanjutan yang lebih transparan, melestarikan ekosistem, dan memaksimalkan manfaat ekologis serta ekonomi dari produksi akuakultur.

Kemajuan teknologi memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan akuakultur. Remote Sensing dan kode QR adalah alat penting yang memungkinkan pemantauan dan pengelolaan operasi akuakultur dengan lebih baik.

Remote Sensing

Remote Sensing jauh melibatkan pengumpulan data dari kejauhan menggunakan sensor untuk menyediakan informasi komprehensif tentang berbagai sistem di Bumi. Teknologi ini mendukung pn jakaraengambilan keputusan yang lebih baik dengan memanfaatkan kondisi saat ini dan masa depan bumi kita (Earth Data: N.D). Dalam akuakultur, Remote Sensing memungkinkan pemantauan real-time, melakukan prediksi untuk pertumbuhan ikan, serta deteksi ledakan pertumbuhan alga berbahaya dan ancaman lingkungan sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan (MDPI: 2023).

Fariz Kukuh HarwindaProduct Portfolio and Engagement Manager KOLTIVA, menyebutkan bahwa fitur Remote Sensing dapat mengintegrasikan berbagai sumber data, termasuk zonasi pesisir pemerintah dan pemetaan plot. “Dengan menggabungkan data dari zonasi pemerintah dan zonasi pesisir ke dalam sistem KoltiTrace MIS, kami dapat menelusuri transaksi, mengidentifikasi asal-usul, profil produsen, dan memastikan kepatuhan dengan zonasi akuakultur pemerintah,” kata Kukuh.

Didi Adisaputro, Head of Geospatial, Climate, and IOT KOLTIVA, menjelaskan bahwa teknologi Remote Sensing dapat memantau laut dan menghitung potensi produksi secara akurat. “Remote Sensing memungkinkan kami untuk memantau kolam dan mendeteksi hilangnya habitat. Teknologi ini juga dapat memantau kondisi di bawah air untuk melihat distribusi terumbu karang dan rumput laut,” tambah Didi.

Kode QR

Kode QR telah terbukti efektif dalam penelusuran peralatan, manajemen inventaris, dan memberikan informasi rinci kepada konsumen tentang produk hasil laut. Teknologi ini mendukung transparansi dan upaya advokasi terkait isu lingkungan dengan meningkatkan kemampuan ketertelusuran. Kukuh menyebutkan bahwa kode QR diterapkan dalam proyek akuakultur rumput laut dan udang di KOLTIVA. “Kode QR memfasilitasi transparansi dan akuntabilitas dalam praktik budidaya, dengan data yang dibatasi oleh batasan hukum dan memerlukan persetujuan dari pihak terkait,” ujarnya.

Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun dalam mendukung perusahaan multinasional di lebih dari 61 negara, KOLTIVA terus berkomitmen untuk memenuhi beragam kebutuhan industri akuakultur. Dalam sektor sumber daya perairan atau aquatic resources, KOLTIVA mendukung klien dalam praktik akuakultur berkelanjutan di beberapa negara termasuk Indonesia, Filipina, dan Madagaskar dengan lebih dari 6.000 produsen dan 100 usaha kecil menengah yang yang terdaftar. Komitmen ini bertujuan untuk memastikan bahwa praktik bisnis yang bertanggung jawab dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan bisnis dan penjagaan terhadap masa depan bumi.

Tentang KOLTIVA 

Menawarkan teknologi yang berpusat pada kebutuhan manusia dan solusi lapangan yang mendigitalkan agribisnis serta membantu produsen kecil ke praktik berkelanjutan dan sumber daya yang dapat ditelusuri, KOLTIVA diakui sebagai startup pertanian berkelanjutan dan ketertelusuran rantai pasok yang terkemuka asal Indonesia. Sebagai penyedia teknologi global, KOLTIVA membangun rantai pasok yang beretika, transparan, dan berkelanjutan, membantu bisnis dalam memperkuat ketahanan dan transparansi mereka.

KOLTIVA telah membantu bisnis dan pemasok mereka mematuhi peraturan yang selalu berkembang dan tuntutan konsumen di seluruh dunia dengan solusi ketertelusuran. Beroperasi di lebih dari 61 negara dan didukung oleh jaringan 16 kantor dukungan pelanggan, Koltiva teguh dalam mendukung lebih dari 10.800 perusahaan dalam membangun rantai pasokan yang transparan dan kuat sekaligus memberdayakan lebih dari 1.400.000 produsen untuk meningkatkan pendapatan tahunan mereka. www.koltiva.com

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 06– 12 Mei 2026
Pelaku UMKM Kini Bisa Ganti Background Foto Produk Sendiri Tanpa Biaya Mahal 
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 11– 17 Maret 2026
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 11– 17 Maret 2026
Laptop Layar OLED Terbaik: Zenbook & Vivobook dengan Visual Jernih dan Warna Akurat
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 4 – 10 Maret 2026
Tren Digital Marketing 2026 yang Wajib Dipahami Pebisnis Indonesia
Kementerian Keuangan Tetapkan Nilai Kurs untuk Pelunasan Pajak dan Bea Masuk Periode 18 – 24 Februari 2026

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 02:11 WIB

Kekompakan Forkopimda Aceh Kunci Pemulihan dan Pembangunan

Selasa, 5 Mei 2026 - 03:21 WIB

IWOI Aceh Desak Evaluasi Dana Pokir, Minta APH Perketat Pengawasan

Minggu, 3 Mei 2026 - 23:50 WIB

TEROR TERHADAP WARTAWAN FRN ACEH MAKIN BRUTAL! Agus Suriadi Minta Kapolda Perintahkan Kapolres Subulussalam Ringkus Semua Pelaku, Dari OTK Hingga Dalang Intimidasi di Kantor Desa

Kamis, 30 April 2026 - 16:25 WIB

Transformasi ‘Asabiyyah’ di Era Algoritmik dan Dampaknya Terhadap Polarisasi Sosial-Politik Indonesia

Jumat, 24 April 2026 - 01:22 WIB

Bea Cukai Banda Aceh Perkuat Sinergi dengan Stakeholder melalui Kegiatan SEUDATI Bersama Travel Umroh dan Perusahaan Jasa Bandara

Jumat, 24 April 2026 - 01:19 WIB

Bea Cukai Banda Aceh Laksanakan Customs Visit Customers (CVC) dan Serahkan Sertifikat UMKM Binaan kepada CV. Aceh Socolatte

Jumat, 24 April 2026 - 01:17 WIB

Bea Cukai Banda Aceh dan Satpol PP Aceh Amankan MMEA Ilegal di Aceh Besar

Kamis, 23 April 2026 - 15:42 WIB

Mahasiswi USM Raih 3 Emas di Kejurnas Angkat Besi 2026

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

Gotong Royong Satgas TMMD, Rumah Tidak Layak Huni Disulap Jadi Nyaman

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:34 WIB

ACEH BARAT DAYA

Progres Rehab RTLH TMMD ke-128 Kodim Abdya Capai 60 Persen

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:18 WIB

ACEH BARAT DAYA

Kejar Target, Satgas TMMD Abdya Intensifkan Distribusi Bahan Bangunan

Rabu, 6 Mei 2026 - 17:10 WIB