Pihak berkewenangan diharapkan tidak lalai terhadap pasilitas anak didik.
ACEH. BARANEWS. CO, Rabu 8 April 2026 — Kondisi plafon ruang kelas yang rusak di SMP Negeri 1 Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, menjadi perhatian publik di tengah alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang mencapai Rp123,5 juta sepanjang tahun anggaran 2025.
Data dari Komisi Pemberantasan Korupsi melalui platform Jaringan Pencegahan Korupsi mencatat, sekolah dengan 95 siswa itu menerima dana BOS masing-masing Rp61,75 juta pada tahap pertama dan tahap kedua. Besaran tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan alokasi BOS reguler tingkat SMP sekitar Rp1,3 juta per siswa per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penggunaan dana BOS mengacu pada Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOSP Tahun 2025 dalam Permendikdasmen Nomor 8 Tahun 2025, yang memungkinkan anggaran dimanfaatkan untuk operasional sekolah, termasuk pemeliharaan sarana dan prasarana.
Dalam rincian anggaran, SMPN 1 Putri Betung mengalokasikan Rp36.055.000 untuk pemeliharaan sarana dan prasarana, dengan pembagian Rp10.047.000 pada tahap pertama dan Rp26.008.000 pada tahap kedua. Selain itu, dana juga digunakan untuk pembayaran honor sebesar Rp28.460.000, pengembangan perpustakaan Rp20.006.000, administrasi kegiatan sekolah Rp20.188.600, asesmen pembelajaran Rp8.044.400, serta kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler Rp4.700.000.
Namun, kondisi fisik sekolah dinilai tidak mencerminkan adanya perawatan optimal. Sejumlah plafon ruang kelas tampak koyak, berlubang, dan menjuntai, sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan siswa dan guru saat proses belajar mengajar berlangsung.
Kepala SMP Negeri 1 Putri Betung, Ardiansah, menyatakan dirinya baru menjabat pada akhir 2025 sehingga tidak mengetahui secara rinci penggunaan dana BOS pada tahun anggaran tersebut. Ia menyarankan agar konfirmasi terkait realisasi anggaran ditujukan kepada kepala sekolah sebelumnya.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi baik dari pihak kepala sekolah yang menjabat saat ini maupun mantan kepala sekolah terkait penggunaan anggaran pemeliharaan tersebut.
Warga setempat mendesak Aparat Pengawasan Intern Pemerintah untuk melakukan audit guna memastikan transparansi pengelolaan dana pendidikan. Mereka menilai perbaikan sarana sekolah mendesak dilakukan demi menjamin keselamatan dan kenyamanan proses belajar.
Seorang warga Kecamatan Putri Betung, Darwin, mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Ia mengatakan selama ini masyarakat tidak mengetahui besaran dana BOS yang diterima sekolah. Menurut dia, kondisi plafon yang rusak berpotensi membahayakan siswa jika tidak segera diperbaiki.
“Selama ini kami kira tidak ada anggaran khusus. Ternyata ada, tapi kondisi sekolah masih seperti ini. Kami khawatir plafon yang rusak bisa jatuh menimpa siswa,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah perbaikan agar kualitas fasilitas pendidikan meningkat serta kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri tetap terjaga.
(J.porang)










































