ACEH TIMUR | Pelan namun pasti, jalur penghubung antara Aceh Timur dan Gayo Lues melalui Peureulak–Lokop kian mendekati titik terang. Setelah sempat lumpuh total akibat dua kali diterjang banjir bandang dan tanah longsor, upaya pemulihan akses terus memperlihatkan kemajuan. Jalan yang sebelumnya tertutup material longsoran kini mulai dibersihkan, jalur yang sempat hilang tengah dibuka kembali secara darurat, dan distribusi logistik mulai kembali bergerak.
Penanganan darurat di lapangan saat ini telah mencapai kilometer 103, hanya berjarak kurang dari tujuh kilometer dari perbatasan wilayah Gayo Lues yang berada di KM 110. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa dalam waktu dekat, jalur vital ini akan kembali berfungsi dan bisa digunakan meski dalam kapasitas terbatas. Sisa pekerjaan saat ini tinggal 6,4 kilometer, dengan tim gabungan dari kedua kabupaten bekerja dalam ritme cepat untuk mengejar target pembukaan akses secara penuh.
Pengerjaan dilakukan secara simultan dari dua arah: Aceh Timur dan Gayo Lues. Alat berat dikerahkan, bersama dengan personel lapangan yang bekerja nyaris tanpa jeda. Jalan yang runtuh di sejumlah titik telah dialihkan sementara, bagian yang tersapu banjir diperkuat, dan jalur sementara dibuka untuk memastikan arus pergerakan kembali mengalir. Target yang ditetapkan tidak muluk: dalam waktu satu pekan ke depan, jalur ini diharapkan dapat kembali tersambung secara fungsional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak Sabtu (10/1), kabar baik mulai datang dari Gampong Lokop, lokasi yang sebelumnya menjadi titik rawan dan penghambat utama. Jalur darurat di kawasan tersebut kini telah kembali dapat dilalui oleh kendaraan. Tidak hanya sepeda motor dan mobil pribadi, kendaraan berkapasitas besar seperti truk DT bahkan hingga pesawat logistik darat sekelas Hercules juga sudah berhasil melintasi wilayah ini. Pergerakan logistik yang sempat terhambat kini mulai berjalan kembali, dan mobilitas warga secara bertahap mulai menunjukkan tanda pemulihan.
Pemulihan akses jalan ini tidak hanya berarti terbukanya jalur fisik, tetapi juga keterhubungan sosial, ekonomi, dan pelayanan dasar yang sempat terputus. Warga yang selama beberapa pekan terakhir terisolasi kini bisa bepergian kembali, pasokan kebutuhan dasar mulai menjangkau desa-desa yang sebelumnya sulit diakses, dan pendistribusian bantuan dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan dapat dilakukan lebih cepat.
Akses Peureulak–Lokop memiliki peran strategis dalam menopang konektivitas antarwilayah di pedalaman Aceh. Jalur ini menjadi tulang punggung penghubung antara wilayah timur dan tengah Aceh, terlebih bagi daerah seperti Gayo Lues yang secara geografis berada di kawasan pegunungan dan memiliki keterbatasan jalur keluar. Ketika jalur ini lumpuh, tidak hanya aktivitas ekonomi yang terganggu, tetapi juga penyaluran bantuan kemanusiaan dan layanan publik yang sangat bergantung pada konektivitas darat.
Selama masa tanggap darurat, segenap unsur pemerintah daerah, TNI, dan relawan bahu-membahu melakukan pembersihan jalur dan pembukaan akses sementara. Fokus kini telah bergeser ke tahap transisi menuju pemulihan fungsional, dengan pendekatan tanggap cepat namun tetap memperhatikan aspek keselamatan pengerjaan. Sebab, kontur jalur yang rawan longsor membutuhkan solusi jangka panjang agar tak lagi menjadi titik kegentingan saat cuaca ekstrem melanda.
Proses pemulihan jalan ini menjadi bagian dari semangat lebih luas: menghubungkan kembali kehidupan yang sempat terhenti. Ia bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga jembatan emosional antara warga dengan rasa aman dan akses dasar yang layak. Langkah-langkah ke depan dirancang bukan hanya untuk mengembalikan kondisi seperti sebelumnya, tetapi dengan prinsip Build Back Better—membangun kembali dengan mutu yang lebih baik, tahan bencana, dan menjamin keberlanjutan mobilitas jangka panjang.
Masyarakat yang selama ini bertahan dengan kondisi serba terbatas kini mulai melihat harapan. Pulihnya jalur Peureulak–Lokop secara bertahap telah membalikkan peta isolasi menuju konektivitas. Jalan yang mulai terbuka kembali memberi ruang untuk keadaan menjadi lebih stabil, dan menjadi pijakan awal menuju pemulihan yang utuh—baik dalam dimensi fisik, sosial, maupun psikologis. (*)







































