Penulis : Anisa Mei Lina Wati
Di era digital sekarang sudah pada canggih, hampir mustahil menemukan mahasiswa yang langsung melangkah ke rak buku fisik saat mencari jawaban atas sebuah pertanyaan. Mereka cukup ketik beberapa kata kunci di bilah pencarian Google, dan dalam hitungan detik, ribuan sampai jutaan informasi sudah kita dapatkan. Kenyataan ini memunculkan sebuah pertanyaan yang eksprektif: ketika Google Menjadi Pilihan Pertama, Di Manakah sebenarnya posisi perpustakaan?
“Bukan Cuma Buat Simpan Buku Lagi, Perpustakaan Sekarang Sudah Jadi Tempat Kumpul Kedua Setelah Rumah”
Dulu, orang selalu menganggap bahwa perpustakaan cuma sebagai gedung tua tempat menyimpan buku. Waktu semua informasi pindah ke HP dan laptop, lewat e-book, jurnal online, dan Google, perpustakaan sempat bingung harus bertahan seperti apa.
Tetapi, kalau dibilang perpustakaan sudah tidak berguna lagi cuma gara-gara kalah cepat dari Google itu salah besar. Google memang cepat dan punya semua jawaban, tapi Google sering kasih informasi yang belum tentu benar atau tidak jelas sumbernya.
Sekarang, fungsi perpustakaan sudah berubah. Perpustakaan bukan hanya sekadar tempat buat pinjam buku, tapi sudah jadi ruang ketiga tempat kumpul publik yang nyaman selain di rumah dan kantor atau sekolah. Perpustakaan sekarang berubah jadi tempat kerja kelompok, tempat belajar pakai teknologi, tempat diskusi, sampai menjadi tempat yang tenang buat orang-orang yang butuh fokus di tengah berisiknya media sosial.
“Google Memang Serba Cepat, Tapi Cuma Perpustakaan yang Jamin Informasinya Enggak Ngasal.”
Keunggulan utama Google adalah gampang dan bisa dibuka kapan saja. Tapi di balik gampangnya itu, ada informasi yang hoaks, berita palsu, dan tulisan tidak jelas yang cuma ngejar klik (clickbait). Cara kerja pencarian Google itu mengutamakan apa yang lagi populer dan iklan, bukan mana yang benar-benar akurat atau bisa dipercaya.
Di sinilah perpustakaan dan pustakawan kembali terasa penting. Perpustakaan tidak perlu bersaing cepat dengan Google, tetapi menawarkan informasi yang lebih dalam dan jelas asal-usulnya. Pustakawan zaman sekarang bertugas jadi penunjuk jalan untuk bantu pemustaka, terutama anak muda dan pelajar buat memilih mana berita asli dan mana yang palsu, mengajari cara riset yang benar, serta mengajak orang untuk tidak gampang percaya begitu saja sama apa yang muncul di medsos atau Google.
“Menatap Masa Depan: Jalan Bareng, Bukan Saling Saing”
Pertanyaan “lalu di mana posisi perpustakaan sekarang?” tidak perlu dijawab dengan gaya adu argumen. Perpustakaan tidak perlu memaksa lawan Google buat jadi yang paling cepat. Malah, kekuatan utama perpustakaan ada pada kemampuannya untuk saling melengkapi dan menyeimbangkan.
Google memang kasih kita jutaan link, tapi perpustakaan kasih kita penjelasan isi, ruang kumpul komunitas, dan dapat bantuan langsung dari pustakawan. Sekarang, perpustakaan digital (seperti aplikasi iPusnas) juga sudah ada di dalam HP kita. Ini membuktikan kalau perpustakaan tidak ketinggalan zaman dan makin fleksibel ikuti perkembangan teknologi. (*)









































