GAYO LUES | Desa Agusen, sebuah permukiman kecil di ujung Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, kini menunjukkan semangat baru dalam menghadapi cobaan hidup. Setelah dihantam banjir bandang pada November lalu yang melumpuhkan hampir seluruh sektor ekonomi dan sosial, warga setempat memilih bangkit dan menata kembali kehidupan dengan bertumpu pada aktivitas budidaya kopi.
Kondisi di lapangan menunjukan bahwa hampir seluruh penduduk Agusen, yang mayoritasnya berprofesi sebagai petani, kini mengandalkan komoditas kopi sebagai sumber pemasukan utama. Musim panen yang tiba berbarengan dengan masa pemulihan pasca-bencana menjadi titik balik yang signifikan bagi perekonomian desa. Hasil panen kopi inilah yang menjadi tumpuan bagi para keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membangun kembali potensi ekonomi yang sempat lumpuh.
Letak Agusen yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser memberikan keuntungan tersendiri, sebab tanah di wilayah ini tergolong sangat subur untuk tanaman kopi. Potensi lahan pertanian yang tersedia pun cukup memadai untuk menopang kegiatan budidaya dalam skala rumah tangga. Namun, seiring antusiasme warga yang berupaya memperluas usaha tani, terbuka pula tantangan terkait keterbatasan lahan produktif.
Persoalan keterbatasan lahan menjadi perhatian serius di tengah upaya percepatan pemulihan ekonomi. Warga berharap agar pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret, salah satunya dengan memfasilitasi pembukaan dan legalisasi lahan baru. Aspirasi yang berkembang ialah pembebasan sebagian kecil area di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser serta kawasan hutan lindung untuk menambah luas garapan sekitar 300 meter ke arah atas. Usulan ini dinilai penting sebagai solusi jangka panjang agar masyarakat tidak kembali kesulitan mencari sumber pendapatan apabila bencana serupa terjadi di kemudian hari.
Geliat ekonomi dari sektor kopi telah membawa optimisme di antara masyarakat Agusen. Meski jalan menuju pemulihan masih menghadapi banyak tantangan, tekad dan gotong royong warga menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kini, harapan tertuju pada kebijakan yang berpihak kepada petani, agar ketahanan ekonomi desa dapat terjaga serta menjadi contoh ketangguhan komunitas pedesaan di tengah ancaman bencana alam. (*)









































