HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Plang Larangan Sudah Berdiri, Aktivitas PT Rosin Tak Tersentuh—Siapa yang Melindungi?

J.PORANG

- Redaksi

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:10 WIB

50486 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poto diduga limbah berbusa dari perusahaan dibuang bebas tanpa Pilter yang benar

 

Rabu, 6 Mei 2026

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BARANEWS. ACEH – Operasional PT Rosin di Desa Pinang Rugup, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, menuai sorotan tajam setelah perusahaan pengolah getah pinus itu diduga tetap beroperasi meski izin telah mati dan larangan resmi dari pemerintah provinsi telah dipasang di lokasi. Aktivitas yang berlangsung tanpa kepastian legalitas tersebut kini memicu keluhan warga akibat dugaan pencemaran udara dan air.

Di depan area perusahaan, pemerintah sebelumnya telah memasang plang larangan beroperasi lengkap dengan dasar hukum pelanggaran. Namun, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas produksi masih berjalan. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat, terutama terkait siapa pihak di balik perusahaan yang dinilai berani mengabaikan instruksi pemerintah.

Warga sekitar mengeluhkan asap tebal yang terus mengepul dari proses pengolahan getah pinus. Bau menyengat disebut menyelimuti permukiman, mengganggu aktivitas sehari-hari, hingga berdampak pada kenyamanan hidup. Selain itu, limbah cair diduga dibuang langsung ke aliran sungai tanpa melalui sistem penyaringan memadai.

Sungai Kuala Tripe yang berada di sekitar lokasi menjadi titik kekhawatiran utama. Selama ini, sungai tersebut menjadi sumber kehidupan warga, mulai dari irigasi sawah, kolam ikan, hingga kebutuhan rumah tangga. Dugaan pencemaran limbah berbahaya berpotensi merusak ekosistem dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada aliran sungai tersebut.

Yanto, warga yang rumahnya berada tepat di depan salah satu perusahaan getah pinus yang juga mendapat teguran dari pemerintah provinsi namun tetap beroperasi, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia mengaku memiliki pengalaman bekerja di industri serupa dan memahami standar pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Saya pernah kerja di perusahaan getah pinus, jadi paham limbah B3. Seharusnya ada beberapa tahap penyaringan, bahkan sampai enam bak filter sebelum dibuang ke sungai. Di sini saya tidak lihat itu dilakukan. Di ujung pembuangan saja, rumput dan kayu terlihat seperti terbakar. Itu tanda limbahnya berbahaya,” ujarnya.

Menurut Yanto, dampak limbah memang tidak selalu terlihat secara langsung, namun dalam jangka panjang dapat mematikan ekosistem, termasuk telur ikan di aliran sungai. Ia khawatir jika kondisi ini dibiarkan, masyarakat akan kehilangan sumber penghidupan secara perlahan.

Di sisi lain, muncul pula dugaan bahwa perusahaan tersebut dimiliki oleh pihak asing, sehingga menambah keresahan warga yang merasa tidak mendapatkan manfaat ekonomi signifikan dari keberadaan industri tersebut. Justru, dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih dirasakan.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak perusahaan terkait status izin maupun tudingan pencemaran lingkungan. Sementara itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah dan provinsi untuk bertindak tegas, memastikan penegakan hukum berjalan, serta melindungi lingkungan dan kehidupan warga dari potensi kerusakan yang lebih luas. (J.porang)

Berita Terkait

Polda Kalteng Usut 12 Perusahaan Terkait Karhutla, Satu Korporasi Jadi Tersangka
Ditegur Singapura, Negara Kalah Tegas: Tujuh Korporasi Indonesia Diancam Denda Akibat Ekspor Kabut Asap
Mobil Minibus Hangus Terbakar di Gayo Lues, Petugas Damkar Berjibaku Padamkan Api dan Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat
Pembangunan 5 unit RTLH Program TMMD ke-130 Berlanjut
LPG 3 Kg Sulit Didapat Saat Hujan, Warga Gayo Lues Minta Bupati Turun Tangan
Singapura Layangkan Surat kepada Tujuh Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap Lintas Batas
Bupati Gayo Lues Kunjungi Desa Ume Lah Blang Pegayon, Dialog Penuh Keakraban Bahas Masa Depan Kopi Gayo Lues
Ketua BPD Sungai Jering Diduga Pemilik Tambang Ilegal Bukit Keramat yang Tewaskan Operator Asal Medan

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:38 WIB

Keluarga Temukan Bekas Luka Tembak, Kematian Bharada Valdo di Markas Polairud Memicu Tuntutan Investigasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Darah di Markas Polairud: Tragedi Kematian Bharada Valdo yang Menyisakan Tanda Tanya Besar

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:32 WIB

57.000 Orang Utan Kehilangan Habitat Akibat Karhutla, Kematian Massal Tak Tercatat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Karhutla Indonesia Seluas 900.000 Hektare Disorot Media Asing, Setara Empat Kali Luas Tokyo

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:49 WIB

Bayang-Bayang Kabut Asap, Singapura Kembali Bidik Tujuh Perusahaan di Balik Karhutla Indonesia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Aturan Pidana Baru, Sinergi Aparat Penegak Hukum di Tengah Tantangan Implementasi KUHP dan KUHAP Nasional

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Polri Perang Terbuka Lawan Kampung Narkoba, Rekam Jejak Internal Bakal Dievaluasi

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:55 WIB

Kapolri Instruksikan Bareskrim Usut Tuntas Dugaan Tindak Pidana di Sektor Pasar Modal

Berita Terbaru

KABAR DUKA

Irjen Polisi Purnawirawan Napoleon Bonaparte Tutup Usia

Minggu, 18 Okt 2026 - 22:13 WIB