GAYO LUES | Pemerintah Kabupaten Gayo Lues terus bekerja memastikan kelancaran distribusi logistik dan terjaganya konektivitas wilayah di tengah tantangan cuaca ekstrem yang melanda dalam beberapa hari terakhir. Tingginya curah hujan secara intensif menyebabkan gangguan akses darat ke dan dari Gayo Lues, khususnya pada jalur lintas nasional yang menghubungkan kabupaten ini dengan Aceh Tenggara. Sejumlah titik di jalur tersebut mengalami kerusakan hingga tidak dapat dilalui secara optimal, dengan kondisi terparah terjadi pada ruas jalan yang amblas sepanjang lebih dari satu kilometer.
Di tengah keterbatasan tersebut, jalur udara melalui Bandara Blangkejeren menjadi tumpuan utama distribusi bantuan dan pergerakan logistik. Keberadaan fasilitas penerbangan ini terbukti krusial dalam memastikan daerah tetap dapat terhubung dengan wilayah luar, khususnya selama masa tanggap darurat. Bupati Gayo Lues Suhaidi menjelaskan bahwa meskipun memiliki keterbatasan pada sisi teknis, Bandara Blangkejeren tetap bisa diandalkan dalam mendukung pengiriman bantuan logistik dari pemerintah pusat, provinsi, serta lintas instansi lainnya. Ia menyebut bandara tetap beroperasi secara optimal dengan melayani pendaratan pesawat kecil dan helikopter, berkat panjang landasan pacu yang mencapai 810 meter.
Menurut Suhaidi, kontribusi Bandara Blangkejeren terhadap kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor sangat nyata. Dalam masa-masa krisis sebelumnya, bandara menjadi pintu masuk utama berbagai jenis bantuan, mulai dari sembako, peralatan darurat, hingga kunjungan pejabat pemerintahan yang datang meninjau langsung dampak bencana. Peran tersebut menegaskan pentingnya infrastruktur udara bagi aksesibilitas dan ketahanan logistik di wilayah-wilayah pegunungan yang rentan terisolasi saat terjadi bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemkab Gayo Lues kini mendorong pengembangan Bandara Blangkejeren sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat konektivitas daerah. Dengan kondisi topografi wilayah yang sebagian besar berupa perbukitan dan akses darat yang rentan terganggu oleh cuaca ekstrem, opsi transportasi udara dipandang sebagai solusi penting dalam menjawab kebutuhan warga, khususnya saat jalur darat tidak bisa difungsikan. Oleh karena itu, pemerintah daerah berharap adanya dukungan penuh dari kementerian terkait untuk memperpanjang landasan pacu bandara. Dengan perpanjangan tersebut, diharapkan pesawat dengan kapasitas sedang dan besar seperti ATR maupun Hercules dapat mendarat, bahkan memungkinkan kehadiran pesawat berbadan lebar seperti Boeing 737 pada masa depan.
Pengembangan ini, menurut Suhaidi, bukan semata proyek fisik, melainkan bagian dari upaya peningkatan pelayanan publik. Sebab dengan bandara yang lebih representatif, distribusi bantuan akan lebih cepat, sembako serta kebutuhan vital masyarakat dapat lebih lancar dikirimkan, dan mobilitas penduduk tidak tergantung sepenuhnya pada jalur darat yang rawan terganggu. Gayo Lues juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan konektivitas antarwilayah di Aceh jika infrastruktur transportasi udara yang tersedia mampu menjangkau segmen yang lebih luas.
Bupati juga menyampaikan apresiasinya atas dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta sinergi semua pihak yang telah menopang operasional Bandara Blangkejeren selama masa darurat. Menurutnya, bandara ini bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga menyimpan fungsi strategis dalam situasi bencana. Ia berharap, upaya perbaikan infrastruktur jalan yang sedang berlangsung juga dapat diselesaikan secara bertahap meski dihadapkan pada tantangan berat seperti kontur tanah rawan longsor dan medan yang sulit.
Dukungan lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan kondisi di Gayo Lues. Pemerintah daerah menyatakan optimisme bahwa dengan gotong royong, wilayahnya tidak hanya mampu pulih dari bencana, melainkan juga membangun ketahanan jangka panjang melalui penguatan infrastruktur dasar. Dalam jangka dekat, keandalan jalur darat akan terus diperjuangkan, sementara bandara tetap menjadi jalur vital untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat tidak terhenti meski alam sedang tidak bersahabat. (Abdiansyah)







































