GAYO LUES | Proses pembukaan kembali jalur penting yang menghubungkan Aceh Timur dengan Kabupaten Gayo Lues melalui ruas Peureulak–Lokop kini memasuki tahap akhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pemulihan akses jalan provinsi tersebut hampir selesai dan tinggal selangkah lagi menuju keterhubungan fungsional. Jalur yang sebelumnya tertutup akibat banjir bandang dan tanah longsor ini dinilai sangat vital untuk menghubungkan wilayah pedalaman Gayo Lues dengan kawasan pantai timur Aceh, terutama dalam mendukung mobilisasi penduduk dan distribusi logistik pascabencana.
Menurut keterangan resmi Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, penanganan darurat atas terputusnya jalur Aceh Timur–Gayo Lues dilakukan secara bertahap oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Aceh. Proses perbaikan mencakup pembersihan material longsoran, normalisasi badan jalan, serta pembangunan jalur darurat atau akses sementara yang dapat dilalui kendaraan pengangkut logistik. Penanganan difokuskan pada segmen jalan dari kilometer 36 hingga kilometer 103, menjelang batas administratif Kabupaten Gayo Lues yang berada di kilometer 110.
Sisa jalur sepanjang 6,4 kilometer saat ini menjadi sasaran utama pengerjaan dengan target keterhubungan fungsional atau functional connectivity dalam kurun waktu satu pekan. Untuk mendukung pencapaian target tersebut, Dinas PUPR Aceh mengoptimalkan pengerahan alat berat dan tenaga teknis di lapangan. Pekerjaan ini juga dilakukan secara paralel dari dua arah, yaitu dari sisi Aceh Timur dan Gayo Lues, dengan titik temu atau meeting point di kilometer 110. Strategi ini diterapkan untuk mempercepat pertemuan jalur dan memastikan jalur alternatif dapat segera digunakan oleh masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jalur Peureulak–Lokop sendiri bukan hanya penting secara strategis, namun juga menjadi satu-satunya akses bagi sejumlah desa di pedalaman. Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 sempat melumpuhkan seluruh aktivitas transportasi di jalur tersebut. Pemerintah provinsi merespons cepat dengan membangun akses darurat dalam kurun waktu 30 hari. Namun, upaya ini kembali menghadapi tantangan pada awal Januari 2026, ketika banjir bandang kedua melanda wilayah kilometer 83 di Gampong Lokop dan membuat jalur darurat kembali putus.
Kondisi darurat itu segera ditangani, dan dalam waktu lima hari, jalur kembali difungsikan. Uji fungsi kendaraan dilakukan pada 10 Januari 2026, dan hasilnya menunjukkan bahwa jalur darurat tersebut kini dapat dilalui kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan berat jenis DT-Hercules. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam proses pemulihan dan menandai dimulainya masa transisi dari darurat ke tahap pemulihan (transition to recovery).
Meskipun bersifat sementara, pengoperasian kembali jalur transportasi ini telah berdampak besar bagi masyarakat. Pemulihan akses telah mempermudah distribusi bantuan logistik ke wilayah terpencil, memperlancar mobilisasi tenaga medis dan relawan, serta mendukung percepatan alur evakuasi. Ketersediaan jalur tersebut juga memungkinkan pemerintah daerah melanjutkan pendataan kerusakan, distribusi bantuan, serta penyusunan rencana relokasi permukiman warga yang terdampak berat, khususnya di kawasan Gayo Lues yang banyak diapit perbukitan dan dialiri sungai.
Ke depan, pemerintah merancang langkah rehabilitasi dan rekonstruksi secara permanen untuk jalur ini. Prinsip ketahanan bencana menjadi bahan utama perencanaan, sejalan dengan pendekatan Build Back Better yang telah menjadi acuan dalam pembangunan pascabencana di berbagai wilayah. Perencanaan ini mencakup pembangunan jalan aspal yang lebih kuat, penguatan lereng, drainase yang optimal, serta sistem pemantauan cuaca dan tanah untuk mencegah risiko longsor berulang.
Pemulihan jalur Aceh Timur–Gayo Lues melalui Peureulak–Lokop tidak hanya bernilai infrastruktur, tetapi juga merepresentasikan kerja kolektif pemerintah pusat dan daerah dalam menjamin keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah rawan bencana. Akses jalan yang hampir pulih sepenuhnya adalah langkah nyata menuju pemulihan menyeluruh di wilayah terdampak, sekaligus menjawab harapan ribuan warga yang menggantungkan hidup pada konektivitas antarwilayah. (red)







































