GAYO LUES | Pemulihan pascabencana di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terus menjadi perhatian pemerintah pusat. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui kunjungan kerja Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri ke Kecamatan Dabun Gelang untuk meninjau langsung kondisi persawahan Aih Badak yang terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu.
Sawah-sawah yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi warga kini berubah wajah setelah dilanda lumpur dan material banjir. Dalam tinjauan hari Minggu (11/1/2026), pemerintah pusat mendorong agar area pertanian yang terdampak tersebut segera direvitalisasi agar kembali produktif dan menopang ketahanan pangan daerah. Upaya ini diposisikan sebagai bagian dari program nasional optimalisasi lahan yang dicanangkan bersama Kementerian Pertanian.
Pemerintah menggarisbawahi bahwa sawah terdampak di wilayah ini akan masuk dalam skema optimalisasi lahan, bukan pencetakan sawah baru. Langkah tersebut dinilai lebih cepat diterapkan untuk wilayah yang telah memiliki areal pertanian eksisting, tetapi mengalami kerusakan. Dalam skema ini, lahan akan dibersihkan dari lumpur dan kerusakan lainnya, lalu didukung melalui bantuan benih, pupuk, jaringan irigasi, alat-alat mesin pertanian, serta infrastruktur pendukung lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini nantinya akan dikoordinasikan lebih lanjut melalui rapat teknis kementerian dan lembaga terkait, sebagai bagian dari program besar swasembada pangan nasional yang menjadi prioritas Presiden. Untuk sawah-sawah dengan kerusakan berat, peremajaan total juga menjadi opsi, namun tetap menyesuaikan dengan konteks lokal dan kendala geografis masing-masing wilayah.
Selain dari sektor pertanian, pemerintah juga mencermati aspek pemulihan permukiman penduduk. Masih terdapat sejumlah kampung yang rumah warganya berada dalam kondisi rusak akibat bencana. Dalam hal ini, pemerintah menetapkan skema bantuan stimulan berdasarkan kategori: rusak ringan sebesar Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat Rp60 juta. Data rumah terdampak diminta segera diselesaikan oleh pemerintah kabupaten agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secepatnya.
Untuk rumah rusak berat yang membutuhkan relokasi total atau pembangunan hunian tetap (huntap), pemerintah daerah menghadapi tantangan khusus berupa keterbatasan lahan. Di Kabupaten Gayo Lues, belum tersedia lahan milik pemerintah yang siap pakai untuk pembangunan huntap. Usulan pengadaan lahan dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp25 miliar telah diajukan oleh Bupati dan akan disampaikan lebih lanjut kepada kementerian teknis, khususnya Kementerian PUPR dan Kementerian ATR/BPN.
Pemerintah juga mendorong agar masyarakat terdampak bencana yang mengalami penurunan pendapatan dapat diakomodasi dalam program bantuan sosial reguler. Beberapa skema yang diidentifikasi ialah Program Keluarga Harapan (PKH), Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk BPJS Kesehatan, serta program peningkatan keterampilan dan produktivitas melalui Kartu Prakerja. Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengusulkan langsung nama-nama calon penerima berdasarkan kondisi sosial ekonomi terkini.
Dari sisi ketersediaan logistik, pemerintah mencatat bahwa akses jalan ke Gayo Lues mulai pulih secara bertahap, sehingga distribusi bantuan dan mobilitas warga perlahan kembali berjalan. Meski sejumlah titik masih memerlukan penanganan teknis di lapangan, jalur utama penghubung dari dan ke kabupaten ini telah berfungsi kembali dalam kapasitas terbatas. Distribusi bahan bakar minyak, kebutuhan pokok, serta gas LPG dilaporkan kembali stabil di tingkat lapangan.
Menanggapi permintaan tambahan cadangan pangan berupa beras dari pemerintah daerah, pemerintah pusat menegaskan bahwa bantuan logistik untuk situasi bencana dapat diberikan secara gratis dan tidak termasuk dalam program stabilisasi harga pangan umum. Penyaluran melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) akan dilakukan sesuai dengan permintaan resmi dan pertimbangan kebutuhan riil di lapangan.
Secara umum, kegiatan perekonomian masyarakat di Gayo Lues mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Aktivitas pasar, warung, penginapan dan restoran sudah kembali buka. Meski belum sepenuhnya pulih, kehidupan warga perlahan bangkit dari keterpurukan. Pemulihan ini diharapkan terus didukung oleh intervensi nyata dari pemerintah pusat, baik dalam bentuk program pertanian, perbaikan infrastruktur dasar, maupun jaminan perlindungan sosial.
Langkah integratif ini menjadi bagian dari kerangka pemulihan pascabencana yang bukan hanya merespons darurat, tetapi membangun kembali kehidupan masyarakat dengan pendekatan jangka panjang yang lebih tahan terhadap risiko. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh program yang berjalan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan keunikan masing-masing daerah, sehingga upaya pemulihan tidak sekadar formalitas, melainkan benar-benar mampu mengembalikan daya hidup komunitas yang terdampak. (*)







































