Gayo Lues, Baranews – Upaya memperluas akses pendidikan dan mendorong pemerataan kesempatan belajar di Gayo Lues mendapat perhatian serius dari Bunda PAUD Kabupaten Gayo Lues, Rita Elviani. Dalam rangka mendukung program nasional Wajib Belajar (Wajar) 13 Tahun, ia mengunjungi TK Negeri Pembina Blangkejeren, Selasa (29/07/2025), untuk mensosialisasikan pentingnya pendidikan sejak usia dini.
Program Wajar 13 Tahun merupakan kebijakan nasional yang bertujuan menjamin seluruh warga negara mendapatkan pendidikan minimal selama 13 tahun, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Kebijakan ini sekaligus menjadi fondasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Di TK Negeri Pembina, Rita Elviani berdialog dengan para guru dan tenaga pendidik tentang penerapan konkret program tersebut di lingkungan PAUD. Menurutnya, tahap PAUD bukan sekadar “penitipan anak”, melainkan fase kritis pembentukan karakter dan kesiapan anak untuk jenjang pendidikan berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau kita ingin mencetak generasi emas, mulainya bukan dari SMA, bukan dari SD, tapi dari PAUD. Di sinilah pondasi itu diletakkan. Karena itu, program wajib belajar 13 tahun dimulai dari sini,” ujarnya dalam dialog yang berlangsung akrab dan sarat komitmen.
Kunjungan tersebut bukan hanya simbolik. Rita mendengarkan langsung masukan dari para guru tentang berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan sarana belajar, belum meratanya pelatihan guru PAUD, hingga masih rendahnya kesadaran sebagian orang tua tentang pentingnya pendidikan usia dini.
“Tidak cukup hanya membangun gedung. Kita juga harus bangun pemahaman dan kesadaran masyarakat. Masih banyak yang menganggap PAUD tidak penting. Padahal ini investasi jangka panjang,” tambah Rita.
Setelah kunjungan ke TK, rombongan Bunda PAUD melanjutkan kegiatan ke SD Negeri 4 Blangkejeren untuk melihat langsung proses belajar-mengajar. Di sekolah ini, ia meninjau ruang kelas, berdialog dengan siswa, dan mengapresiasi upaya para guru yang tetap konsisten menjaga semangat belajar di tengah berbagai keterbatasan.
Kehadiran Bunda PAUD di dua lembaga pendidikan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah tidak hanya mendorong program dari atas, tetapi juga hadir langsung di bawah—mendengarkan, mencatat, dan mencari solusi bersama para pelaksana pendidikan di lapangan.
Program Wajar 13 Tahun sendiri merupakan kelanjutan dari Wajib Belajar 9 Tahun yang telah berlangsung sebelumnya. Penambahan empat tahun ini bertujuan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, di mana pendidikan menengah dianggap sebagai standar minimal untuk bersaing di era global.
Namun, sebagaimana disampaikan sejumlah guru dalam diskusi, keberhasilan program ini tidak bisa dilepaskan dari peran aktif seluruh pihak—dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga komunitas. Pendidikan bukan semata urusan sekolah, melainkan tanggung jawab bersama.
Dengan gerakan yang dimulai dari bawah, seperti yang dilakukan di Gayo Lues, program Wajar 13 Tahun berpeluang bukan hanya sebagai kebijakan nasional yang mengambang, tapi sebagai gerakan pendidikan yang benar-benar membumi.(Abdiansyah)








































