GAYO LUES | Sudah lebih dari dua pekan pascabanjir bandang yang melanda wilayah Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, tujuh desa di wilayah tersebut masih belum tersambung kembali ke jaringan listrik. Akibatnya, masyarakat terpaksa hidup dalam kondisi gelap gulita setiap malam. Aktivitas menjadi terbatas, dan kebutuhan dasar seperti penerangan serta pengisian daya alat komunikasi harus ditempuh dengan usaha ekstra.
Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo, SIK melalui Kapolsek Pining, IPDA Safuandi, dalam pernyataannya yang dikutip dari kanal YouTube SINDOnews pada 10 Januari 2026, menjelaskan bahwa hingga saat ini warga dari sejumlah desa terdampak masih mendatangi pusat kegiatan di wilayah Pining untuk mengecas telepon genggam dan senter guna digunakan sebagai penerangan di rumah masing-masing. Kondisi ini terjadi lantaran listrik dari PLN belum juga pulih usai bencana banjir bandang terjadi pada 25 Desember 2025 lalu.
“Dapat kami informasikan bahwa sampai dengan saat ini, masyarakat masih mendatangi pos Pining untuk mengecas HP maupun senter. Ini digunakan sebagai penerangan di rumah karena sampai saat ini, pasca banjir melanda wilayah Gayo Lues khususnya Kecamatan Pining, listrik dari PLN belum hidup,” ungkap IPDA Safuandi dalam keterangan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
IPDA Safuandi menyebutkan, terdapat tujuh desa yang terdampak pemadaman listrik berkepanjangan, yakni Desa Kepelang, Desa Pintuime, Desa Ekan, Desa Persik, Desa Pining, Desa Lesten, dan Desa Pasir Putih. Ketujuh desa tersebut mengalami pemutusan aliran listrik total sejak banjir melanda kawasan tersebut.
Sebagai langkah tanggap darurat, Pos Polsek Pining bersama Forasda Aceh menyediakan satu unit genset yang digunakan secara gratis oleh masyarakat untuk mengisi daya perangkat seperti HP dan senter. Pelayanan ini dibuka setiap hari dan menjadi satu-satunya solusi sementara bagi warga yang membutuhkan penerangan saat malam hari.
“Pining tetap menyediakan fasilitas mengecas HP ataupun senter secara gratis kepada masyarakat hingga saat ini. Di Forasda Pining ini, kami menyiapkan satu genset yang digunakan untuk mengecas HP maupun senter. Setelah HP dan senter terisi baterai, masyarakat langsung kembali ke rumah dan menggunakannya sebagai penerangan,” kata IPDA Safuandi.
Warga yang datang ke pos tersebut umumnya meluangkan waktu beberapa jam untuk menunggu pengisian daya, kemudian kembali ke rumah masing-masing agar perangkat tersebut bisa digunakan sepanjang malam. Layanan ini menjadi krusial, terutama karena akses ke berbagai kebutuhan lain pun masih terbatas pascabanjir.
Situasi ini memperlihatkan masih minimnya pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak banjir. Beberapa akses jalan utama dan fasilitas umum juga diketahui mengalami kerusakan berat. Sampai berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi dari pihak penyedia listrik mengenai jadwal pemulihan layanan di tujuh desa tersebut.
Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk mempercepat proses perbaikan jaringan listrik dan prasarana lainnya agar kehidupan warga bisa kembali normal. Dalam kondisi yang serba terbatas, solidaritas masyarakat dan bantuan dari aparat setempat menjadi harapan utama dalam menanggulangi dampak bencana yang masih terasa hingga kini. (RED)







































