Gayo Lues — Di tengah misi mendesak pengiriman bantuan logistik ke desa terisolasi di pedalaman Aceh, momen mengharukan terjadi saat awak helikopter TNI AU menerima sepikul durian dari warga Desa Ekan, Kecamatan Pining, Gayo Lues, sebagai ungkapan terima kasih. Di tengah keterbatasan dan dampak bencana yang masih membayangi, warga desa tetap menunjukkan sikap mulia: berbagi dengan ketulusan.
“Di balik deru baling-baling, tersimpan kisah kemanusiaan yang mempertemukan prajurit dan masyarakat dalam satu semangat saling menguatkan,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).
Misi kemanusiaan tersebut berlangsung Selasa (23/12/2025) menggunakan helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara yang diterbangkan dari titik landasan terdekat menuju Desa Ekan. Sedikitnya 1.000 kilogram bantuan logistik diterbangkan ke wilayah yang hingga kini belum sepenuhnya dapat diakses lewat jalur darat. Medan geografis yang berat serta kerusakan infrastruktur akibat longsor menyebabkan distribusi bantuan hanya dapat dilakukan melalui udara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setibanya di lokasi pendaratan darurat, helikopter disambut puluhan warga yang dengan sigap membantu proses pembongkaran bantuan. Setelah logistik diturunkan, sejumlah warga mendekati para prajurit dan menyerahkan beberapa butir durian yang dipetik dari kebun sendiri. Walau sederhana, pemberian itu memuat makna mendalam — rasa terima kasih dari mereka yang menerima uluran tangan di tengah himpitan bencana.
“Bagi para awak, hadiah kecil itu menjadi energi tambahan di tengah jadwal padat dan tantangan cuaca. Sebuah tanda bahwa kerja keras mereka diterima dengan penuh keikhlasan,” ujar Nyoman.
Menurut laporan TNI AU, Kecamatan Pining termasuk salah satu wilayah yang masih sangat sulit diakses akibat longsor besar yang menimbun badan jalan utama. Di beberapa titik, jembatan penghubung putus dan jalur pendakian tertutup pohon tumbang. Hal ini menjadikan pengiriman bantuan menjadi tantangan tak ringan. Operasi udara harus mempertimbangkan faktor angin, jarak pandang, serta kebutuhan darurat yang terus berubah.
Meski begitu, semangat kolaboratif antara prajurit dan warga menjadi suplai utama yang menjaga irama kerja kemanusiaan di lapangan. Kesederhanaan durian yang dibagikan menjadi simbol bagi jalinan empati, bahkan ketika warga sendiri tengah bergelut dengan kondisi sulit.
Hingga kini, pengiriman bantuan ke desa-desa terisolasi di Gayo Lues terus dilakukan secara bertahap menggunakan dukungan udara dan relawan di darat. Pemerintah daerah bersama TNI dan berbagai unsur masyarakat berupaya menjangkau titik-titik terdampak untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari distribusi bantuan.
Di balik segala keterbatasan, tercermin satu pesan kuat dari lereng Gayo Lues: bahwa di tengah bencana, solidaritas tetap berbuah.[*]






































