Gayo Lues – Meski waktu telah berlalu hampir satu bulan sejak bencana hidrometeorologi menghantam Gayo Lues, Aceh, dampaknya masih terasa kuat di berbagai sektor. Foto udara menunjukkan hamparan persawahan yang tertimbun lumpur di Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, salah satu wilayah terdampak paling parah. Warga masih bergelut memulihkan kehidupan, di tengah keterbatasan akses dan minimnya infrastuktur darurat.
Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh, sedikitnya **1.866 hektar lahan sawah di 11 kecamatan** mengalami kerusakan. Sebagian besar terlihat mengering, tertimbun lumpur, dan belum bisa digarap kembali oleh petani. Desa Pasir, yang berada di aliran sungai dan lereng perbukitan, termasuk salah satu wilayah yang sawahnya rusak parah.
“Sudah hampir sebulan kami hanya bisa melihat sawah kami seperti ini. Tidak bisa ditanam, tidak tahu kapan kembali pulih,” ungkap seorang warga kepada tim relawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya sektor pertanian yang lumpuh, sektor pendidikan pun turut terdampak. Di tengah bangunan **Sekolah Dasar Negeri 3 Tripe Jaya** yang rusak, masih terlihat **poster Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka**, serta gambar burung garuda yang tertempel di dinding ruang kelas yang kini tertutup lumpur.
Data dari Posko Tanggap Darurat mencatat, **enam fasilitas pendidikan** di beberapa kecamatan mengalami kerusakan bervariasi — mulai dari rusak ringan hingga tak dapat difungsikan sama sekali. Beberapa sekolah masih tertimbun material lumpur, peralatan belajar mengajar hilang, dan akses ke sekolah masih sulit dilalui.
Di sisi lain, akses wilayah juga belum sepenuhnya pulih. Sebanyak **303 kepala keluarga di Desa Pasir masih terisolir** karena **putusnya jembatan penghubung utama**. Dalam kondisi terbatas, warga terpaksa melintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan **jembatan tali darurat**, sebagai satu-satunya jalur keluar masuk desa menuju Desa Uyem Beriring.
Jembatan tersebut menggantung di atas derasnya aliran sungai. Tidak hanya digunakan untuk aktivitas harian, jalur ini menjadi satu-satunya akses warga dalam memperoleh bantuan logistik dan layanan kesehatan.
Situasi ini menggambarkan bahwa pemulihan yang dibutuhkan warga Gayo Lues tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas pendidikan, pertanian, dan keamanan warga yang masih berada di zona rentan.
Pemerintah pusat telah menyampaikan komitmen untuk melakukan percepatan rehabilitasi. Namun, hingga saat ini koordinasi dan logistik masih menjadi tantangan, khususnya di wilayah dengan akses terbatas seperti Kecamatan Tripe Jaya.
Sejumlah lembaga kemanusiaan telah mendistribusikan bantuan darurat, namun tidak semua warga dapat menjangkaunya secara rutin. Proses evakuasi dan pengiriman logistik masih mengandalkan perjalanan darat panjang dan melintasi medan berat pascabencana.
Dengan potensi bencana susulan dan kondisi cuaca yang belum stabil, perhatian lebih terhadap percepatan pembangunan kembali infrastruktur dasar menjadi kebutuhan mendesak. Warga berharap, pemerintah daerah dan pusat bergerak cepat agar roda kehidupan dapat kembali berjalan.
Kehilangan akses ke lahan pertanian, berhentinya aktivitas belajar mengajar, serta keterisolasian warga menggambarkan bahwa Gayo Lues belum benar-benar keluar dari situasi darurat. Mereka butuh lebih dari sekadar bantuan sesaat — mereka membutuhkan strategi pemulihan jangka panjang yang menyentuh akar kebutuhan masyarakat. (Red)






































