GAYO LUES | Lebih dari satu bulan setelah banjir bandang melanda Desa Palok, Kecamatan Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kondisi permukiman warga belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Hingga Sabtu (3/1/2026), atau 38 hari pascabencana, tumpukan kayu dan batu masih memenuhi pekarangan rumah warga serta menutupi akses ke sejumlah titik permukiman.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa proses pembersihan lingkungan terdampak banjir masih berlangsung lambat. Material berukuran besar seperti kayu gelondongan dan batu besar yang terbawa arus banjir masih menumpuk di berbagai titik, menyulitkan akses warga untuk kembali ke rumah maupun memulai upaya perbaikan. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala utama.
Warga terdampak pun terpaksa melanjutkan hari-hari mereka di tenda-tenda sementara yang didirikan pascabencana. Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, kehidupan di pengungsian terus berjalan dalam keterbatasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Muhammad Amin, salah seorang warga yang terdampak langsung, menuturkan bahwa rumahnya rusak berat akibat terjangan banjir bandang. Sejak kejadian hingga kini, ia bersama keluarganya masih tinggal di tenda pengungsi karena kondisi lingkungannya belum layak untuk dihuni.
“Sudah memasuki hari ke-38 pascabanjir bandang, kami masih bertahan di tenda pengungsian karena rumah mengalami kerusakan parah. Lokasi permukiman belum bisa dibersihkan karena tumpukan kayu dan batu masih memenuhi pekarangan rumah warga,” kata Amin.
Ia berharap adanya bantuan alat berat dari pemerintah untuk mempercepat proses pembersihan lingkungan. Menurutnya, jika hanya mengandalkan tenaga manual dari warga, pekerjaan tersebut akan sulit rampung dalam waktu dekat. Luas dan beratnya material yang terbawa banjir menjadi hambatan utama.
“Kalau hanya mengandalkan tenaga manual sangat sulit. Kami berharap pemerintah bisa segera menurunkan alat berat untuk membantu membersihkan material kayu dan batu yang masih menumpuk,” ujarnya.
Selain kebutuhan jangka pendek seperti pembersihan lingkungan, warga juga mendorong percepatan pembangunan hunian sementara (huntara). Menurut mereka, tenda darurat yang digunakan saat ini tidak lagi layak sebagai tempat tinggal, terutama untuk keperluan jangka menengah.
“Kami berharap hunian sementara bisa segera dibangun, apalagi sebentar lagi memasuki bulan puasa. Rasanya sangat berat jika harus terus tinggal di tenda pengungsian dalam kondisi seperti ini,” tambah Amin.
Banjir bandang yang melanda Desa Palok akhir November lalu menyebabkan kerusakan berat pada pemukiman, jalan, dan fasilitas umum. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan berat, sementara akses jalan dan layanan dasar turut terganggu. Bencana ini juga memaksa ratusan warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Satu bulan lebih sejak kejadian, proses rehabilitasi masih berjalan terbatas. Pemerintah daerah dan instansi terkait tengah menyusun tahapan pemulihan, namun di sisi lain masyarakat berharap adanya percepatan penanganan, terutama dalam hal pembersihan lingkungan, pembangunan hunian sementara, serta pemulihan fasilitas umum dan layanan dasar.
Dengan bulan suci Ramadan yang semakin dekat, kebutuhan akan tempat tinggal yang layak, serta air bersih dan sanitasi yang memadai, menjadi semakin mendesak. Warga berharap dukungan pemerintah baik di tingkat daerah maupun pusat dapat terus diperkuat, agar pemulihan tidak hanya berlangsung cepat, tetapi juga adil dan menyentuh kebutuhan nyata di lapangan. (*)







































