GAYO LUES – Pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, upaya pemulihan tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan psikologis warga terdampak, terutama anak-anak. Melalui kegiatan trauma healing, Polres Gayo Lues hadir di tengah lokasi pengungsian untuk membantu anak-anak mengatasi trauma akibat bencana.
Sebanyak lebih dari 150 anak yang tinggal di pengungsian mengikuti kegiatan trauma healing yang digelar oleh kepolisian. Kegiatan ini berlangsung di posko pengungsian yang berjarak sekitar 17 hingga 19 kilometer dari Desa Agusen, lokasi yang paling terdampak dan sempat dilaporkan hilang akibat terjangan banjir bandang. Dalam posko tersebut, sekitar 280 kepala keluarga mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Trauma healing dilakukan dengan pendekatan sederhana namun penuh makna. Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, berdoa bersama, dan mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membangkitkan semangat dan kebersamaan. Suasana hangat terlihat saat para petugas kepolisian bergabung dalam berbagai permainan yang melibatkan interaksi dan tawa anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut KBO Binmas Polres Gayo Lues, Ipda Lina Afriani, kegiatan ini dirancang agar anak-anak tidak larut dalam kesedihan mendalam atau mengalami trauma berkepanjangan akibat bencana. Melalui pendekatan emosional yang disesuaikan dengan usia mereka, proses pemulihan dini diharapkan dapat mencegah gangguan psikologis lebih lanjut.
Ipda Lina menjelaskan bahwa meskipun anak-anak kehilangan rumah dan tidak bisa bermain di halaman tempat mereka biasa bercengkerama dengan teman-temannya, kegiatan ini bisa menjadi jembatan awal untuk bangkit kembali. Senyum-senyum kecil mulai tampak di wajah mereka, menjadi pertanda bahwa ketegangan emosional perlahan mencair.
Selain permainan dan sesi doa bersama, Polres Gayo Lues juga menggelar nonton bersama dan berbagai aktivitas yang memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri. Kehadiran polisi sebagai pendamping bukan hanya memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga menghadirkan dukungan moral di tengah ketidakpastian yang mereka hadapi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemulihan menyeluruh pascabencana, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali fisik, tetapi juga aspek psikososial. Kepolisian memastikan bahwa keterlibatan mereka dalam fase tanggap darurat juga meliputi perhatian terhadap kesejahteraan mental warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
Upaya trauma healing oleh Polres Gayo Lues mencerminkan pentingnya sentuhan kemanusiaan dalam penanganan bencana. Di tengah tenda-tenda darurat dan sisa-sisa reruntuhan, hadir tawa dan semangat baru yang perlahan mewarnai hari-hari anak-anak pengungsi. Mereka mungkin kehilangan rumah, namun tidak kehilangan harapan. ***






































