slot preparation.lsrs.lu

Perjuangan Tim Medis di Gayo Lues: Menembus Sungai dan Pegunungan Demi Obat dan Harapan

Redaksi Bara News

- Redaksi

Kamis, 11 Desember 2025 - 04:33 WIB

50455 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES |  Selama dua pekan terakhir, denyut kemanusiaan terus berdetak di pedalaman Gayo Lues, Aceh. Di tengah medan berat pascabanjir bandang dan tanah longsor, tim medis tak mengenal lelah menembus desa-desa terisolasi. Mereka hadir membawa lebih dari sekadar obat dan perban—juga harapan bagi ribuan warga yang terdampak bencana.

Medan terjal dan curam akibat longsoran tanah yang menutup jalur utama tidak menyurutkan semangat tim kesehatan ini. Selama 14 hari berturut-turut, mereka bergerak menyusuri jalanan sempit yang rusak dan nyaris putus, menempuh perjalanan kaki berjam-jam menembus perbukitan dan lembah terjal menuju titik-titik terdampak yang sulit dijangkau kendaraan.

Dikutip dari Kompas TV, Desa Tetumpun di Kecamatan Putri Betung menjadi salah satu tujuan penting tim dalam misi kemanusiaan ini. Terpencil di balik deretan bukit, akses ke desa ini sempat benar-benar tertutup setelah longsor memutus jalan masuk. Namun tim medis tetap melangkah, membawa ransel berisi logistik kesehatan sambil memikul tanggung jawab memastikan para korban tetap mendapat layanan medis dasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Tetumpun, perjalanan mereka berlanjut ke Desa Remukut, wilayah yang terletak lebih jauh ke arah barat daya Gayo Lues. Jalur yang dilalui bukan hanya sempit dan berlumpur, namun juga seringkali harus dilalui dengan kehati-hatian penuh mengingat tebing curam di sisi jalan dan reruntuhan tanah yang masih labil. Tanpa kendaraan, jalur ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sambil mengangkut perlengkapan medis secara manual.

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa tim bahkan harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan rakit sederhana untuk mencapai desa-desa yang benar-benar terisolasi. Tanpa jembatan, mereka menjadikan rakit dari batang bambu atau kayu sebagai satu-satunya moda transportasi air. Hujan yang kadang turun di tengah perjalanan membuat risiko bertambah, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan, meyakini bahwa di ujung sana ada banyak jiwa menanti bantuan.

Pelayanan kesehatan darurat menjadi tembok terakhir sebelum kondisi warga memburuk. Di beberapa titik, relawan medis melayani warga di pos-pos sementara—berupa balai desa, tenda darurat, bahkan rumah warga yang dijadikan tempat perawatan. Obat-obatan dasar, peralatan periksa, serta layanan konsultasi menjadi kebutuhan prioritas yang mereka penuhi, meskipun dengan alat seadanya.

Meski demikian, semangat para tenaga medis ini tidak surut. Mereka bukan hanya mengobati luka fisik akibat bencana, tapi juga menyentuh sisi psikologis warga yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, atau sumber penghidupan. Setiap senyum dan pelukan warga menjadi penguat langkah tim yang bekerja lebih dari sekadar profesi, tapi juga panggilan nurani.

Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus berupaya memulihkan akses ke desa-desa terdampak secara bertahap. Namun selama infrastruktur utama belum pulih, upaya-upaya semacam ini—yang mengandalkan kekuatan fisik, keberanian, dan niat tulus—yang menjadi sandaran warga di garis terdepan bencana.

Kisah perjuangan tim medis menyusuri gunung, menyeberangi sungai, dan merawat mereka yang terluka, mencerminkan bahwa di tengah keterbatasan, masih ada mereka yang berjalan jauh demi menjangkau yang paling terdampak. Di Gayo Lues, langkah kaki mereka bukan hanya mengantar bantuan, tapi juga mengetuk kembali semangat hidup masyarakat yang sempat tercerabut oleh bencana. (*)

Berita Terkait

Ironi Gagal Bayar Puluhan Miliar, BPKK Gayo Lues Malah Bobol Kas Daerah demi Kelebihan Bayar TPK!
Penertiban Pedagang di Blangkejeren Dinilai Tebang Pilih, Lapak Pedagang Buah Dibongkar
Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga
Longsor di Tiga Titik Tutup Total Jalan Lintas Kutacane-Blangkejeren, Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat Tak Bisa Melintas
Normalisasi Sungai Jadi Kunci di Gayo Lues, Jembatan Putus Hambat Evakuasi Warga
Ratusan Hektare Sawah di Gayo Lues Kembali Panen Pascabencana Banjir 2025
Pemkab Gayo Lues Kebut Penyerapan Dana TKD untuk Pemulihan Infrastruktur Pascabencana
Pemkab Gayo Lues Berpacu dengan Waktu di Tengah Keterbatasan Anggaran untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 10:00 WIB

Pererat Kemitraan dengan Forkopimda dan Lintas Sektor, PWI Nagan Raya Gelar Makan Siang Bersama

Senin, 2 November 2026 - 13:26 WIB

Kapolres Nagan Raya Berikan Penghargaan kepada 63 Personel Berprestasi, Apresiasi Dedikasi dan Kinerja dalam Pelaksanaan Tugas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 02:20 WIB

Jamaluddin Idham Raih Penghargaan JAB Award 2026 sebagai Wakil Rakyat Responsif dan Aspiratif

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:33 WIB

Dekat dengan Masyarakat, Brimob Kompi 2 Batalyon C Pelopor Tebar Kebaikan di Nagan Raya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:35 WIB

Temui Nelayan Gosong Telaga Aceh Singkil, Jamaluddin Idham: Suara Masyarakat Pesisir Harus Didengar dan Diperjuangkan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:45 WIB

Masjid Giok Jadi Pusat Peringatan Milad GAM ke-50 di Nagan Raya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Sumpah Pemuda ke-98, Arief Martha Rahadyan Serukan Aksi Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:21 WIB

Sambangi Petani di Sawah, Jamaluddin Idham Siap Perjuangkan Alsintan dan Infrastruktur Pertanian Simeulue

Berita Terbaru

GAYO LUES

Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:42 WIB