Pengungsi Bencana Gayo Lues Mulai Diserang Penyakit, Anak-Anak Bertahan di Tenda Darurat

Redaksi Bara News

- Redaksi

Senin, 22 Desember 2025 - 01:41 WIB

50423 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar

GAYO LUES – Suasana berbeda kini menyelimuti gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Blang Kejeren, Desa Lempuh, Kecamatan Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Gedung yang biasanya digunakan sebagai pusat pelatihan tenaga kerja itu, sejak pertengahan Desember berfungsi sebagai lokasi pengungsian darurat bagi korban bencana banjir bandang dan longsor yang melanda kawasan tersebut pada akhir November lalu.

Sebanyak 932 jiwa dari 265 kepala keluarga asal Desa Agusen tercatat menempati posko pengungsian tersebut setelah rumah mereka rusak parah atau bahkan hanyut terbawa arus akibat bencana hidrometeorologi. Desa Agusen merupakan salah satu daerah terdampak paling parah dalam musibah yang melanda sejumlah wilayah di Gayo Lues. Warga yang selamat langsung dievakuasi menuju pusat kabupaten, menempuh jarak puluhan kilometer dari pemukiman semula.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di antara barisan tenda-tenda darurat yang berdiri di dalam dan sekitar halaman gedung BLK, anak-anak terlihat bertahan bersama orang tua mereka, beraktivitas dalam keterbatasan. Tanpa ruang bermain layak dan dengan minimnya fasilitas belajar, mereka mengisi hari-hari dengan kegiatan seadanya. Meski sesekali terdengar tawa kecil, dinamika kehidupan pengungsian mulai meninggalkan dampak fisik dan psikologis, terutama bagi kelompok rawan seperti anak-anak dan lansia.

Pascabencana, tantangan di posko pengungsian tidak hanya menyangkut penyediaan logistik dan tempat tinggal sementara, namun juga persoalan kesehatan yang semakin mencuat. Petugas dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dikerahkan untuk memantau dan memberikan pelayanan medis secara rutin di lokasi pengungsian. Dalam sepekan terakhir, petugas mencatat peningkatan kasus penyakit yang dialami warga, seperti pilek, batuk, demam, gatal-gatal, serta keluhan kaki kesemutan. Tak sedikit pula warga yang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi akibat kelelahan dan stres.

Di ruang pelayanan kesehatan darurat, petugas medis dengan sigap memeriksa pasien, mempersiapkan obat-obatan, serta memberikan penyuluhan singkat kepada warga tentang upaya menjaga kebersihan dan kesehatan di tengah situasi darurat. Suplai obat-obatan menjadi salah satu kebutuhan penting yang terus diupayakan terpenuhi oleh pihak-pihak terkait, mengingat kemungkinan meningkatnya jumlah pengungsi yang jatuh sakit dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk keperluan sehari-hari, warga mengandalkan pasokan air bersih yang dikirim secara berkala. Salah satu unit penyaluran air bersih disediakan tak jauh dari pintu utama posko, menjadi titik antrean warga yang datang membawa jeriken atau wadah lainnya. Bagi sebagian besar pengungsi, kebutuhan dasar seperti air, makanan, pakaian layak, hingga perlengkapan tidur masih menjadi tantangan, terlebih dalam cuaca hujan dan suhu dingin yang sering melanda kawasan pegunungan tersebut.

Hingga saat ini, koordinasi antara pemerintah daerah, kementerian terkait, dan aparat posko tanggap darurat terus dilakukan untuk menjaga stabilitas kebutuhan logistik, kesehatan, dan keamanan pengungsi. Meski bantuan mulai berdatangan, kondisi di posko pengungsian masih jauh dari kata ideal. Banyak keluarga yang hidup dalam satu tenda bersama kerabat lainnya karena terbatasnya ruang bagi setiap kepala keluarga.

Pemerintah daerah terus memantau situasi di posko secara rutin, termasuk upaya relokasi jangka menengah apabila kondisi pemukiman asal tidak memungkinkan untuk segera ditempati. Pemulihan infrastruktur dan kesiapan hunian sementara menjadi langkah lanjutan yang tengah dipertimbangkan untuk mempercepat masa transisi para penyintas.

Bencana yang terjadi di Gayo Lues menjadi pengingat betapa rentannya masyarakat di daerah rawan bencana terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Di tengah keterbatasan, solidaritas dan kerja bersama menjadi kunci untuk bertahan. Bagi para pengungsi di BLK Blang Kejeren, hari-hari penuh ketidakpastian masih berlanjut, sambil menggantungkan harapan pada bantuan kemanusiaan dan perhatian berkelanjutan dari semua pihak. (*)

 

 

 

 

Berita Terkait

Siswi Kelas IV SD Negeri 6 Blangkejeren Diduga Dianiaya Kakak Kelas, Orang Tua Desak Sekolah Bertindak
7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sosial kepada Korban Kebakaran Desa Lukup Baru
Hasan G Aman Selena Berpulang Kerahmatullah di RS Adam Malik Medan
Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum
Usai Rapat Siaga Karhutla, Damkar Gayo Lues Hadapi Dua Kebakaran dalam Hitungan Jam
Antrean Panjang di Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane, Warga Keluhkan Sistem Buka-Tutup
Kadis Damkar Gayo Lues Gelar Rapat Siaga Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:57 WIB

Mahasiswa Trumon Tantang Desak DLH Aceh Selatan Transparan: Jika PT ATAK Terbukti Cemari Krueng Luas, Proses Hukum!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 00:02 WIB

Warga Samadua Tolak Rekomendasi DPRK Aceh Selatan, Dinilai Berikan Karpet Merah untuk Perusahaan Tambang

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:21 WIB

Teken Petisi Tolak Tambang, Kini DPRK Merekomendasikan IUP Samadua: Konsistensi Dipertanyakan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:17 WIB

Warga Samadua Tolak Perusahaan Tambang, Koalisi: Izin Bukan Cek Kosong

Rabu, 19 Agustus 2026 - 02:14 WIB

3 Keuchik di Kemasjidan Air Sialang Samadua Resmi Tolak IUP PT MMS, 2 Keuchik Cabut Rekomendasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:02 WIB

DPRK Aceh Selatan Didesak Bongkar Dugaan Maladministrasi Izin Perusahaan Tambang di Samadua

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:51 WIB

Ribuan Warga Samadua Kompak Tolak Tambang, Desak Rekomendasi Eksplorasi Dicabut!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Bupati Aceh Selatan Didesak Merdekakan Samadua dari Bayang-bayang Perusahaan Tambang

Berita Terbaru