GAYO LUES, 24 Desember 2025 — Penanganan infrastruktur yang rusak akibat banjir besar di kawasan Sumatra, termasuk di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, dinilai berlangsung sangat lamban. Kerusakan badan jalan, amblesnya jalur utama, serta putusnya jembatan-jembatan penghubung membuat distribusi logistik ke permukiman warga yang terisolasi tidak berjalan optimal. Akibatnya, masyarakat di sejumlah wilayah terdampak terpaksa mencari jalan sendiri, bahkan harus mempertaruhkan nyawa demi menjangkau sanak saudara atau mengantar bantuan pangan.
Salah satu peristiwa tragis terjadi pada Selasa (23/12) lalu saat seorang warga asal Kampung Jawa, Kecamatan Blang Kejeren, bernama Ermayadi (40), ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang di jalur Blang Kejeren–Pining. Saat kejadian, korban sedang dalam perjalanan pulang usai mengantar bahan makanan ke keluarganya yang terisolasi di pedalaman Kecamatan Pining, wilayah yang hingga kini masih sulit dijangkau akibat rusaknya akses darat pascabanjir bandang akhir November lalu.
Dikutip dari *Media Indonesia*, korban yang mengendarai sepeda motor penuh muatan bahan pokok harus melintasi jalur terjal dan rawan longsor. Beberapa titik jalan yang ia lewati diketahui sudah mengalami ambles parah. Selain itu, jembatan penghubung di beberapa titik juga rusak berat, memaksa warga menempuh jalur hutan dan lereng bukit secara manual. Dalam perjalanan pulang, Ermayadi kehilangan kendali pada motor yang dikendarainya dan diduga terperosok ke jurang di turunan curam dekat Desa Pepelah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Informasi meninggalnya korban diketahui oleh warga lain dan pejalan kaki yang kebetulan melintasi jalur yang sama beberapa saat kemudian. “Tidak diketahui persis bagaimana kejadiannya, karena di lokasi itu tidak ada sinyal komunikasi dan berada di lintasan gunung. Saat warga hendak memberi pertolongan, nyawa Ermayadi sudah tidak tertolong,” ujar Masykur, tokoh masyarakat Kecamatan Pining.
Proses evakuasi dilakukan secara gotong royong oleh warga sekitar yang turut membantu mengangkat jenazah dari dasar jurang. Begitu laporan disampaikan, Bupati Gayo Lues Suhaidi langsung menginstruksikan tim BPBD beserta petugas kesehatan untuk mengevakuasi korban dan membawanya ke rumah duka. Ironisnya, sehari sebelum kecelakaan terjadi, Bupati diketahui sempat bertemu dengan korban saat sedang meninjau kondisi lapangan di wilayah Pining. Ia bahkan berdialog singkat menanyakan tujuan dan kondisi perjalanan korban.
Kondisi ini menambah catatan keprihatinan terhadap lambatnya respons pascabencana yang menyulitkan warga. Meski pemerintah telah menyatakan kesiapan menghadapi dampak bencana sejak banjir dahsyat melanda pada 26–27 November lalu, realitas di lapangan menunjukkan pemulihan berjalan sangat lambat. Akses logistik belum merata, distribusi pangan tersendat, dan infrastruktur darurat belum sepenuhnya tersedia di titik-titik kritis.
Budayawan Aceh, M. Adli Abdullah, menilai kejadian seperti yang menimpa Ermayadi seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah pusat maupun daerah. Menurutnya, perhatian tidak hanya diberikan pada distribusi bantuan, tetapi juga pada penyelamatan nyawa dan pemulihan ekonomi warga pedalaman pascabencana. “Banyak warga kita yang masih terjebak tanpa akses. Mereka bukan hanya butuh sembako, tapi juga jalur aman agar hasil bumi mereka bisa keluar. Hasil panen yang ditunggu berbulan-bulan kini hanya bisa dibusukkan di ladang,” ujar dosen senior Universitas Syiah Kuala itu.
Kawasan-kawasan seperti Kecamatan Pining dikenal sebagai wilayah dengan kontur pegunungan curam yang sangat rentan terhadap bencana longsor. Rusaknya jalur utama membuat keterisolasian menjadi lebih parah. Selain bahan pangan, hasil bumi seperti buah, biji-bijian, dan hasil panen lain tidak dapat dijual ke luar kawasan, memperparah situasi ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah didesak untuk segera menuntaskan perbaikan infrastruktur utama, termasuk pembangunan jembatan darurat dan pembukaan jalan alternatif. Selain itu, sinergi lintas sektor mutlak diperlukan untuk memastikan penanganan bencana tidak hanya fokus pada aspek logistik sesaat, melainkan juga menjangkau pemulihan sosial dan ekonomi warga secara menyeluruh. ***






































