GAYO LUES | Pemerintah Kabupaten Gayo Lues terus memperkuat langkah penanganan kedaruratan pascabencana melalui pelaksanaan rapat koordinasi lintas sektor yang berlangsung di Umah Pitu Ruang, Rabu, 7 Januari 2025. Dalam forum tersebut, berbagai pemangku kepentingan di tingkat kabupaten dan pusat duduk bersama untuk menyelaraskan strategi tanggap darurat, khususnya dalam pembangunan hunian sementara (huntara), pembukaan akses jalan, hingga percepatan distribusi logistik ke wilayah terdampak.
Perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diwakili oleh Dr. Kheriawan, M.M., menyampaikan garis besar rencana strategis pembangunan huntara bagi warga terdampak bencana. Berdasarkan hasil pendataan kebutuhan, jumlah huntara yang akan dibangun mencapai 3.051 unit, tersebar di 20 titik lokasi dengan kesiapan lahan yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Gayo Lues bersama masyarakat pemilik lahan. Ini menunjukkan sinergi yang cukup kuat antara pemerintah daerah dan warga dalam upaya pemulihan yang berbasis solidaritas dan gotong royong.
Sebagai proyek percontohan, saat ini tengah berlangsung pembangunan 133 unit huntara di Dusun Brigep, Kecamatan Dabun Gelang. Pembangunan huntara tersebut berdiri di atas lahan seluas dua hektar lebih dan menjadi titik awal dari seluruh pembangunan yang direncanakan. Pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan pendekatan sistem kopel, yang terdiri dari lima unit rumah per kelompok. Target pembangunan cukup ketat, yakni satu kopel diselesaikan dalam satu minggu, dan secara kolektif seluruh unit diharapkan rampung pada hari Minggu mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap unit huntara dibangun dengan ukuran 3,5 meter x 7 meter, menggunakan material utama berupa baja ringan untuk rangka, atap seng, serta dinding berbahan bilik. Selain itu, tiap unit dilengkapi fasilitas dasar berupa satu unit toilet agar penghuni memiliki tempat tinggal darurat yang layak secara dasar. Pendekatan desain dan pengerjaan huntara mempertimbangkan aspek kecepatan, efisiensi, serta ramah terhadap karakteristik geografis wilayah Gayo Lues.
Pembukaan akses jalan menjadi salah satu faktor penentu dalam efektivitas penanganan pascabencana. Distribusi material, bahan bangunan, serta logistik lainnya masih sangat bergantung pada keberfungsian jalan sebagai jalur utama. Saat ini, jalur Gayo Lues–Kutacane masih menghadapi hambatan serius dengan adanya tiga titik longsoran besar yang mengganggu arus kendaraan. Di Dusun Tetumpun, walaupun jalur telah dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, dua tumpukan longsoran besar masih menutup sebagian jalur nasional, menghambat kelancaran distribusi barang dan orang.
Wakil Bupati Gayo Lues, H. Maliki, S.E., M.AP, dalam arahannya di hadapan peserta rapat menyampaikan pentingnya dukungan peralatan berat seperti beko (excavator) serta ketersediaan bahan bangunan untuk mempercepat kegiatan gotong royong masyarakat dalam pembangunan huntara. Ia juga menyampaikan keprihatinan terhadap kendala di sektor logistik, khususnya akses jalan menuju Kecamatan Pining yang hanya dapat dilalui oleh kendaraan bermesin ganda, dan itu pun bergantung pada kondisi cuaca di lapangan. Medan yang sulit serta tekanan kondisi cuaca menyebabkan penyaluran bantuan logistik mengalami keterlambatan dan kerentanan terhadap risiko di perjalanan.
Komitmen penanganan bencana juga ditegaskan oleh Dandim 0113/Gayo Lues, Letkol Arm. Fran Desiafan Eka Saputra, S.H. Dalam forum tersebut, Dandim menyatakan kesiapan unsur TNI untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak tanpa terkecuali, termasuk daerah-daerah terpencil seperti Terangun, Pining, dan Agusen. Dandim menegaskan bahwa personel TNI siap menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan roda empat, motor trail, hingga berjalan kaki, demi memastikan bantuan logistik dan alat penunjang lainnya sampai ke tangan masyarakat.
Dalam hal pengelolaan logistik, tercatat sebanyak 4,1 ton beras telah berhasil dikirimkan ke wilayah Gayo Lues menggunakan pesawat Casa serta helikopter dari BNPB. Pengiriman tersebut menjadi langkah awal penting untuk menjamin kebutuhan makanan pokok warga terdampak. Distribusi beras dan logistik lainnya terus dipercepat setiap hari melalui jalur udara dari Lanud Soewondo Medan dan Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Dandim pun menyatakan tengah berkoordinasi dengan pihak Bulog Kutacane untuk pengiriman tambahan beras ke lokasi bencana. Dalam hal ini, kesiapan gudang-gudang penyimpanan di titik akhir seperti di daerah Putri Betung juga menjadi perhatian utama untuk menjaga kualitas logistik dan menghindari kerusakan akibat cuaca.
Untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi, strategi khusus mulai diterapkan. Salah satunya adalah dengan pengiriman bantuan menggunakan helikopter melalui dua metode, yakni pendaratan langsung di lapangan terbuka dan metode pengangkutan melalui sistem sling (pengangkutan menggantung dari helikopter). Titik-titik yang menerima prioritas dalam pendekatan ini adalah wilayah Putri Betung, Pining, dan Badak Uken. Ketepatan waktu pengiriman di lokasi-lokasi tersebut menjadi penentu utama keberhasilan tanggap darurat, karena keterbatasan jalur darat.
Rapat koordinasi di Umah Pitu Ruang ini menjadi momentum konsolidasi lintas sektor sekaligus penegasan dari pemerintah daerah bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Kekompakan antara pejabat pemerintah, unsur TNI, BNPB, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan pemulihan jangka pendek maupun jangka menengah. Kehadiran Wakil Bupati, perwakilan BNPB, Dandim 0113/Gayo Lues, Plt. Sekda, para asisten, para kepala SKPK serta berbagai unsur terkait lainnya menunjukkan bahwa agenda pemulihan bukan sekadar tanggung jawab satu sektor, melainkan tanggung jawab bersama yang menuntut kerja konkret, cepat, dan terukur. (*)







































