slot preparation.lsrs.lu

Pemkab Gayo Lues Minta Solusi Lahan untuk Huntara dan Huntap, Pemprov Aceh Akan Koordinasi dengan Pusat

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 9 Januari 2026 - 04:48 WIB

50317 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues menghadapi tantangan besar dalam penyediaan lahan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi para warga terdampak bencana alam. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gayo Lues, Muhaimin, menyampaikan bahwa 75 persen lahan di wilayah tersebut berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), sehingga tidak memungkinkan menjadi lokasi relokasi warga.

Pernyataan itu disampaikan Muhaimin dalam rapat koordinasi penanganan bencana secara daring bersama Wakil Gubernur Aceh dan seluruh kepala daerah se-Aceh pada Rabu (7/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia menjelaskan bahwa dalam situasi darurat saat ini, Pemkab Gayo Lues masih menggunakan lahan milik masyarakat dengan status pinjam pakai untuk mendirikan huntara. Namun, penggunaan lahan warga secara jangka panjang menimbulkan persoalan baru, terutama dalam pembangunan huntap, yang membutuhkan lahan seluas 100 hektar untuk 3.051 unit rumah tahap pertama.

Menurut Muhaimin, masyarakat tidak bersedia dipindahkan ke dalam kawasan TNGL dan lebih memilih lahannya sendiri digunakan pemerintah, asalkan jelas status dan keperuntukannya. “Untuk pembangunan huntara kita masih menggunakan lahan masyarakat dengan status lahan pinjam pakai, ini menjadi persoalan karena lebih kurang 100 hektar yang kita butuhkan untuk huntapnya,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia melanjutkan, secara fiskal, kemampuan keuangan daerah tidak memungkinkan untuk melakukan pembelian atau pembebasan tanah tersebut. Di sisi lain, masyarakat penerima bantuan sendiri umumnya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menyediakan lahan secara mandiri. Dari total 100 hektar yang diperlukan, hanya sekitar 4 hektar merupakan aset pemerintah daerah. Sisanya merupakan lahan masyarakat yang telah memiliki sertifikat. Dalam kondisi ini, BPBD meminta perhatian dan solusi dari pemerintah pusat, terutama terkait dukungan lahan untuk keperluan pembangunan hunian yang mendesak tersebut.

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyampaikan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna mencarikan solusi terbaik, khususnya untuk pemanfaatan 96 hektar lahan masyarakat yang telah disiapkan untuk kebutuhan huntara dan huntap. Ia juga meminta para kepala daerah agar segera menyusun dan menyelesaikan surat keputusan (SK) tentang tingkat kerusakan rumah warga terdampak yang menjadi persyaratan dalam penyaluran bantuan pemerintah.

“Bupati/Wali Kota segera mengeluarkan SK, nanti kalau masih ada yang tertinggal bisa menyusul di gelombang kedua. Tapi gelombang pertama ini harus segera diselesaikan agar bantuan bisa dicairkan,” ujar Fadhlullah.

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan mekanisme pengajuan bantuan sosial bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat atau hanyut akibat bencana. Untuk daerah seperti Aceh Utara dan Aceh Tamiang yang terdampak parah, Wagub menyampaikan bahwa warga yang kehilangan dokumen kependudukan dapat mengajukan usulan bantuan dengan surat keterangan dari camat, kapolsek, atau danramil apabila dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) setempat belum dapat memproses data.

“Untuk tingkat kabupaten, berkas dapat dikumpulkan oleh bupati dan nanti dimintakan tanda tangan kepala kejaksaan negeri dan kapolres untuk pengesahannya,” tambahnya.

Seiring dengan meningkatnya intensitas bencana yang melanda berbagai wilayah di Aceh, pemerintah provinsi mendorong percepatan penanganan melalui sinergi pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga yang terkait. Permasalahan lahan untuk hunian pengungsi menjadi fokus utama yang perlu diselesaikan dalam waktu singkat, agar proses rehabilitasi dan pemulihan pascabencana dapat segera berjalan dan memulihkan kehidupan masyarakat terdampak. (*)

Berita Terkait

Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga
Longsor di Tiga Titik Tutup Total Jalan Lintas Kutacane-Blangkejeren, Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat Tak Bisa Melintas
Normalisasi Sungai Jadi Kunci di Gayo Lues, Jembatan Putus Hambat Evakuasi Warga
Ratusan Hektare Sawah di Gayo Lues Kembali Panen Pascabencana Banjir 2025
Pemkab Gayo Lues Kebut Penyerapan Dana TKD untuk Pemulihan Infrastruktur Pascabencana
Pemkab Gayo Lues Berpacu dengan Waktu di Tengah Keterbatasan Anggaran untuk Pulihkan Infrastruktur Pascabencana
Warga dan Satgas TMMD Antusias bangun 5 Unit RTLH di Kampung Gajah
Quick Response Personel Batalyon D Pelopor Bersama Masyarakat Padamkan Kebakaran Rumah di Gayo Lues

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 04:15 WIB

Habiburokhman Minta Kasus Penyadapan Ilegal Terhadap Presiden Prabowo Diusut Tuntas

Rabu, 4 November 2026 - 04:10 WIB

YUSRIL Sebut Prabowo Tahu Penangkapan Jenderal Listyo, Tegaskan Kasus Penyadapan Ilegal Bukan Makar

Rabu, 4 November 2026 - 04:06 WIB

Sikap Kritis PDIP terhadap Pemerintahan Prabowo dan Polemik Pemakzulan Wakil Presiden

Rabu, 4 November 2026 - 02:27 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan Kepala Staf Kepresidenan dan Dua Perwira Tinggi Sebagai Tersangka Penyadapan Ilegal

Rabu, 4 November 2026 - 02:21 WIB

Dugaan Penyadapan Presiden dengan Spyware Canggih Seret Sejumlah Jenderal, Terungkap karena Operator Melapor

Rabu, 4 November 2026 - 01:37 WIB

Tiga Perwira Tinggi Polri Jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Pemerintah Tegaskan Tak Ada Unsur Makar

Selasa, 3 November 2026 - 22:51 WIB

Bareskrim Tetapkan Tiga Jenderal Polri Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo

Selasa, 3 November 2026 - 19:39 WIB

Polri Buka Suara Soal Isu Penangkapan Perwira Tinggi Terkait Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo

Berita Terbaru

GAYO LUES

Satgas TMMD Kerjakan Pembuatan Gorong gorong di titik Tiga

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:42 WIB