GAYO LUES, (10/01/2026) | Pemerintah mulai membangun hunian sementara atau huntara bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabencana yang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025 lalu. Dalam tahap awal, pembangunan huntara diprioritaskan bagi ribuan warga yang hingga kini masih tinggal di pengungsian akibat rumah mereka rusak ataupun hilang terbawa arus banjir.
Pembangunan huntara ditargetkan selesai sebelum bulan Ramadan yang diprediksi jatuh pada awal Maret 2026. Pemerintah berharap, dengan selesainya proses pembangunan sesuai jadwal, warga terdampak sudah dapat menempati tempat tinggal yang layak dan lebih manusiawi dibandingkan kondisi darurat di tenda-tenda pengungsian saat ini. Selain sebagai tempat tinggal untuk sementara waktu, huntara juga diharapkan mampu menjadi ruang pemulihan psikologis bagi warga yang kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga akibat bencana.
Pemerintah merencanakan pembangunan 3.051 unit hunian sementara yang akan tersebar di berbagai titik di Kabupaten Gayo Lues. Lokasi-lokasi hunian ini dipilih dengan pertimbangan strategis dan kemudahan akses, termasuk salah satunya di kawasan pertigaan antara Rumah Sakit Umum Daerah Muhammad Ali Kasim dan markas Batalyon 855 Raksasa Dharma. Pemilihan lokasi ini juga didasarkan pada faktor keamanan, stabilitas tanah, serta kedekatan dengan fasilitas layanan dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga saat ini, proses pembangunan baru memasuki tahap awal, ditandai dengan pembangunan satu unit rumah contoh di Desa Rigep, Kecamatan Dabun Gelang. Proyek rumah percontohan ini diharapkan dapat menjadi acuan teknis dan desain untuk pembangunan ribuan unit lainnya di lokasi yang telah ditentukan. Pekerjaan konstruksi telah dimulai sejak tiga hari terakhir, dan ditargetkan satu unit rumah contoh dapat selesai dalam waktu singkat sebagai bentuk uji coba pengerjaan di lapangan.
Menurut pantauan di lokasi, setidaknya terdapat 20 titik pembangunan yang telah ditetapkan sebagai lokasi huntara. Setiap titik akan menampung sejumlah unit sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas lahan yang tersedia. Dalam prosesnya, pemerintah menggandeng berbagai pemangku kepentingan termasuk unsur TNI, relawan kebencanaan, dan dinas terkait untuk memastikan pembangunan berjalan efisien dan tepat waktu.
Pembangunan huntara ini juga menjadi bagian dari tahapan awal sebelum perencanaan rekonstruksi dan relokasi permukiman permanen. Dalam jangka pendek, hunian sementara menjadi solusi untuk memastikan bahwa warga terdampak mendapatkan tempat tinggal yang layak, aman, dan sehat sambil menunggu pembangunan rumah tetap yang direncanakan dilaksanakan dalam fase berikutnya.
Meskipun terdapat berbagai tantangan seperti cuaca yang belum menentu dan kontur medan yang berat di sejumlah lokasi, pemerintah optimistis target rampungnya pembangunan sebelum Ramadan dapat tercapai. Selain sebagai bentuk kehadiran negara dalam penanganan bencana, percepatan pembangunan hunian sementara ini juga menjadi upaya untuk memulihkan kembali aktivitas masyarakat yang sempat lumpuh akibat bencana, termasuk pendidikan, perekonomian lokal, dan layanan kesehatan yang turut terdampak.
Warga yang ditemui di lokasi menyambut baik pembangunan huntara ini. Banyak di antara mereka menyatakan harapan agar proses pembangunan dapat segera selesai sehingga mereka bisa kembali hidup lebih layak setelah berminggu-minggu tinggal di posko-posko pengungsian yang serba terbatas. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan terus mengalir, tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga dari masyarakat luas dalam bentuk bantuan material, logistik, maupun tenaga. (*)






































