BLANGKEJEREN — Lumpur setinggi mata kaki dan jalanan terjal tak menjadi penghalang bagi Bupati Gayo Lues, Suhaidi, untuk menyapa langsung warganya yang masih terisolasi pascabencana. Dengan kendaraan yang terseok-seok di antara bebatuan dan lumpur yang lengket, ia menempuh lebih dari empat jam perjalanan menuju Desa Pepelah, Kecamatan Pining, Senin (23/12/2025). Bagi Suhaidi, semua itu layak dilakukan demi menjangkau warganya yang sudah 26 hari hidup dalam keterbatasan usai banjir bandang dan longsor memutus akses ke desa tersebut.
Setiap jengkal perjalanan tak mudah, roda kendaraan kerap terbenam di tanah basah, namun Suhaidi tetap sigap menatap ke depan. Ia sadar, di ujung perjalanan ada masyarakat yang menanti — tidak hanya bantuan fisik, tetapi juga dukungan moral bahwa pemerintah hadir dan mendengar.
Dalam perjalanan, ia menyapa warga yang mereka lewati di sepanjang jalan. Beberapa terlihat tengah memanggul hasil kebun, sebagian lainnya duduk di tepian jalur yang rusak. Suhaidi menyalami, mendengar keluhan, dan mencatat dalam diam. Sorot matanya merekam, pikirannya mencerna, telinganya terbuka untuk semua suara kegelisahan warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiba di Posko Pengungsian Desa Pepelah, kegembiraan tak langsung terlihat. Bukan sambutan penuh tawa, melainkan tangis yang pecah menyambut sosok pemimpin mereka. Suasana haru meliputi posko yang penuh sesak oleh warga yang telah berminggu-minggu bertahan hidup dalam keterbatasan. Tangisan dan curahan hati mengalir, mencerminkan betapa berat keadaan yang mereka lalui.
“Bapak, kami sudah dua minggu lebih terkurung di sini. Kami tidur dalam kegelapan, makanan makin sedikit,” ucap seorang warga, dengan suara bergetar dan mata sembab.
Bupati merespons tanpa banyak kata. Ia menghampiri dan merangkul bahu warga tersebut — gestur kecil yang membawa kekuatan besar. Ia tahu, di balik setiap pengungsi di posko itu, ada cerita kehilangan, perjuangan, dan harapan yang tidak boleh dikecewakan.
“Kita tidak sendiri. Pemerintah hadir dan akan terus bersama Bapak-Ibu semua. Ini belum selesai, tapi kita mulai pulih, bersama,” ujar Suhaidi saat berdialog dengan warga.
Dalam kunjungan itu, selain memantau distribusi bantuan dan mempercepat koordinasi penanganan darurat, kehadiran Bupati Suhaidi menjadi simbol bahwa negara tak membiarkan warganya berjalan sendiri di tengah bencana.
Ia memastikan pembukaan akses jalan terus dikebut, bantuan logistik disalurkan, dan kebutuhan dasar warga segera dipenuhi. Lebih dari itu, ia membawa harapan — bahwa semua penderitaan yang dialami akan berujung pada perhatian dan pembenahan nyata.
Di tengah kepungan lumpur, sisa-sisa rumah yang rusak, dan mata-mata yang masih menyimpan ketakutan, semangat perlahan bangkit. Karena bagi warga yang kehilangan segalanya, kehadiran pemimpin di tengah mereka bukan sekadar kunjungan — itu adalah janji bahwa mereka tidak dilupakan. ***






































