GAYO LUES,BARANEWS | Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengunjungi langsung dua desa terdampak banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Minggu, 11 Januari 2026. Setibanya di Bandar Udara Blangkejeren, ia bersama rombongan yang terdiri dari Bupati Gayo Lues, unsur Forkopimda, serta pejabat daerah lainnya, langsung menuju Desa Badak dan Desa Rigeb untuk meninjau langsung kerusakan wilayah, yang dijadikan representasi dari lokasi terdampak bencana lainnya di kabupaten tersebut.
Di Desa Badak, Mendagri melihat langsung hamparan sawah milik warga yang kini telah berganti lumpur dan puing banjir. Tumpukan kayu besar sisa banjir masih tampak jelas, mengisi lahan pertanian, aliran sungai, dan area permukiman di sekitarnya. Ia kemudian bergerak ke Desa Rigeb, lokasi jembatan Aih Bobo yang rusak parah usai diterjang derasnya air sungai saat banjir bandang terjadi beberapa waktu lalu. Jembatan tersebut diketahui merupakan akses vital yang menghubungkan dua kecamatan di wilayah pedalaman Gayo Lues.
Dalam pernyataannya di lokasi, Mendagri menyampaikan keprihatinan mendalam atas kerusakan yang terjadi dan menyebutkan bahwa aliran sungai yang sebelumnya mengalir normal, kini bergeser arah akibat curah hujan ekstrem yang melanda kawasan itu selama beberapa pekan terakhir. Ia juga menyoroti kondisi jembatan Aih Bobo yang saat ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua melalui jembatan darurat dari kayu, hasil gotong royong warga bersama personel TNI. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, kata dia, telah mengusulkan agar jembatan tersebut dibangun secara permanen mengingat fungsinya yang sangat strategis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terkait kerusakan lahan pertanian akibat bencana, Mendagri juga merespons langsung dengan menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Ia mengatakan, pemerintah pusat sedang memetakan lahan-lahan persawahan yang terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pendataan ini akan menjadi bagian dari program nasional ketahanan pangan melalui skema bantuan pertanian dari Presiden.
Menurut Mendagri, ada dua pendekatan utama yang akan digunakan dalam program pemulihan pertanian, yakni optimalisasi lahan dan cetak sawah baru. Dalam konteks wilayah terdampak banjir seperti di Gayo Lues, solusi yang akan diutamakan adalah optimalisasi lahan. Hal ini meliputi pembersihan lumpur melalui metode pertanian khusus, pemberian bantuan benih, pupuk, perbaikan irigasi, serta dukungan alat dan mesin pertanian lainnya guna memastikan petani bisa kembali produksi.
Selain peninjauan fisik di lapangan, kunjungan ini juga mencerminkan upaya koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam percepatan penanganan pascabencana, termasuk pengumpulan data kerusakan yang akurat. Mendagri menegaskan akan menyampaikan temuan dan kebutuhan mendesak dari Gayo Lues kepada pihak-pihak terkait dalam rapat koordinasi nasional yang akan digelar dalam waktu dekat.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, turut mendampingi kunjungan Mendagri ke wilayah terdampak. Ia menyampaikan bahwa kehadiran Mendagri ke Gayo Lues merupakan bagian dari agenda Satgas Nasional Penanganan Pascabencana untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan mengetahui kendala-kendala yang terjadi selama lebih dari 40 hari sejak banjir melanda. Ia juga menyampaikan kabar baik bahwa Transfer ke Daerah (TKD) untuk Aceh telah dipulihkan oleh pemerintah pusat, sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan layanan publik di daerah.
Disebutkan bahwa Gayo Lues menjadi salah satu dari tujuh kabupaten/kota di Aceh yang kini menjadi fokus utama Satgas Penanggulangan Bencana. Dengan perhatian ini, sejumlah infrastruktur vital dan program pemulihan diyakini akan mendapat dorongan realisasi lebih cepat sesuai dengan kebutuhan warga terdampak.
Bupati Gayo Lues, Suhaidi, yang ikut mendampingi kunjungan tersebut, menyampaikan harapannya agar kunjungan Mendagri dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi sarana serta prasarana yang hancur akibat bencana. Ia mengakui bahwa masa tanggap darurat di daerahnya hampir berakhir dan kini pemerintah daerah tengah berfokus pada pemutakhiran data kerusakan. Data-data tersebut, katanya, menjadi syarat utama bagi pencairan bantuan dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Bupati juga menginformasikan bahwa ada empat jembatan yang saat ini tengah diusulkan untuk dibangun secara permanen, dan proses perencanaannya berada dalam tahap akhir penyusunan di pemerintah daerah. Salah satu prioritas adalah Jembatan Aih Bobo karena berperan sebagai akses alternatif menuju rumah sakit umum, markas TNI, serta jalur penghubung ke sejumlah fasilitas publik lainnya di Kecamatan Dabun Gelang. Ia meminta masyarakat untuk bersabar, seraya menyatakan optimisme bahwa pembangunan jembatan secara permanen dapat dimulai pada tahun 2026.
Kunjungan langsung pejabat pusat ke Gayo Lues ini menjadi sinyal bahwa perhatian pemerintah terhadap daerah terdampak di pedalaman Aceh tetap tinggi. Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendata kebutuhan dan menyusun langkah pemulihan yang tepat, masyarakat diharapkan segera bangkit dari keterpurukan akibat bencana dan kembali menjalani kehidupan secara normal. Pemerintah memastikan bahwa pemulihan dilakukan tidak sekadar darurat, tetapi juga berorientasi pada pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan. (Abdiansyah)






































