Ketol, Aceh Tengah – Demi memastikan anak-anak korban bencana tidak kehilangan hak atas pendidikan, sejumlah mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen menunjukkan aksi nyata melalui pendirian sekolah darurat di Desa Rejewali, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program relawan pendidikan yang diinisiasi Yayasan Sukma Bangsa dan melibatkan mahasiswa UNIKI dari berbagai program studi.
Sekolah darurat ini hadir sebagai respons terhadap situasi darurat pasca bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang kawasan pedalaman Aceh Tengah pada akhir tahun 2025. Warga terdampak kehilangan rumah, fasilitas umum rusak berat, termasuk sekolah-sekolah yang menjadi tempat belajar anak-anak. Di tengah kondisi porak-poranda, tenda darurat dijadikan ruang belajar, tempat para relawan dan mahasiswa menghidupkan kembali semangat pendidikan.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nurul Maqfirah dan Miftahul Rizki, mahasiswi Program Studi Seni dan Pertunjukan FKIP UNIKI, yang ikut terlibat langsung dalam pengajaran menyampaikan bahwa sekolah darurat ini bertujuan menghindari anak-anak dari kondisi putus sekolah, sekaligus memberi ketenangan psikososial pasca bencana.
“Kami membuka sekolah darurat bersama guru-guru SD Negeri 10 Ketol. Kegiatan belajar dilakukan dalam tenda, enam hari seminggu dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang. Sore harinya, pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, kami mengajar mengaji,” ujar Nurul Maqfirah, didampingi Miftahul Rizki.
Sebanyak 46 murid terlibat dalam aktivitas belajar ini. Mereka adalah anak-anak dari keluarga terdampak bencana hidrometeorologi, yang kini tinggal di pengungsian atau rumah warga yang selamat. Dalam proses pembelajaran, para relawan juga menyisipkan program trauma healing untuk mengurangi beban psikologis anak-anak serta mengembalikan semangat belajar mereka.
“Program trauma healing kami lakukan lewat permainan, menggambar, berdongeng, dan aktivitas kreatif lainnya. Kami ingin membangun ulang semangat mereka,” tutur Nazira Safira, mahasiswi Prodi Manajemen UNIKI yang turut mendampingi.
Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Akses jalan rusak berat akibat longsor, jalur transportasi terputus. Para relawan harus berjalan kaki hingga lima kilometer melewati medan pegunungan untuk bisa menjangkau titik lokasi sekolah darurat. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para mahasiswa untuk menjalankan misi kemanusiaan.
Sebelumnya, sebelum menetap di Desa Rejewali dan Desa Bintang Pelara, para relawan bersama mahasiswa UNIKI telah menggelar asesmen kondisi pendidikan di SD Negeri 20 Ketol dan SMP Negeri 32 Takengon. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar penempatan relawan dan penyusunan aktivitas belajar yang sesuai kondisi lapangan.
Wakil Rektor III UNIKI, Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., CRP., CFRM, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa ini merupakan bagian dari bentuk nyata pengabdian kampus kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan kolaborasi antara kampus dengan Yayasan Sukma Bangsa dalam mendukung kegiatan pendidikan pasca bencana.
“Mahasiswa UNIKI akan berada di lokasi terdampak bencana di Aceh Tengah dan Bener Meriah selama tiga bulan, terhitung sejak 10 Januari 2026. Ini adalah bagian dari komitmen kampus dalam membangun karakter peduli melalui pengabdian yang berdampak langsung,” ujar Dr. Kamaruddin.
Ia berharap apa yang dilakukan mahasiswa dapat memberi kontribusi nyata, baik dalam mendampingi anak-anak belajar maupun dalam memulihkan kondisi psikologis masyarakat pasca bencana, seraya menanamkan nilai kemanusiaan di kalangan generasi muda UNIKI.
Adapun mahasiswa yang terlibat antara lain Aulia Agustian (Prodi Ilmu Hukum), Nazira Safira (Manajemen), serta Nurul Maqfirah dan Miftahul Rizki (Seni dan Pertunjukan – FKIP UNIKI). Kehadiran mereka di tengah masyarakat yang sedang berjuang kembali pulih, menjadi bukti bahwa kepedulian dan semangat muda dapat menjadi garda terdepan dalam menyemai harapan di daerah-daerah terdampak. (ZK)





































