GAYO LUES | Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gayo Lues mencatat tingginya angka kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir Desember 2025. Kepala Dinas PUPR Gayo Lues, Chairuddin Kasiman, mengungkapkan, setidaknya 55 ruas jalan, 105 unit jembatan, 60 sistem irigasi, serta puluhan bangunan pengaman tebing mengalami kerusakan serius dan membutuhkan penanganan secepatnya.
Menurut Chairuddin, skala kerusakan tersebar hampir merata di seluruh kecamatan, dengan titik terparah berada pada kawasan yang berdekatan dengan sungai dan jalur perbukitan. Ia menyebut, jembatan-jembatan rusak terdiri dari berbagai jenis konstruksi, yang sebagian besar mengalami kerusakan total karena diterjang arus deras dan tertimbun longsoran material.
“Total jembatan yang terdampak sebanyak 105 unit, terdiri dari 13 unit jembatan rangka baja, 21 unit jembatan baja komposit, 58 unit jembatan gantung, dan masing-masing tiga unit jembatan bailey serta 10 unit jembatan baja WF,” ujarnya di Blangkejeren, Ahad (4/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain infrastruktur penghubung, sistem pengairan pertanian juga turut terdampak parah. Dari hasil observasi sementara, Dinas PUPR mencatat sebanyak 60 irigasi mengalami kerusakan berat. Dampak ini berpotensi mengganggu aktivitas pertanian masyarakat, khususnya pada masa tanam mendatang yang memerlukan suplai air stabil dari irigasi teknis.
Tak hanya itu, sejumlah bangunan penahan erosi dan perlindungan tebing sungai yang selama ini menjadi pelindung pemukiman serta lahan produktif juga mengalami kerusakan serius. Chairuddin menyebut, setidaknya 58 titik bangunan pengaman tebing dilaporkan rusak atau hanyut terbawa arus saat debit sungai mencapai puncaknya.
“Bangunan-bangunan pengaman tebing yang selama ini mengamankan bantaran sungai, baik dari infrastruktur maupun pemukiman warga, tidak luput dari dampak banjir. Debit air yang luar biasa besar membuat sebagian besar bangunan hanyut atau mengalami kerusakan berat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan dalam proses perbaikan cukup besar, mengingat banyak lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan alat berat melalui jalur darurat atau harus menggunakan akses alternatif yang memakan waktu. Selain itu, beberapa titik longsor berada pada medan curam dan masih sangat labil sehingga menyulitkan mobilisasi peralatan.
“Kondisi badan jalan yang amblas dan terus terjadi longsor susulan, terutama di jalur utama Aceh Tenggara – Gayo Lues, membuat proses penanganan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kami harus mempertimbangkan aspek keselamatan bagi pekerja di lapangan,” katanya.
Dinas PUPR Gayo Lues telah melakukan pemetaan teknis untuk menentukan skala prioritas dalam proses rehabilitasi. Ia berharap dukungan dari pemerintah pusat, terutama dalam bentuk bantuan teknis dan pendanaan, bisa segera direalisasikan agar masyarakat tidak terlalu lama terdampak oleh kondisi ini. Menurut Chairuddin, kerusakan yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada mobilitas, tapi juga berpotensi menghambat distribusi logistik, pelayanan kesehatan, dan aktivitas perekonomian warga.
“Kami sangat membutuhkan percepatan proses pemulihan, karena menyangkut keseluruhan sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari akses pendidikan, ekonomi, hingga keselamatan warga. Koordinasi dengan kementerian telah kami lakukan, dan semoga tahap rehabilitasi segera berjalan,” tutupnya.
Dinas PUPR juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Sebagai antisipasi, tim teknis dan alat berat terus disiagakan di sejumlah titik rawan untuk mendukung kesiapsiagaan apabila terjadi dampak susulan. (Abdiansyah)






































