Gayo Lues — Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Kombes Pol Dedy Tabrani, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues, Kamis (26/12/2025). Kunjungan ini menjadi agenda resmi pertamanya ke daerah setelah dilantik sebagai Kepala BNNP Aceh sekitar empat pekan lalu.
Kehadiran Dedy disambut langsung oleh Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Iman, beserta jajaran. Dalam sambutannya, Dedy menyatakan kunjungan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran pimpinan di tengah jajaran yang sedang menghadapi situasi sulit pascabencana yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
“Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi, memberikan dukungan moril, serta saling menguatkan seluruh jajaran BNN di Aceh, khususnya bagi anggota dan keluarga besar BNN yang terdampak bencana,” ujar Dedy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk kepedulian, Kepala BNNP Aceh turut menyerahkan bantuan bagi keluarga besar BNNK Gayo Lues yang terdampak bencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan dasar serta memperkuat semangat anggota dalam menjalankan tugas-tugas yang bersentuhan langsung dengan kerja-kerja pemulihan sosial di wilayah ini.
Selain menyerahkan bantuan, kunjungan kerja juga dimanfaatkan untuk meninjau salah satu program unggulan BNNK Gayo Lues, yakni pengembangan perkebunan dan pengolahan kopi yang merupakan bagian dari program Grand Design Alternative Development (GDAD). Program ini dikembangkan dalam kerja sama antara BNN, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, dan masyarakat lokal sebagai solusi jangka panjang dalam pengalihan fungsi lahan.
Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Iman, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menawarkan alternatif yang berkelanjutan bagi masyarakat agar tidak lagi memanfaatkan lahan untuk aktivitas ilegal seperti penanaman ganja. Menurutnya, kopi dipilih karena telah menjadi komoditas andalan masyarakat setempat dengan nilai jual yang kompetitif di pasar domestik maupun ekspor.
“Program Alternative Development ini bertujuan untuk mengalihkan pemanfaatan lahan yang sebelumnya berpotensi atau pernah digunakan untuk penanaman ganja menjadi lahan produktif dengan komoditas alternatif bernilai ekonomi, seperti kopi,” ujar Fauzul.
Dalam peninjauan, Dedy sempat melihat langsung fasilitas penggilingan dan penjemuran kopi hasil produksi kelompok binaan BNN. Ia menyampaikan apresiasi atas upaya integratif yang telah dilakukan BNNK Gayo Lues dalam membangun pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat, di luar pendekatan hukum yang selama ini dominan.
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya nasional untuk menekan angka peredaran dan produksi narkotika dari hulu ke hilir, dengan mendekatkan masyarakat pada kegiatan ekonomi legal dan sehat secara sosial. Menurut Dedy, program ini tidak hanya efektif dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkotika, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah pedalaman.
“Pemberantasan narkotika tidak cukup hanya dengan penindakan. Pendekatan alternatif yang membangun kekuatan ekonomi warga adalah bagian tak terpisahkan dari strategi besar kita,” ujar Dedy.
Ia menegaskan, pihaknya akan mendorong agar program serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Aceh, terutama daerah yang selama ini rentan terhadap praktik penanaman ganja. Sinergi antara lembaga pusat, daerah, dan partisipasi masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan program ini dalam jangka panjang.
Kunjungan ini diakhiri dengan pertemuan internal jajaran BNNK Gayo Lues untuk membahas evaluasi program kerja, tantangan penanganan narkoba di wilayah pedalaman, serta memperkuat kerja sama lintas sektor dalam implementasi kebijakan nasional anti-narkoba.[*]






































