GAYO LUES — Upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, terus menunjukkan kemajuan. Tim gabungan yang terdiri dari personel Polres Gayo Lues, Polsek Rikit Gaib, dan masyarakat setempat berhasil membangun jembatan sementara di Desa Penomon Jaya, Kecamatan Rikit Gaib. Pembangunan dimulai pada Senin (22/12) dan rampung dalam waktu tiga hari, tuntas pada Rabu (24/12).
Jembatan ini dibangun sebagai solusi darurat setelah Jembatan Atu Peltak terputus akibat terjangan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Putusnya jembatan utama ini sempat membuat warga Desa Penomon Jaya dan sekitarnya terisolasi serta mengalami kesulitan dalam mengakses bantuan logistik, layanan kesehatan, dan jalur distribusi ekonomi lokal.
Dalam kondisi keterbatasan, tim gabungan menunjukkan inisiatif dan kreativitas dalam proses pembangunan. Material utama jembatan sementara berasal dari kayu-kayu berukuran besar yang terbawa arus banjir dan tersangkut di sekitar aliran sungai. Material tersebut kemudian dikumpulkan, diolah, dan dirangkai menjadi pijakan jembatan dengan tetap memerhatikan unsur keamanan dan keselamatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran jembatan ini menjadi harapan baru bagi masyarakat setempat, meskipun bersifat sementara. Warga menyambut baik langkah cepat tersebut, karena akses yang semula terganggu kini perlahan mulai pulih. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan perdagangan lokal, keberadaan jembatan ini merupakan hal vital untuk menjalankan aktivitas harian.
Sementara itu, upaya pembangunan jembatan permanen berupa jembatan bailey juga masih terus diupayakan. Meskipun demikian, proses distribusi peralatan dan material menghadapi kendala teknis lantaran masih sulitnya akses darat menuju lokasi. Hal ini menyebabkan proses pembangunan harus menunggu sampai jalan-jalan utama dapat dilalui kendaraan berat. Tim gabungan saat ini juga terus membuka jalur alternatif untuk menjangkau titik-titik terdampak, seperti di wilayah Pining dan sekitarnya.
Pembangunan infrastruktur darurat di tengah keterbatasan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan bencana. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat proses pemulihan. Model kerja sama semacam ini menjadi bagian penting dari pendekatan pentahelix, di mana seluruh unsur dalam masyarakat dilibatkan secara aktif dalam pembangunan dan pemulihan pascabencana alam.
Kondisi geografis Gayo Lues yang didominasi daerah pegunungan serta curah hujan tinggi membuat wilayah ini rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Pemerintah daerah diharapkan terus mengidentifikasi titik rawan sekaligus menyusun rencana mitigasi yang matang agar dampak bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang. ***






































