GAYO LUES, BARANEWS | Jalan lintas Gayo Lues–Aceh Tenggara yang sempat lumpuh akibat banjir bandang kini mulai berfungsi kembali. Setelah hampir tiga pekan terputus, akses vital antarkabupaten ini mulai dapat dilalui oleh kendaraan roda empat tertentu. Perkembangan ini membawa harapan baru bagi mobilitas dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman Aceh, meski tantangan pemulihan jalur permanen masih cukup besar.
Pantauan dari titik terdampak pada Kamis (19/12/2025) menunjukkan perkembangan signifikan di ruas Kerkil, yang sebelumnya menjadi salah satu titik terparah akibat banjir bandang. Di lokasi tersebut, sejumlah alat berat terlihat masih bekerja untuk meratakan permukaan jalan dan membersihkan material longsoran. Kondisi geografis yang ekstrem, ditambah dengan rusaknya sebagian besar badan jalan, membuat proses pemulihan berlangsung dalam dua tahap, yakni penanganan darurat dan penanganan permanen.
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB Daerah Pemilihan Aceh, Irmawan, yang langsung turun ke lokasi menyampaikan bahwa saat ini kendaraan roda empat sudah mulai bisa melintas. Meski demikian, ia mencatat bahwa hanya jenis kendaraan tertentu yang dapat melalui ruas ini secara aman, terutama yang memiliki kekuatan penggerak ganda atau berpengalaman dalam medan berat. Kendaraan dengan penggerak biasa juga mulai mencoba melintas, namun harus tetap waspada di beberapa titik tanjakan yang masih curam dan licin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam keterangannya, Irmawan menjelaskan bahwa dirinya sudah mempertemukan dan mendorong koordinasi antara pihak pelaksana proyek (PPK) di wilayah Kota Cane dan Blangkejeren untuk mempercepat proses pemulihan. Ia menilai sudah ada progres signifikan, namun beberapa perbaikan masih harus dilakukan untuk menjamin keamanan jangka panjang.
DPR, lanjut Irmawan, akan terus mengawal agar Pemerintah melalui Kementerian PUPR bisa serius menangani jalur ini, tidak hanya sebagai langkah tanggap darurat tapi juga dalam pembangunan jangka menengah dan panjang. Ia menyebutkan bahwa masih ada banyak ruas jalan yang kondisi strukturnya sangat memprihatinkan, sehingga perlu dilakukan kajian teknis lebih dalam untuk menentukan apakah akan dilakukan rehabilitasi di lokasi yang sama atau mempertimbangkan pembangunan jalur alternatif baru yang lebih stabil secara geoteknik dan lebih mudah dalam pemeliharaan ke depan.
Irmawan juga menekankan pentingnya penguatan infrastruktur di wilayah rawan bencana, terutama jalan-jalan nasional yang menjadi nadi bagi wilayah terpencil seperti Aceh Tenggara dan Gayo Lues. Jalur ini tidak hanya menjadi akses logistik dan ekonomi, tetapi juga jalur utama untuk evakuasi dan distribusi bantuan saat terjadi bencana. Oleh karena itu, pembangunan serta penguatan struktur jalan seharusnya menjadi prioritas dalam agenda pembangunan wilayah, khususnya di daerah dengan kontur terjal dan intensitas curah hujan tinggi.
Masyarakat di sepanjang jalur Blangkejeren–Kutacane, termasuk di wilayah Ketambe dan Rumah Bundar, menyambut baik perkembangan ini. Sebab, keterisolasian selama hampir tiga pekan menyebabkan terbatasnya bahan pokok, gangguan dalam pelayanan kesehatan, dan terhambatnya aktivitas pendidikan. Kini, dengan dibukanya kembali akses meskipun masih terbatas, mobilitas mulai pulih secara bertahap.
Sementara itu, para teknisi di lapangan masih berjibaku menyelesaikan penguatan dasar jalan, pelebaran bagian sempit, serta penataan drainase darurat agar genangan air tidak terus merusak struktur perkerasan. Beberapa bagian jalan masih berupa permukaan tanah yang dipadatkan, sembari menunggu pembangunan permanen berupa pengerasan jalan atau pengecoran di tahap berikutnya.
Hingga saat ini, dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Balai Pelaksana Jalan Nasional Aceh, serta Balai Wilayah Sungai Sumatera I terus diarahkan agar proses pemulihan berjalan berkesinambungan. Pemerintah pusat telah menyatakan komitmennya untuk mengawal proses rehabilitasi secara bertahap sesuai dengan hasil evaluasi teknis di lapangan.
Irmawan menyampaikan harapannya agar masyarakat tetap bersabar dan waspada dalam menggunakan jalan ini selama masa pemulihan. Ia menegaskan bahwa proses pembangunan kembali infrastruktur jalan ini tidak akan berhenti di penanganan darurat saja, tetapi akan terus dikawal hingga tuntas, termasuk dalam memastikan anggaran yang cukup tersedia untuk pembangunan jangka panjang. Terlebih, sebagai wakil rakyat dari Aceh di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur, dirinya merasa berkewajiban untuk terus mengawal pelaksanaan proyek-proyek strategis di wilayah pelosok Aceh demi kesejahteraan masyarakat. (Abdiansyah)







































