Gayo Lues Masih Terisolasi, Warga Jalan Kaki 12 Jam Angkut Logistik di Tengah Gelap dan Lumpur

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 23 Desember 2025 - 01:40 WIB

50375 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues –  Hampir satu bulan setelah banjir bandang besar menerjang wilayah Gayo Lues, Aceh, sejumlah desa di kabupaten dataran tinggi itu masih terisolasi. Akses jalan darat terputus, listrik belum menyala penuh, dan warga terpaksa menempuh medan berat selama belasan jam untuk membawa kebutuhan pokok.

Di Kecamatan Blangkejeren, pusat administratif Kabupaten Gayo Lues, pasokan listrik masih belum stabil. Warga hanya bisa mengakses listrik dalam rentang waktu singkat, pukul 04.00 hingga 08.00 WIB. Setelah pukul 08.00, listrik padam kembali dan baru menyala sementara pada sore hari. Kondisi serupa kembali terjadi pada malam hari, sehingga mayoritas aktivitas warga berlangsung dalam keterbatasan penerangan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih dalam penanganan bencana di wilayah pedalaman seperti Gayo Lues. Letaknya yang berada di dataran tinggi memberikan tantangan tambahan bagi distribusi bantuan, terlebih ketika infrastruktur lumpuh dan alat berat terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di daerah seperti Desa Pining, Kecamatan Pining, isolasi masih berlangsung. Jalan utama menuju desa tersebut terputus setelah amblas akibat longsor dan arus banjir deras. Warga dan relawan yang hendak menembus wilayah itu butuh waktu enam jam melalui jalur baru yang dibuka secara darurat. Jalur itu pun hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki melalui lintasan berlumpur yang licin dan menantang.

Tidak hanya menempuh perjalanan jauh, warga juga memikul beban logistik sendiri. Dalam satu kali perjalanan, mereka bisa membawa hingga 20–30 kilogram sembako dan keperluan harian. Demi memastikan distribusi bantuan merata, warga rela berjalan kaki 12 jam pulang pergi menuju posko terdekat. Tak sedikit yang mengeluhkan kelelahan karena perjalanan bolak balik menguras tenaga dan dilakukan hampir setiap hari sejak akses darat utama putus.

Upaya menembus desa yang terisolasi terus dilakukan oleh tim gabungan Pemerintah Daerah dan Kepolisian sejak masa tanggap darurat awal dicanangkan. Namun keterbatasan alat berat membuat proses pembersihan material longsoran berlangsung lambat. Jalan dan jembatan masih dalam perbaikan, bahkan sebagian belum tersentuh karena sulitnya mobilisasi peralatan ke lokasi bencana.

Kondisi di Desa Pining bahkan lebih memprihatinkan. Tidak hanya terisolasi, desa tersebut juga mengalami pemadaman listrik total sejak bencana terjadi. Tanpa pasokan energi, warga dan relawan harus mengandalkan lampu tenaga surya seadaanya. Tim kemanusiaan yang hendak membuka akses terpaksa mendirikan kamp di Dusun Papelah, empat hingga lima jam jalan kaki sebelum Desa Pining. Kamp tersebut menjadi titik persiapan logistik dan titik istirahat bagi relawan yang akan melanjutkan perjalanan.

Meski demikian, di tengah kesulitan itu, terdapat titik terang. Dari total 11 kecamatan di Gayo Lues yang sebelumnya terisolasi, kini dua jalur darat sudah kembali dapat dilalui. Jalur tersebut menghubungkan ke wilayah Aceh Tenggara melalui Putri Betung, dan kendaraan roda empat kini dapat melalui rute itu tanpa keharusan menggunakan kendaraan off-road. Pembukaan jalur ini diharapkan dapat mempercepat pengiriman bantuan dan menjadi awal dari pemulihan di wilayah terdampak bencana.

Namun, kebutuhan mendesak masih membayangi masyarakat yang bertahan di lokasi terdampak. Listrik, bahan bakar, dan logistik masih menjadi persoalan utama. Pemerintah daerah berharap dukungan dari pemerintah pusat terus mengalir untuk mempercepat pemulihan serta memastikan desa-desa di pedalaman tidak dibiarkan bertahan sendiri terlalu lama di tengah bencana. (*)

Berita Terkait

Siswi Kelas IV SD Negeri 6 Blangkejeren Diduga Dianiaya Kakak Kelas, Orang Tua Desak Sekolah Bertindak
7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Polres Gayo Lues Salurkan Bantuan Sosial kepada Korban Kebakaran Desa Lukup Baru
Hasan G Aman Selena Berpulang Kerahmatullah di RS Adam Malik Medan
Sanksi Administratif Gubernur Tak Dihiraukan, PT HAI Dituding Lawan Perintah Pemerintah, AMPL Bawa Persoalan ke Gakkum
Usai Rapat Siaga Karhutla, Damkar Gayo Lues Hadapi Dua Kebakaran dalam Hitungan Jam
Antrean Panjang di Jalan Nasional Blangkejeren–Kutacane, Warga Keluhkan Sistem Buka-Tutup
Kadis Damkar Gayo Lues Gelar Rapat Siaga Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:57 WIB

Mahasiswa Trumon Tantang Desak DLH Aceh Selatan Transparan: Jika PT ATAK Terbukti Cemari Krueng Luas, Proses Hukum!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 00:02 WIB

Warga Samadua Tolak Rekomendasi DPRK Aceh Selatan, Dinilai Berikan Karpet Merah untuk Perusahaan Tambang

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:21 WIB

Teken Petisi Tolak Tambang, Kini DPRK Merekomendasikan IUP Samadua: Konsistensi Dipertanyakan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 04:17 WIB

Warga Samadua Tolak Perusahaan Tambang, Koalisi: Izin Bukan Cek Kosong

Rabu, 19 Agustus 2026 - 02:14 WIB

3 Keuchik di Kemasjidan Air Sialang Samadua Resmi Tolak IUP PT MMS, 2 Keuchik Cabut Rekomendasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 09:02 WIB

DPRK Aceh Selatan Didesak Bongkar Dugaan Maladministrasi Izin Perusahaan Tambang di Samadua

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:51 WIB

Ribuan Warga Samadua Kompak Tolak Tambang, Desak Rekomendasi Eksplorasi Dicabut!

Minggu, 16 Agustus 2026 - 05:34 WIB

Bupati Aceh Selatan Didesak Merdekakan Samadua dari Bayang-bayang Perusahaan Tambang

Berita Terbaru