Gayo Lues Masih Terisolasi, Warga Jalan Kaki 12 Jam Angkut Logistik di Tengah Gelap dan Lumpur

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 23 Desember 2025 - 01:40 WIB

50341 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues –  Hampir satu bulan setelah banjir bandang besar menerjang wilayah Gayo Lues, Aceh, sejumlah desa di kabupaten dataran tinggi itu masih terisolasi. Akses jalan darat terputus, listrik belum menyala penuh, dan warga terpaksa menempuh medan berat selama belasan jam untuk membawa kebutuhan pokok.

Di Kecamatan Blangkejeren, pusat administratif Kabupaten Gayo Lues, pasokan listrik masih belum stabil. Warga hanya bisa mengakses listrik dalam rentang waktu singkat, pukul 04.00 hingga 08.00 WIB. Setelah pukul 08.00, listrik padam kembali dan baru menyala sementara pada sore hari. Kondisi serupa kembali terjadi pada malam hari, sehingga mayoritas aktivitas warga berlangsung dalam keterbatasan penerangan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian lebih dalam penanganan bencana di wilayah pedalaman seperti Gayo Lues. Letaknya yang berada di dataran tinggi memberikan tantangan tambahan bagi distribusi bantuan, terlebih ketika infrastruktur lumpuh dan alat berat terbatas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di daerah seperti Desa Pining, Kecamatan Pining, isolasi masih berlangsung. Jalan utama menuju desa tersebut terputus setelah amblas akibat longsor dan arus banjir deras. Warga dan relawan yang hendak menembus wilayah itu butuh waktu enam jam melalui jalur baru yang dibuka secara darurat. Jalur itu pun hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki melalui lintasan berlumpur yang licin dan menantang.

Tidak hanya menempuh perjalanan jauh, warga juga memikul beban logistik sendiri. Dalam satu kali perjalanan, mereka bisa membawa hingga 20–30 kilogram sembako dan keperluan harian. Demi memastikan distribusi bantuan merata, warga rela berjalan kaki 12 jam pulang pergi menuju posko terdekat. Tak sedikit yang mengeluhkan kelelahan karena perjalanan bolak balik menguras tenaga dan dilakukan hampir setiap hari sejak akses darat utama putus.

Upaya menembus desa yang terisolasi terus dilakukan oleh tim gabungan Pemerintah Daerah dan Kepolisian sejak masa tanggap darurat awal dicanangkan. Namun keterbatasan alat berat membuat proses pembersihan material longsoran berlangsung lambat. Jalan dan jembatan masih dalam perbaikan, bahkan sebagian belum tersentuh karena sulitnya mobilisasi peralatan ke lokasi bencana.

Kondisi di Desa Pining bahkan lebih memprihatinkan. Tidak hanya terisolasi, desa tersebut juga mengalami pemadaman listrik total sejak bencana terjadi. Tanpa pasokan energi, warga dan relawan harus mengandalkan lampu tenaga surya seadaanya. Tim kemanusiaan yang hendak membuka akses terpaksa mendirikan kamp di Dusun Papelah, empat hingga lima jam jalan kaki sebelum Desa Pining. Kamp tersebut menjadi titik persiapan logistik dan titik istirahat bagi relawan yang akan melanjutkan perjalanan.

Meski demikian, di tengah kesulitan itu, terdapat titik terang. Dari total 11 kecamatan di Gayo Lues yang sebelumnya terisolasi, kini dua jalur darat sudah kembali dapat dilalui. Jalur tersebut menghubungkan ke wilayah Aceh Tenggara melalui Putri Betung, dan kendaraan roda empat kini dapat melalui rute itu tanpa keharusan menggunakan kendaraan off-road. Pembukaan jalur ini diharapkan dapat mempercepat pengiriman bantuan dan menjadi awal dari pemulihan di wilayah terdampak bencana.

Namun, kebutuhan mendesak masih membayangi masyarakat yang bertahan di lokasi terdampak. Listrik, bahan bakar, dan logistik masih menjadi persoalan utama. Pemerintah daerah berharap dukungan dari pemerintah pusat terus mengalir untuk mempercepat pemulihan serta memastikan desa-desa di pedalaman tidak dibiarkan bertahan sendiri terlalu lama di tengah bencana. (*)

Berita Terkait

Kapolres Gayo Lues Dampingi Bupati Tinjau Lesten: Pantau Pemulihan Pascabencana dan Salurkan Bantuan Langsung ke Warga
Bupati Gayo Lues Menembus Lesten: Mengawal Pemulihan Pascabencana di Tengah Medan Berat
Peringatan Isra Mi’raj di Gayo Lues Jadi Momentum Doa, Refleksi Bencana, dan Seruan Perbaikan Diri di Tengah Ujian Alam
Video Misionaris Beredar di Gayo Lues, Warga Pertanyakan Etika dan Izin Kegiatan Keagamaan di Tengah Bencana
Gempa Bermagnitudo 2,7 Guncang Gayo Lues, Terasa hingga Langsa
Akses Vital Warga Pulih, Jalan Penghubung Kute Reje–Soyo Kembali Dapat Dilalui Berkat Sinergi Polsek Terangun, Pemerintah Desa, dan Masyarakat
Polsek Blangkejeren Hadiri Peringatan Isra’ Mi’raj di Ponpes Bunayya, Bangun Semangat Keagamaan di Kalangan Santri
Kapolres Gayo Lues Bersama Forkopimda Sambut Kedatangan Kapolda Aceh Tinjau Pengungsi Banjir dan Longsor

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 22:12 WIB

UGP Takengon dan O2 Course Resmi Jalin Kerja Sama Strategis Penguatan Kompetensi Bahasa Inggris

Senin, 12 Januari 2026 - 21:24 WIB

Sambangi Rusip Antara, Relawan Masjid Nusantara Kembali Salurkan Bantuan

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:58 WIB

Bantu Korban Longsor-Banjir Sumatera, Komunitas Gayo Peduli Sediakan Nasi Putih Gratis di Enam Posko di Takengon

Kamis, 8 Januari 2026 - 00:58 WIB

Tim Medis Terpadu Tempuh Medan Ekstrem demi Jangkau Penyintas Banjir di Aceh Tengah

Selasa, 6 Januari 2026 - 01:24 WIB

Yayasan Pasak Reje Linge Open Donasi Longsor-Banjir Aceh, Sumut, dan Sumbar

Senin, 5 Januari 2026 - 13:16 WIB

Gotong Royong Polri, Brimob, dan Relawan, Jembatan Darurat Sungai Kala Ili Akhirnya Bisa Dilalui Warga

Senin, 5 Januari 2026 - 00:41 WIB

Kementerian PU Tangani Cepat Pascabanjir di Jembatan Lumut Ruas Takengon–Isé-Isé, Dukung Pemulihan Konektivitas Aceh Tengah

Minggu, 4 Januari 2026 - 00:59 WIB

PMI Aceh Tengah Salurkan Bantuan Sembako Untuk Korban Banjr Dan Longsor

Berita Terbaru

ARTIKEL

capaian Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tenggara

Rabu, 21 Jan 2026 - 14:11 WIB