GAYO LUES | Penyaluran bantuan logistik bagi korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terus berlangsung dalam skala besar dan kompleks sejak bencana melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Hingga Minggu, 28 Desember 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat bahwa total beras yang telah didistribusikan mencapai 179.161 kilogram atau setara 179,16 ton. Angka ini berasal dari rekapitulasi logistik keluar yang dihimpun dari Posko Bale Musara, pusat komando penanggulangan bencana di kabupaten tersebut.
Beras menjadi jenis bantuan dengan porsi terbesar dalam keseluruhan distribusi logistik, mengikuti putusnya jaringan distribusi pangan normal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang sejumlah kecamatan. Sebanyak 11 kecamatan terdampak menerima bantuan dengan volume yang disesuaikan kondisi kerusakan, jumlah penduduk terdampak, serta tingkat keterisolasian wilayah masing-masing. Distribusi dilakukan secara bertahap, menyusul masih adanya kendala cuaca ekstrem dan infrastruktur yang rusak.
Kecamatan Pining tercatat sebagai penerima bantuan beras terbesar dengan total alokasi mencapai 42.158 kilogram. Wilayah ini dilaporkan mengalami dampak paling signifikan dari bencana, dengan banyak kampung sempat terputus aksesnya setelah jalan dan jembatan penghubung rusak berat. Proses penyaluran logistik ke Pining umumnya dilakukan dalam beberapa tahap, didukung keberadaan alat berat dan pengangkutan manual oleh tim relawan dan petugas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain Pining, kecamatan lain dengan alokasi besar di antaranya Putri Betung sebanyak 27.306 kilogram, Pantan Cuaca 25.933 kilogram, Dabun Gelang 21.463 kilogram, Rikit Gaib 21.302 kilogram, dan Tripejaya sebesar 21.156 kilogram. Sementara itu, Kecamatan Blangkejeren, yang merupakan pusat pemerintahan dan relatif lebih mudah dijangkau, menerima 16.908 kilogram beras.
Di sisi lain, sejumlah kecamatan menerima volume bantuan beras yang lebih kecil. Blangjerango tercatat memperoleh 1.570 kilogram, Terangun 885 kilogram, Kutapanjang 305 kilogram, dan Blangpegayon hanya 175 kilogram. BPBD menyatakan bahwa perbedaan alokasi ini sepenuhnya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kondisi medan di masing-masing wilayah, bukan berdasarkan pertimbangan administratif atau kepentingan tertentu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gayo Lues, Mhd. Saleh, menyampaikan bahwa distribusi bantuan terus mengalami evaluasi harian. Ia menjelaskan bahwa tim distribusi masih menghadapi berbagai tantangan lapangan yang menyulitkan akses menuju wilayah terdampak, termasuk badan jalan yang tergerus aliran sungai dan jembatan yang belum berfungsi optimal. Beberapa titik distribusi hanya bisa dilalui dengan kendaraan khusus atau bahkan harus ditempuh secara manual oleh relawan.
Selain beras, bantuan logistik lainnya juga disalurkan, mencakup mie instan, minyak goreng, air mineral, gula pasir, lauk siap saji, serta bantuan paket sembako dari instansi pusat dan lembaga sosial. Peralatan kebersihan, pakaian layak pakai, tenda, selimut, serta layanan kesehatan dan suplai obat-obatan turut disalurkan kepada warga terdampak. Kegiatan distribusi melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk unsur TNI, Dinas Kesehatan, dan relawan kemanusiaan, yang berperan mengisi celah layanan dasar di tengah kondisi darurat.
Pembaruan data distribusi logistik dilakukan secara berkala oleh BPBD sebagai bagian dari tanggung jawab akuntabilitas publik. Data ini juga menjadi dasar pengambilan keputusan untuk masa tanggap darurat lanjutan dan perencanaan pemulihan jangka menengah. Pemerintah daerah melalui BPBD mengimbau masyarakat di seluruh wilayah Gayo Lues agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama mengingat wilayah kabupaten tersebut berada di kawasan perbukitan dengan risiko tinggi terhadap tanah longsor dan banjir susulan.
BPBD menekankan bahwa pemulihan tidak semata diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi dari kemampuannya menjangkau kelompok terdampak secara tepat sasaran, terutama di wilayah yang masih terisolasi. Keberlanjutan dukungan hingga pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga menjadi tujuan akhir dari seluruh proses penanggulangan bencana yang sedang berlangsung di Gayo Lues. (J.Porang)






































