Linge – Baranewsaceh.co | Di halaman kampung yang beberapa waktu lalu dilanda bencana hidrometeorologi, asap dari tungku-tungku besar perlahan membubung ke udara. Perempuan-perempuan berkebaya sederhana sibuk mengaduk kuali, sementara anak-anak berlarian di antara tenda dan rumah-rumah yang mulai dibenahi. Siang itu, suasana Desa Delung Sekinel dan Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, terasa berbeda lebih hangat, lebih hidup.
Kehangatan itu dihadirkan oleh Yayasan Masjid Nusantara yang menggelar kegiatan “Masak Besar” bersama masyarakat. Setelah sebelumnya membangun masjid darurat dan menyalurkan bantuan sembako ke Desa Reje Payung, yayasan ini kembali hadir, kali ini dengan pendekatan yang lebih membumi: makan bersama
.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Satu ekor kerbau disembelih. Dagingnya diolah menjadi beragam hidangan khas dataran tinggi Gayo. Sengeral Ala Gayo yang kaya rempah, Cecah Kukulit dengan cita rasa pedas gurih, hingga Sop Tulang yang menghangatkan tubuh. Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh ibu-ibu PKK dari kedua desa. Senin (16/2/2026)
Di bawah koordinasi Ema Susanti, relawan lapangan dari Yayasan Kayang Bangun Semesta, dapur kearifan lokal itu menjadi ruang temu yang sarat makna. Tangan-tangan yang sebelumnya sibuk membersihkan lumpur kini sibuk meracik bumbu. Percakapan tentang kehilangan perlahan berganti dengan tawa dan cerita masa depan.
Rasyidin, Wakil Ketua III Dewan Kesenian Aceh yang turut mendampingi kegiatan, menyebut masak besar ini sebagai bagian dari pemulihan sosial dan kultural.
“Ini bukan sekadar memasak dan makan bersama. Ini cara kita menghidupkan kembali semangat kolektif, merawat identitas, dan menguatkan mental warga pascabencana,” ujarnya.

Semarak kegiatan semakin terasa ketika anak-anak Delung Sekinel menampilkan Didong seni tutur khas Gayo yang sarat pesan moral. Tepukan ritmis dan syair yang mengalun menjadi penanda bahwa budaya tetap tumbuh meski bencana datang silih berganti. Sejumlah seniman lokal seperti R2 Produktion dan Najwa turut memeriahkan suasana, menghadirkan musik yang mengundang warga untuk berkumpul lebih dekat.
Ketua Tim Relawan Masjid Nusantara, Cucum Usman, berharap kegiatan sederhana ini mampu menyalakan kembali rasa percaya diri masyarakat.
“Dari dapur inilah kebersamaan dibangun. Kami ingin warga merasakan bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa mereka mampu bangkit bersama,” katanya.
Masak besar itu mungkin hanya berlangsung sehari. Namun di antara asap tungku, aroma rempah, dan lantunan Didong, tersimpan sesuatu yang lebih lama bertahan: harapan yang perlahan kembali menyala di jantung dataran tinggi Gayo. (Dani).





































